KerabaTani, Aplikasi untuk Petani | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 03 Nov 2019, dibaca : 540 , vandri, linda

TIGA mahasiswa UM, Ari Gunawan, Austin Fascal Iskandar dan Moh Hafidhuddin Karim membangun KerabaTani. Dimulai sejak tahun 2018 lalu, startup berbasis teknologi ini membantu petani meningkatkan produktivitas lahan.
   Baca juga : Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Brawijaya Ciptakan Startup Bahasa Bugis

 

Awalnya bersifat prototype. Kemudian ikut kompetisi pada tahun 2018 di empat negara, Malaysia, Singapura, Thailand dan Taiwan. Saat ikut kompetisi itulah mereka melakukan pengembangan aplikasi.
CEO KerabaTani, Ari Gunawan mengatakan, pada akhir tahun 2018 lalu teknologi yang dikembangkan itu memasuki tonggak pengembangan KerabaTani. Saat itu startup tersebut mendapatkan hak cipta resmi aplikasi dan pengajuan paten sensornya.
Awal tahun 2019, tiga mahasiswa UM itu mendapatkan dana pengembangan dari Kementerian Riset Teknologi dan Dikti. Bantuan itu melalui program calon perusahaan pemula berbasis teknologi dengan total dana Rp 220 juta.
Fokus mengembangkan KerabaTani tak berhenti sampai di situ. Pada Agustus 2019 lalu tim ini kembali memenangkan seleksi pada acara startup di Korea dengan total modal yang didapatkan sebesar 10.500 USD. Sekarang produk ini menuju versi ketiga pengembangan dengan teknologi yang semakin mudah digunakan.

   Baca juga : Menanamkan Pendidikan Karakter MelaluiPembelajaran Bahasa Jawa


KerabaTani merupakan aplikasi berbasis Trigonal Smart Management Agricultural System. Menghubungkan tiga elemen penting dalam dunia pertanian yakni petani, investor dan bussines partnership.  Yakni melalui empat langkah yaitu mapping, monitoring, investing dan marketplace.
“Saat ini kami sedang memfokuskan pada petani kentang, wortel, cabai, padi dan umbi-umbian,” jelasnya.
Mahasiswa program studi pendidikan, administrasi perkantoran FE UM ini  mengurai KerabaTani adalah sensor yang mendeteksi parameter kesuburan lahan. Di antaranya suhu, kelembaban, ph tanah, suhu udara, kelembaban udara dan intensitas cahaya. Saat alat tersebut mengukur kondisi lahan, datanya akan dikirim ke server cloud. Selanjutnya dikomparasikan melalui machine learning.
Lalu data rekomendasi kepada petani dikirim melalui aplikasi KerabaTani. Rekomendasi berisi tentang apa yang harus dilakukan petani untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Contohnya memaksimalkan nutrisi lahan dan tanaman.
Dikatakannya perputaran atau pendapatan KerabaTani saat ini masih mengandalkan penjualan sensor dan aplikasi. Satu sensor menjangkau lahan seluas 30-50 meter dengan harga Rp 2 juta. Namun disediakan pula paket per hektare, satu hektare membutuhkan lima sensor yang dijual dengan harga Rp 14 juta sudah termasuk aplikasi kerabatani.
Upaya pengembangan kerabatani masih terus dilakukan. Apalagi masih di bawah program pengembangan Kemenristekdikti. Rencananya dijual secara masal pada tahun 2020 mendatang. (lin/van)  



Minggu, 01 Des 2019

Kantong Darah Terinfeksi HIV/AIDS

Loading...