MalangPost | Karantina Lokal Dimulai, Pendatang Karantina Mandiri 14 Hari

Minggu, 07 Juni 2020

  Mengikuti :


Karantina Lokal Dimulai, Pendatang Karantina Mandiri 14 Hari

Selasa, 31 Mar 2020, Dibaca : 4419 Kali

MALANG - Karantina lokal mulai diberlakukan di wilayah Kabupaten Malang dan Kota Malang. Warga asal luar daerah, terutama dari zona merah (kawasan terpapar Covid-19) di wajibkan karantina mandiri 14 hari. Pekerja diminta bekerja dari rumah saja. Desa dan kelurahan di wilayah Kabupaten Malang pasang portal dijaga petugas kepolisian.

 

Pengetatan aktivitas warga dan akses masuk keluar wilayah itu diatur secara  tertulis Bupati Malang HM Sanusi dan Wali Kota Malang Sutiaji. Awalnya Bupati Sanusi membuat Surat Edaran (SE) pada Minggu (29/3). Sedangkan Wali Kota Sutiaji menerbitkan SE yang hampir sama pada Senin (30/3) .

Dalam SE Bupati Malang HM Sanusi mengingatkan pendatang yang masuk wilayah Kabupaten Malang wajib isolasi diri secara mandiri di rumah yang didatangi selama 14 hari. Mereka diminta tak boleh interaksi dengan siapapun selama karantina. Bahkan selama isolasi dilakukan, ada petugas yang memantau.

“Perangkat desa atau kelurahan akan memantau langsung warga yang menjalani isolasi mandiri. RT, RW dan Gugus Tugas Covid-19 yang dibentuk desa dan kelurahan juga memantau,” jelas Sanusi.

 

Dalam SE yang sudah diedarkan itu, Sanusi juga mengingatkan warga yang bekerja di luar Kabupaten Malang atau di daerah zona merah yang setiap hari pergi – pulang (PP) bekerja dari rumah saja. Atau menerapkan Work From Home (WFH).

 “Kami mengimbau seluruh warga yang bekerja untuk bekerja di rumah. Tapi itu juga tergantung perusahaan masing-masing. Karena memang masih ada perusahaan yang tidak menerapkan WFH,” ungkapnya.

 

Jika tetap bekerja di kantor, Sanusi mengimbau perusahaan menyediakan fasilitas, seperti penyemprotan tubuh dengan antiseptik, menyediakan hand sanitizer serta dan masker. “Untuk perusahaan-perusahaan di Kabupaten Malang imbauan itu sudah kami berikan,” jelas mantan Wabup Malang ini.

Dalam penanganan virus Corona,  Sanusi meminta semua kepala desa (kades) dan lurah membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Tugas lain kades dan lurah memantau warganya yang bekerja di luar daerah Kabupaten Malang atau di zona merah serta membuat portal di setiap batas desa.

 

Begitu juga dengan warga pendatang yang baru saja tiba wajib didata.  “Saat warga (pendatang) datang, petugas dari desa atau tim dari gugus tugas bersama tim dari Pusekesmas mendatangi lebih dulu warga tersebut. Lalu mendata sembari mengukur suhu tubuh lalu isolasi mandiri,” tambahnya.
Warga dipersilakan melapor kepada camat, kapolsek dan danramil jika ada oknum warga yang tak taat imbauan itu. Kebijakan yang sudah mulai diberlakukan itu menjadi perhatian serius.

“Ini merupakan bentuk physical distanching. Jika diterapkan, memudahkan kami untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid -19,’’ tambahnya.

 

Langkah antisipasi yang bersifat darurat pun sudah disiapkan. Di antaranya Stadion Kanjuruhan Kepanjen disiapkan untuk tempat karantina. Jika ada pendatang yang teridentifikasi Orang Dalam Risiko (ODR) maka dikarantina di Stadion Kanjuruhan.

“Jadi contohnya ini, ada pekerja migran, yang datang dari negara lain dengan sebaran Covid-19  yang banyak. Dia masuk dalam kategori ODR. Mereka wajib di karantina. Begitu juga pendatang dari luar kota, jika pernah berhubungan dengan warga yang terpapar Covid -19, juga akan dikarantina selama 14 hari,’’ ungkapnya. 

Selama karantina, ada petugas yang memantau. Yakni dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dan dari RSUD Kanjuruhan.  “Kalau pendatang itu jumlahnya banyak dan membeludak, kami menggunakan gedung Rusunawa ASN,” kata dia.

 

Desa Mulai Pasang Portal

Khusus desa yang diminta membuat portal,  menurut Sanusi bersifat  imbauan. Namun dia mengingatkan portal itu penting untuk pembatasan wilayah dan lalu lintas masyarakat. Teknisnya diserahkan kepada masing-masing desa.

Penutupan atau pembatasan akses dengan portal sudah mulai dilakukan sejumlah desa. Di antaranya di wilayah Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji. Yakni di Jalan Embong Turi  (Dusun Bunder), ditutup. Tidak ada kendaraan yang  keluar masuk di jalan yang menghubungkan Dusun Badut, Desa Karangduren, Pakisaji ini.

 

Kepala Seksi Pemerintahan Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, Nurkosim mengatakan penutupan jalan bersifat uji coba jalur tertib physical distancing. Nurkosim mengatakan, penutupan jalan untuk membatasi warga pendatang agar tidak melintas di jalan tersebut. “Bagi warga asli yang bermukim di jalan tersebut, menggunakan jalur alternatif,’’ katanya.

Penutupan jalan juga dilakukan di Jalan Hayamwuruk Gondanglegi dan Simpang Empat Sepanjang, Gondanglegi, Sabtu mendatang. Dua titik jalur ini juga ditetapkan sebagai jalur tertib physical distancing. 

 

Kota Malang Susul Kabupaten Malang

Bersamaan dengan aturan pengetatan pengawasan orang masuk dan keluar ini, Pemkot Malang menerbitkan SE yang isinya hampir sama dengan SE Bupati Malang, HM Sanusi. Dalam surat bernomor 338.973/35.73.133/2020 yang diedarkan tadi malam mengatur berbagai aktivitas warga.

Terdapat lima poin yang harus dilaksanakan di tingkat kecamatan dan kelurahan. Di antaranya warga yang melakukan kegiatan pulang dan kembali dari zona merah diwajibkan karantina 14 hari. Bila mengalami gejala demam, batuk, pilek, hingga gangguan pernapasan dan lainnya diminta memeriksakan kesehatan ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

 

Poin kedua menyebutkan warga yang bekerja di luar Kota Malang atau daerah zona merah yang setiap hari pergi-pulang diwajibkan memperhatikan protokol kesehatan. Ketiga Ketua RT dan RW agar melaporkan tamu yang datang dari luar kota pada lurah setempat.

Sedangkan lurah, RW dan RT agar selalu memantau warganya yang bekerja di luar daerah Kota Malang atau daerah zona merah. Jika ada yang melanggar maka dilaporkan ke camat atau pihak kepolisian. Imbauan lainnya, lurah, ketua RT, RW meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di luar rumah kecuali kepentingan mendesak.

 

Periksa Kesehatan Pengendara

Polres Batu perluas areal physical distancing dan bakal geledah kendaraan luar daerah yang akan masuk ke Kota Batu. Hal itu diungkapkan Kapolres Batu Harviadhi Agung Prathama SIK MSI usai rapat terbatas bersama Forkopimda di Balai Kota Among Tani, Senin (30/3) .

"Memperluas kawasan physical distancing, penggeledahan dan pengawasan kendaraan mobil dari luar daerah yang masuk ke Kota Batu," ujar Harvi kepada Malang Post.

 

Ia menerangkan untuk penambahan kawasan physical distancing meliputi areal Alun-Alun Kota Batu. Sebelumnya hanya meliputi Jalan Sultan Agung dan tiga kawasan perumahan yang ada di Kota Batu.

"Penumpang dan pengemudi kendaraan luar daerah yang masuk ke Kota Batu akan dilakukan pengecekan dengan thermal gun. Pengecekan dilakukan di jalan-jalan pintu masuk dan keluar Kota Batu," bebernya

Pada Selasa (31/3) hari ini, Polres dan ormas serta jajaran gabungan lainnya akan menggelar penyemprotan disinfektan di seluruh Kota Batu dengan mobil damkar dan juga drone. Lokasinya di Pasar Besar, alun-alun, Jalan Panglima Sudirman dan berbagai fasilitas umum lainnya. (ira/ica/eri/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Redaksi