Kampus Harus Inklusif Terhadap Keberagaman - Malang Post

Rabu, 20 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Jumat, 18 Okt 2019, dibaca : 717 , rosida, mp

MALANG - Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  sepakat menumbuhkembangkan inklusi sosial dalam lingkungan pendidikan. Upaya melibatkan elemen Perguruan Tinggi tersebut diinisiasi oleh
Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (17/10) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Kampus III UMM bertujuan untuk melakukan publikasi dan diseminasi praktik baik yang sudah dilakukan Program Peduli. Selain itu, untuk menjalin dialog untuk memperluas diskursus dan memelihara iklim inklusi sosial dalam lingkungan kampus.
“Membuka dialog di lingkungan kampus terkait inklusi sosial adalah sesuatu yang harus dilakukan. Sebagai ruang pemikiran dan gagasan, kampus harus inklusif terhadap keberagaman, tidak ada lagi diskriminasi atas dasar perbedaan pendapat, pemikiran, agama, suku, jenis kelamin, disabilitas, dan lain lain,” tutur Ketua Pengurus Nasional PKBI Dr. Ichsan Malik.
Senada dengan hal tersebut, Dekan Fisip UMM Dr. Rinikso Kartono, M.Si mengatakan terkait dengan kampus ramah disabilitas, UMM berpedoman kepada Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 46 Tahun 2017 tentang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus di Perguruan Tinggi, pasal 4 menyatakan bahwa Pendidikan inklusi merupakan Pendidikan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus yang dilakukan bersama dengan mahasiswa lain. Selain itu, UMM terbuka terhadap keberagaman.
“Kami sepakat bahwa berbagai pihak harus dilibatkan dalam menciptakan lingkungan yang inklusif. Apalagi di lingkungan kampus, sebagai ruang pertukaran ilmu pengetahuan, segala bentuk kegiatannya harus menjunjung tinggi inklusi sosial. Berbagai praktik baik telah kami lakukan terkait ini,” tutur Rinikso.
Sebelumnya, Peduli Goes to Campus telah dilakukan di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada September 2018, Universitas Medan, Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Brawijaya Malang dengan mendapatkan apresiasi yang besar dari mahasiswa, dosen dan para partisipan lainnya.
Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd dalam sambutannya menerangkan, jika ia antusias dengan inklusifitas. UMM sendiri terus berkomitmen menyuarakan persatuan salah satunya melalui gelaran Festival Kebangsaan yang bertepatan pada tahun ini yang dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla.
“Inklusifitas menjadi hal yang sudah semestinya dijalani bukan diperdebatkan lagi,” terang Fauzan. Sayangnya, keadaan ini tidak selalu tercermin dari Indonesia. Padahal, lanjutnya, jargon Kita Indonesia hingga NKRI Harga Mati kurang benar-benar diterapkan dalam hidup berwarganegara. (oci)



Loading...