MalangPost - Kabur Demi Nikahan Anak

Selasa, 11 Agustus 2020

  Mengikuti :

Kabur Demi Nikahan Anak

Rabu, 11 Des 2019, Dibaca : 2226 Kali

MALANG - Satu tersangka narkoba yang kabur dari tahanan sel Mapolresta Makota, ditembak kakinya Selasa dini hari, pukul 00.45 WIB. Andrian Fairi alias Ian, 46, warga Jalan Jodipan Wetan gang 1, Kelurahan Jodipan Kecamatan Blimbing, ditangkap polisi di sekitar rumahnya. Ia mengaku kabur karena ingin mendatangi pernikahan anak lelakinya.
Ian terpincang-pincang ketika dirilis oleh Kapolresta Makota, AKBP Leonardus Simarmata, Selasa siang di markas polisi Jalan JA Suprapto Klojen. Dalam keterangan pers di mako polisi, Leo, sapaan akrabnya menyebut bahwa Andrian alias Ian melarikan diri bersama tiga tahanan lain, Sokip Yulianto, Nur Cholis dan Bayu Prasetyo dengan cara melompati pagar utara Polresta.
“Mereka melompat ke tembok SMP Frateran, memanjat tembok pagar luar dan menyeberangi Jalan JA Suprapto,” ujar Leo kepada wartawan.
Mereka lalu berhenti di pertigaan Jalan Patimura dekat Paviliun RSSA Malang, untuk berpencar. Tiga tersangka kabur ke berbagai arah. Sementara, Andrian menghentikan seorang driver ojek online untuk minta diantarkan ke Jodipan Wetan. Setibanya di lokasi, Andrian langsung ngibrit dan tidak membayar uang ojek.
Dia mendatangi rumah adiknya inisial MK, 35, sembari menggedor pintu. Andrian lalu berkata bahwa dia melarikan diri, dan akan bersembunyi di langgar sekitar kampung tersebut. MK mengiyakan, dan memberitahukan hal ini kepada keluarganya. Ibu dan adik tersangka datang lagi pukul 05.30 untuk mengecek kondisi Andrian.
Lalu, adik perempuan Andrian, inisial AK, datang membawakan makanan dan handphone untuk tersangka. “Adik perempuan tersangka inilah yang membujuk Andrian untuk menyerahkan diri. Tapi, Andrian menolak karena ingin menghadiri pernikahan anak laki-lakinya,” kata Leo.
Akhirnya, setelah seharian bersembunyi di langgar, keberadaan Andrian sudah ketahuan oleh intel Polresta Makota dan tim khusus pemburu tahanan kabur. Selasa dini hari pukul 00.45 WIB, penggerebekan dilakukan. Namun, Andrian berupaya melawan petugas dengan cara berupaya meraih senjata petugas.
Tar! Timah panas bersarang di tumit kanannya. “Dilakukan tindakan tegas terukur, karena ada upaya perlawanan dari tersangka. Dia langsung digelandang ke RSSA Malang untuk mendapatkan perawatan luka tersebut, dan setelah kondisinya stabil, dibawa lagi ke Mapolresta,” tambah perwira polisi dengan pangkat dua melati emas di pundaknya ini.
Dengan merintih dan menahan rasa sakit, Andrian yang dirilis, menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Leo. Penyesalan terlihat jelas dari wajahnya. Kapolresta pun menanyai, siapa yang menginisiasi dan mengajaknya untuk melarikan diri. Andrian mengaku diajak oleh Sokip Yulianto.
“Saya diajak Sokip. Dia bilang kalau saya harusnya datang ke pernikahan anak saya. Nggak kepingin kabur ta. Saya diajak melarikan diri saat makan di ruang tahanan. Dia mengaku sudah siap gergaji. Dia sudah mulai menggergaji sejak hari Rabu pekan lalu,” ujar Ian yang dibopong oleh Provos Polresta Makota ketika dirilis.
Leo lalu bertanya, dari mana asal gergaji yang dipakai untuk melarikan diri. Menurut Andrian, gergaji itu datang dalam bentuk kamuflase kotak makan berisi roti. Gergaji disembunyikan di dasar kotak roti, lalu diserahkan saat pembesuk berpura-pura datang untuk menjenguk Sokip Yulianto.
Dengan kakinya yang sudah tertembak, Andrian memohon dengan sangat kepada tiga orang tahanan yang sedang buron, untuk menghentikan pelariannya. “Saya mohon buat teman-teman agar segera menyerahkan diri, sudah jangan diteruskan. Saya menyesal sudah melarikan diri,” katanya dengan wajah memelas penuh penyesalan.
Leo sendiri memarahi Andrian di hadapan awak media. Menurutnya, semua persoalan bisa dikomunikasikan, termasuk adanya pernikahan anak dari tersangka. Kepolisian tidak akan melarang, bahkan bisa memfasilitasi keinginan Andrian untuk menghadiri pernikahan anak tersangka pekan ini.
Leo menyebut, tim khusus yang memburu tiga tersangka kabur terdiri dari empat grup. Tim ini sudah menyebar ke lokasi kediaman keluarga para tersangka yang tersebar di Malang Kota dan Malang Kabupaten. Dia berjanji apabila para tahanan menyerahkan diri, tidak akan ditindak tegas terukur.
Tapi, jika masih membandel dan nekat terus melarikan diri dari kejaran petugas, maka Leo memberi ultimatum kepada para tersangka. “Jangan diteruskan, serahkan diri saja, jangan diperparah situasi ini. Tapi, kalau tidak menyerahkan diri, ya apa boleh buat, kami akan lakukan tindakan tegas,” tegas Leo memberi ultimatum.(fin)

Editor : Bagus
Penulis : Fino