Kerusuhan Wamena Korban Tewas Mayoritas Pendatang | Malang POST

Rabu, 26 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Kerusuhan Wamena Korban Tewas Mayoritas Pendatang

Kamis, 26 Sep 2019,

WAMENA - Jumlah korban tewas dalam kerusuhan Wamena sudah bertambah menjadi 29 warga. Mayoritas yang tewas adalah warga pendatang. Bertambahnya korban ini diketahui usai pembersihan puing-puing kebakaran. Aparat gabungan kembali menemukan jenazah yang terjebak di dalam bangunan yang terbakar.
"Hingga hari ini sudah ditemukan 29 warga meninggal dunia dan 76 luka-luka," ujar Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal di Jayapura, Rabu (25/9/2019).
Kerusuhan di Wamena merusak 80 mobil, 30 sepeda motor, 150 unit rumah dan ruko, serta 5 perkantoran.
Diberitakan sebelumnya, unjuk rasa siswa di Kota Wamena, Papua, Senin (23/9/2019), berujung rusuh. Tetapi Kapolda Papua, Irjen Pol Rudolf A Rodja, menyebutkan bahwa insiden rasial di SMA PGRI adalah isu hoaks dan membantah kerusuhan ini akibat insiden rasial.
Ia menyebut keributan yang terjadi di Wamena karena tawuran antar pelajar.
"Pada Minggu lalu ada isu bahwa ada seorang guru mengeluarkan kata-kata rasis sehingga sebagai bentuk solidaritas melakukan aksi demonstrasi atau unjuk rasa pagi tadi," kata Rudolf di Abepura, Kota Jayapura, Papua, Senin (23/09).
"Guru tersebut sudah kita tanyakan dan dia katakan tidak pernah keluarkan kata-kata atau kalimat rasis, itu sudah kita pastikan," lanjutnya.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, mengatakan kepada wartawan bahwa situasi "sedang ditangani oleh aparat polri dan TNI untuk meredam dan mitigasi agar tidak meluas tindakan anarkis oleh massa."
Menurutnya, "saat ini masih dapat dikendalikan oleh aparat keamanan"
Terpisah, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut hingga Selasa (24/9) tercatat 26 masyarakat sipil dipastikan tewas akibat kerusuhan di Wamena. Mayoritas masyarakat pendatang. “22 orang adalah masyarakat pendatang,” ujar Tito dalam konferensi pers di kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Selasa (24/9).
Masyarakat pendatang yang menjadi korban kerusuhan ini, kata mantan Kapolda Papua itu, umumnya bekerja di Papua sebagai tukang ojek, pekerja ruko, karyawan retoran, dan lain sebagainya. Mereka tewas dengan luka bacok, tertembus panah dan kekerasan lainnya.
Untuk menjamin keamanan warga di Wamena, terutama warga pendatang, Tito telah menambah jumlah pasukan keamanan. Namun, dia tidak menyebutkan pasti angka penambahannya. “Masih banyak pendatang yang mengungsi di kantor kodim, kantor polres, di kantor aparat-aparat keamanan yang ada di sana. Sehingga kita berusaha menjamin dulu keamanan dengan memperkuat, mempertebal jumlah personel,” pungkasnya.(cni/bbc/ary)

Editor : bagus
Penulis : net

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi
Loading...