Kemarau Panjang, Siswa SMAIS Gelar Salat Istisqa | Malang Post

Kamis, 14 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Senin, 14 Okt 2019, dibaca : 237 , rosida, imam

MALANG - Siswa SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School memanjatkan doa agar turun hujan. Sabtu lalu, bersama para santri dan asatidz Ma’had Sabilillah, digelar Salat Istisqa’ di lapangan sekolah. Salat Sunnah untuk meminta turunnya hujan tersebut memiliki beberapa tujuan.
Pengasuh Ma’had Sabilillah, Ustadz Drs. M. Khoiron yang juga bertindak sebagai Khatib dalam pelaksanaan salat tersebut mengatakan, tujuan digelarnya salat Istisqa’ sebagai pembelajaran bagi siswa. Musim kemarau yang panjang menjadi sebuah momentum untuk mempraktikkan materi salat Istisqa’ yang dalam pelajaran fikih telah dipelajari siswa saat di kelas XI.
“Ini kesempatan bagi anak-anak, karena kita jarang mendapatkan kesempatan seperti ini kecuali terjadi kemarau yang panjang,” ujarnya.
Pelaksanaan salat istisqa’ belangsung dengan khidmat. Para siswa dan santri serta guru sebagai jamaah tampak begitu khusuk. Tentu saja karena ini lebih dari sekadar praktik salat. Tetapi salat istisqa’ yang sebenarnya. Salat yang dilaksanakan dengan penuh harapan dari seorang hamba kepada Tuhannya. “Kami lihat anak-anak begitu khusuk, harapannya semoga doa dikabulkan oleh Allah,” imbuhnya.
Sesuai dengan tuntunan Rasulullah, Salat Istisqa’ dilaksanakan di tanah lapang atau ruang terbuka. Dilaksanakan di pagi hari menjelang siang. Khoiron menjelaskan mekanisme pelaksanaan salat istisqa’ hampir mirip dengan salat ied.
Yakni dua rakaat terdiri dari tujuh takbir di rakaat pertama dan lima takbir di rakaat kedua. Perbedaannya ada di khutbah. Jika khutbah pertama salat ied diawali dengan takbir sebanyak sembilan kali dan tujuh kali takbir di khutbah kedua, di salat istisqa’ takbir diganti dengan bacaan istighfar dengan jumlah yang sama.
“Pada saat do’a, posisi khatib membelakangi jamaah. Jika khatib memakai surban, surbannya dibalik,” jelasnya.  
Adapun isi khutbah lebih kepada muhasabah diri. Tidak turunnya hujan dalam kurun waktu yang lama bisa jadi karena perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia. Dalam khutbahnya, khatib mengajak jamaah untuk bertaubat kepada Allah dan sekuat tenaga menghindari maksiat.
“Selain itu juga menjadi peringatan, akan kewajiban zakat dan sadaqah yang belum tertunaikan dengan sebaik-baiknya. Maka khatib juga mengingatkan hal itu kepada jamaah,” imbuhnya.
Adapun yang bertindak sebagai imam dalam salat istisqa’ yaitu ustadz Anwar Fattah S.Ag. M.Pd., dan sebagai bilal M. Firza Rousyan Fikri, salah satu siswa SMA Islam Sabilillah.
Waka Kesiswaan dan Humas SMAIS Agus Budiono, S. Pd menambahkan, pelaksaan salat istisqa’ tanpa simulasi. Dilaksanakan secara langsung dengan arahan terlebih dahulu dari guru.
“Ini praktik salat yang sebenarnya, dengan harapan semakin memperkuat pemahaman siswa akan materi yang telah mereka pelajari di kelas,” katanya.
Selain itu menurutnya, pelaksanaan salat istisqa sebagai bentuk perhatian SMA Islam Sabilillah terhadap kondisi lingkungan akibat kemarau yang panjang.
“Setidaknya kita membantu dengan doa agar hujan segara turun dan meringankan tugas para petani dan lain sebagainya,” tukasnya.
Menurutnya, kemarau panjang pada tahun ini cukup membuat masyarakat resah. Terutama mereka yang bekerja sebagai petani. Pekerjaan mereka yang tergantung pada curah hujan, menjadikan tahun ini kurang produktif. Belum turunnya hujan hingga saat ini, terutama di wilayah Kota Malang harus menjadi bahan introspeksi. Tidak hanya dalam sudut pandang inteltual, tetapi lebih kepada presepsi spiritual. Karena sebagai manusia, tidak hanya berkewajiban membangun hubungan yang baik kepada sesama, tetapi juga kepada Sang Pencipta. (imm/sir/oci)



Kamis, 14 Nov 2019

FAKTA Tahun 2015 BPJS Haram

Loading...