Kalah di Bumi Penjajah - Malang Post

Kamis, 21 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Senin, 02 Sep 2019, dibaca : 550 , Rosida, genzi

Kalian yang udah nonton film garapan sutradara Hanung Bramantyo ini, yakin deh ikut menitikkan air mata. Ceritanya yang sad ending, makin bikin merinding. Apalagi ketika dialog Minke dan Nyai Ontosoroh di akhir cerita.
“Kita Kalah, Ma....
“Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya......

Film yang diadaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini memang tak hanya bicara soal cinta Minke yang diperankan Iqbal Ramadan dan Annelis yang diperankan Mawar Eva de Jognh. Tapi gambaran beratnya hidup di bumi yang sedang dijajah begitu terlihat jelas. Mengocok emosi, melankolis, dan juga romantis. Tak heran, Bumi Manusia sudah ditonton hingga sekitar 1.113.810 tiket, berdasar rilis laman filmindonesia.or.id,  Minggu (1/9/19) malam. Film garapan Hanung Bramantyo tersebut juga masuk 10 besar dalam kategori terlaris di tahun 2019.
Kisah cinta antara Minke dan Annelis, tumbuh kembang diantara maraknya masalah sosial dan keadilan di masa penjajahan Belanda. Antara pribumi dengan para pendatang dari negeri Eropa. Tentu. Film bumi manusia ini tidak melulu tentang kisah romance saja. Pada film ini, terdapat berbagai momen yang menjadi titik balik bagi Minke. Untuk semakin sadar arti kebangsaan dan kemanusiaan, setelah melalui berbagai peristiwa yang mendebarkan.
Salah satu genzier asal SMAN 1 Malang, Talitha Surya Zabrina, mengaku senang setelah menonton yang berdurasi hampir tiga jam ini. Wah, lumayan lama juga ya? Pastikan dalam keadaan fit dan jangan lupa kencing terlebih dulu, biar nontonnya tidak terganggu hehe. Dirinya mengaku mendapat banyak pembelajaran dari berbagai adegan, serta adanya dialektika yang cukup menohok.
“Sebenernya ada banyak banget pesan yang dapat disampaikan. Akan tetapi, salah satunya yang menarik itu, tentang gimana keinginan orang pribumi yang waktu itu masih di bawah jajahan bangsa Eropa, bisa mendapat kedudukan yang sama. Jadi tidak ada diskriminasi, dan bisa hidup berdampingan walaupun banyak perbedaan,” terangnya dengan nada tinggi.
Menurutnya, Minke yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan sudah sangat cocok. Serta pembawaan Iqbaal yang sudah terkenal romantis dan berwibawa dalam berprinsip di berbagai film. Membuat kesan antara kisah percintaan dan perlawanannya bisa beriringan dengan baik.
“Bisa dilihat kalo si Iqbaal benar-benar mendalami peran, actingnya bagus dan totalitas dalam memainkan perannya,” tambahnya.
Ada juga ulasan dari genzier Annisa Dhiyah Erfira, dirinya menganggap bahwa film ini memiliki pesan untuk tetap tegar. Dalam menghadapi masalah yang pelik sekalipun.
“Secara garis besar, film ini berkutat tentang percintaan antara pribumi dan anak keturunan Belanda. Yang pada zaman itu gak mudah dan banyak masalahnya dalam menjalani hubungan. Nah, ditengah-ditengah masalah percintaan itu, mereka juga harus tetap bertahan atas ketidakadilan kolonial belanda terhadap bangsa Indonesia,” jelas gadis yang juga bersekolah di SMAN 1 Malang ini.
Bagi yang belum sempat menonton di bioskop nih. Coba sempetin nonton deh! Bahkan, salah satu aktivis demokrasi era Orde Baru, Budiman Sudjatmiko. Pernah mencuit dengan tulisan yang cukup menghentak khalayak loh. Begini bunyinya:
“Baru nonton preview Bumi Manusia. Jika perang saudara Amerika Serikat difilmkan dengan cantik lewat ‘Gone with the Wind’ dan revolusi Rusia difilmkan lewat ‘Dr Zhivago’, maka awal kesadaran kebangsaan Indonesia layak difilmkan lewat Bumi Manusia oleh Hanung Bramantyo,” cuit di akun twitter miliknya.
So tunggu apalagi. Mumpung masih ada beberapa bioskop yang memutar film karya sastrawan legendaaris tersebut. Usaha sineas Hanung Bramantyo mengadaptasi novel Bumi Manusia ke dalam bentuk visualisasi layar kaca, layak diacungi jempol. Hidup terus perfilman Indonesia! (*/oci)



Kamis, 21 Nov 2019

Serba Mandiri

Loading...