Kapan Jamaah Salat Dipersilakan Membuat Shaf Baru?

Minggu, 20 Oktober 2019

Jumat, 20 Sep 2019, dibaca : 303 , udi, mp

Tidak diragukan lagi bahwa menyempurnakan shaf merupakan salah satu anjuran dalam melaksanakan salat berjamaah. Rasulullah dalam salah satu haditsnya pernah bersabda: “Sempurnakanlah barisan (salat jamaah), sesungguhnya aku dapat melihat kalian di belakang punggungku” (HR Muslim).
Terkait hadits di atas, Al-Munawi menjelaskan dalam kitabnya, Faid al-Qadir: “Sempurnakanlah shaf-shaf kalian wahai orang-orang yang salat. Sempurnakanlah shaf pertama dengan shaf yang mendekatinya. Maka tidak diperbolehkan melaksanakan (salat) di shaf kedua sampai sempurna shaf yang pertama. Dan tidak diperkenankan berdiri pada suatu barisan sampai ia menyempurnakan shaf sebelumnya. Jika masih menemukan tempat yang renggang pada shaf di depannya, maka orang yang menempati shaf di dekatnya harus menempati tempat yang renggang tersebut, sebab ia dianggap ceroboh karena tidak menempati shaf di depannya” (Al-Munawi, Faid al-Qadir, juz 1, hal. 189).
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa shaf dianggap sempurna ketika dalam barisan shaf sudah tidak ditemukan lagi celah yang dapat ditempati untuk salat, sebab jika masih ditemukan celah dan seseorang terburu-buru membuat barisan baru, maka ia dianggap ceroboh karena tidak menyempurnakan terlebih dahulu shaf yang ada di depannya.
Namun, ketentuan ini rupanya dibatasi selama seseorang menempati barisan di belakang shaf yang masih kosong bukan karena faktor udzur. Jika terdapat kendala yang menuntut seseorang tidak menempati shaf kosong di depannya, maka ia tidak termasuk menyalahi kesunnahan menyempurnakan shaf.
Misalnya shaf di depan terkena panas matahari atau terdapat tetesan air hujan, maka dalam keadaan demikian tidak makruh baginya menempati shaf yang ada di belakang. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj: “Jika para jamaah mengakhirkan shaf salatnya karena udzur, seperti melaksanakan salat pada musim panas di Masjidil Haram, maka hal demikian tidak dihukumi makruh dan tidak dianggap ceroboh. Sama halnya dengan alasan terkena air hujan atau hal-hal semacamnya. Ketidakmakruhan ini memastikan tidak hilangnya keutamaan shalat jamaah,” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 8, hal. 157)
Dalam himpunan fatwanya, Imam Ibnu Hajar juga menjelaskan bahwa hal-hal lain yang memperbolehkan seseorang untuk tidak menempati shaf yang ada di depannya adalah ketika terdapat hal-hal yang menyebabkan hilangnya khusyu’ atau berkurangnya kehusyu’an salat manakala menempati shaf tersebut. Jika demikian, justru lebih baik ia pilih adalah menempati shaf di belakangnya, sehingga tidak ada gangguan yang dapat mengurangi kekhusyu’an salatnya di shaf tersebut.
Berikut penjelasannya: “Ibnu Hajar ditanya tentang seseorang yang melaksanakan salat di shaf awal, tidak dapat melipat tubuhnya pada saat ruku’ dan sujud, atau ia akan mencium bau yang tidak sedap, atau ia akan melihat orang yang ia benci, atau ia akan melihat benda yang dapat mengganggu (pikirannya). Apakah dalam keadaan demikian menempati shaf kedua atau shaf yang lain ketika sepi dari hal-hal di atas dianggap lebih baik atau tidak?
Ibnu Hajar menjawab, ‘Berdasarkan tuntutan redaksi para ulama yang menjelaskan bahwa ‘menjaga keutamaan (fadhilah) yang berhubungan dengan pelaksanaan ibadah lebih utama daripada menjaga keutamaan yang berhubungan dengan tempat ibadah’. Redaksi tersebut memastikan bahwa shaf kedua atau shaf yang lain, ketika tidak terdapat hal-hal yang disebutkan dalam soal, maka dinilai lebih utama daripada menempati shaf awal. Hal ini sangatlah jelas selama hal-hal di atas akan menyebabkan hilangnya khusyu’ atau mengurangi kekhusyu’an dalam shalat” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 1, hal. 181)
Sedangkan jawaban dari pertanyaan kedua, secara tegas dijelaskan dalam kitab ‘Umdah al-Mufti wa al-Mustafti berikut ini: “Para ashab kami (murid Imam As-Syafi’i) menegaskan bahwa shaf awal adalah barisan yang mengiringi imam, meskipun panjang dan sampai keluar masjid. Shaf awal ini lebih utama dibandingkan menempati shaf kedua, meskipun dekat dengan imam” (Jamaluddin Muhammad bin ‘Abdurrahman al-Ahdal,‘Umdah al-Mufti wa al-Mustafti, juz 1, hal. 132).
Sehingga hal yang lebih diprioritaskan bagi para jamaah adalah menempati shaf awal meskipun berada di serambi masjid atau bahkan keluar dari bangunan masjid daripada menempati bagian dalam masjid meskipun lebih dekat dengan jarak imam salat. Wallahu a’lam. (nuo/udi)



Minggu, 20 Okt 2019

Kisah Foto Resmi Kenegaraan

Loading...