Kakak Beradik Berprestasi di Tinju - Malang Post

Sabtu, 23 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Sabtu, 14 Sep 2019, dibaca : 630 , parijon, kris

BATU - Isnu Randika Putra Ngabalin dan Rizky Satriya Sukma Putra Ngabalin merupakan kakak beradik asal Kota Batu yang saling berkompetisi dalam meraih prestasi. Baik tingkat provinsi, nasional hingga ajang internasional.
Mereka berdua berhasil menyematkan namanya dalam Pra PON yang akan digelar di Papua tahun 2020 mendatang. Keduanya berhasil mengalahkan ratusan atlet tinju di Jatim untuk bergabung dalam Pra PON mewakili Jatim.
Sebelum menghadapi PON Papua 2020, tentu ada banyak proses yang harus dijalani oleh dua atlet muda ini. Selain itu juga banyak cerita menarik yang dibaginya untuk menginspirasi atlet-atlet muda agar meraih prestasi.
Bahkan sebelum terjun sebagai atlet cabor tinju, Randy Ngabalin, nama panggilannya pernah menjadi pemain bola.
"Saya dulunya pemain bola mas. Dari kecil emang hobby bola. Bahkan bermain bola sampai kelas 3 SMP," ujar Randy mengawali ceritanya kepada Malang Post.
Namun, langkah untuk menjadi pesepakbola profesional harus terhenti. Karena ia melihat dan merasakan begitu sulit mengembangkan prestasi.
"Harus berhenti dari sepak bola dulu. Karena dalam sepak bola siapa yang punya uang dan kedekatan orang dalam yang akan diberangkatkan pertandingan," kenang laki-laki kelahiran Malang, 21 Desember 1994 ini.
Melihat hal tersebut, akhirnya ia merasa pesimis yang kemudian membawanya untuk mulai melirik olahraga individual. Pilihan tersebut diungkapnya karena menurutnya olahraga individu adalah dirinya sendiri yang bisa menentukan karier ke depan.
"Saat itulah saya memilih tinju. Apalagi tinju bukan hal yang asing di mata saya. Karena om saya, tiga orang petinju. Jadi sering nonton. Walaupun nyali ini kecil sebanernya," paparnya.
Tapi, lanjut dia, keikut sertaannya dalam olahraga tinju awalnya hanyalah iseng atau coba-coba. Namun tak disangkanya sampai saat ini mampu digelutinya.
"Ya memang orang bilang proses itu tidak muda. Karena saat memulai diawal saya mendapat ujian yang berat. Apalagi tiga kali pertandingan awal tidak pernah menang. Bahkan ada yang kalah KO," bebernya.
Dengan kekalahan itulah ia sebenarnya sudah mengurungkan niat untuk bertinju. Disamping dari pengurusnya juga meremehkan dirinya.
Namun cerita berubah menjelang Porprov 2011. Waktu itu ada seleksi dan dirinya coba memberanikan diri untuk ikut. Singkat cerita Randy lolos seleksi dan masuk dalam tim.
"Iseng-iseng berhadiah sih, cuma mau nunjukin ke teman-teman sekolah bahwa saya juga bisa. Karena semasa sekolah saya jadi bahan bullyan melihat postur saya yang kecil sekali," paparnya sambil tertawa.
Dari tekad untuk keluar dari bullyan itu membuat dirinya sampai saat ini menjadi seorang petinju profesional. Bahkan dirinya saat ini juga masuk Pelatnas SEA Games di Filipina bulan Desember 2019 ini.
Begitu juga dengan sang adik yang sebelumnya tidak ada passion untuk masuk dalam olahraga tinju. Singkat cerita Rizky Ngabalin sang adik ikut tinju karena sang kakak tak miliki lawan latihan dalam bertanding.
"Adik saya juga tak ada passion di tinju. Karena waktu itu saya susah cari lawan sparing dan harus latihan di Malang dengan rumah di Batu, jauh. Jadi saya ajak latihan adik saya sebagai lawan sparing," tutur peraih medali emas Kejurprov Jatim tahun 2013-2018 ini.
Lebih lanjut dia mengungkapkan jika motivasinya menjadi petinju berprestasi karena ingin beda dari yang lain. Artinya ia mampu mencari uang sendiri untuk membiayai sekolah SMA sampai sekarang. Bahkan ia tak pernah minta uang orang tua, untuk uang saku sekolah sekalipun.
Untuk meraih prestasi tersebut, tentu hari-harinya digunakan untuk berlatih. Dalam seminggu ia bisa 10 kali berlatih. Lima kali di pagi hari dan lima kali di sore hari.
Sementara untuk pengalaman paling berkesan, dikenangnya waktu Pra PON tahun 2015. Pada waktu itu dalam pertandingan hanya semifinalis yang berhak lolos ke PON 2016. Dan waktu pertandingan di babak delapan besar ia harus melawan Kaltim.
"Waktu itu saya terpukul jatuh di ronde pertama detik ke sepuluh. Pukulan yang sangat keras tepat didagu saya. Itu pertama kalinya dalam karier saya, saya terpukul jatuh," bebernya.
Ia ingat betul, seluruh tubuhnya terasa lemas, sudah tidak ada tenaga untuk berdiri. Tapi ia memikirkan orang tua dan orang-orang yang mendukung hingga ia melangkah jauh. Sampai akhirnya di hitungan ke delapan ia bisa berdiri.
Dengan semangat membara itu di ronde kedua ia membalikan keadaan. Lawannya berhasil ia jatuhkan. Walaupun bisa berdiri lagi.
"Tapi saya terus memasukan pukulan dan mengumpulkan angka. Sampai akhirnya saya dinyatakan menang angka dan lolos ke semifinal dan masuk di PON 2016," paparnya bangga.
Dengan kemenangan yang diraih tersebut ia merasa sedih, bangga, campur aduk. Bahkan dengan kemenangan itu dari atas ring sampai ruang ganti ia tak berhenti menangis dan bersyukur atas malam yang luar biasa mampu dilewatinya dengan perjuangan panjang.
Yang menarik lagi, Randy Ngabalin berhasil menghantarkan sang Adik Rizky Ngabalin mendapat medali emas dalam Porprov Jatim VI 2019. Dirinya saat Porprov dipercaya KONI Kota Batu sebagai pelatih adiknya. (eri/jon)



Jumat, 22 Nov 2019

Filosofi Busana

Loading...