MalangPost - Jejak Taman Kota Malang, Dulu Oengaran Park Kini Jalan Ungaran

Jumat, 10 Juli 2020

  Mengikuti :

Jejak Taman Kota Malang, Dulu Oengaran Park Kini Jalan Ungaran

Minggu, 17 Nov 2019, Dibaca : 7782 Kali

BANYAK taman di Kota Malang yang dibangun sejak zaman kolonial Belanda. Sejumlah taman bahkan masih bisa dinikmati hingga sekarang. Tapi terdapat pula beberapa  yang tinggal kenangan. Artinya dulu pada masa kolonial terkenal, tapi kini hanya jejak berupa cerita saja lantaran sudah berubah fungsi. Sebut saja salah satunya  Oengaran Park.
Awalnya taman kota bermunculan saat Kota Malang di era pemerintahan kolonial Belanda mengalami perluasan.  Yakni sekitar tahun 1914-1929. Ir. Herman Thomas Karsten saat itu merancang kota ini dalam berbagai  tahap perencanaan.
Masing-masing tahapan itu dinamakan sebagai Bowplan I sampai VII. “Tujuan utama dari perluasan itu sebagai upaya pengendalian tata  kota akibat dari pertambahan penduduk serta kemajuan ekonomi yang sangat cepat,” terang anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, Dwi Cahyono.

 Baca juga :

Gerbang Torri Hingga Taman Edelweis

Tersisa Merbaboe Park hingga Tjeremeplein
Bouwplan merupakan konsep city garden. Ini sebagai salah satu bentuk perhatian pemerintah masa itu terhadap dinamika kehigupan sosial, ekonomi dan pertumbuhan demografi kota yang terus meningkat. Terutama warga Eropa yang  menetap di Kota Malang.
Kemudian,  generasi baru berkebangsaan Belanda ingin mengubah wajah kota mirip dengan negeri asal mereka. Untuk itu, Karsten dalam merancang dan menata Kota Malang membangun banyak taman kota.
Konsep bentuk taman terdiri dari plein (bundaran) dan park (taman). Dalam masa itu, tak kurang dari 11 taman yang dibangun. Di antaranya Coenplein Stoollpark, Tjeremeeplein, Smeroepark (Beatrixpark), Slametpark, Oengaranpark, Merbaboepark, Idjenplein, Gajamplein, Edward Soesmanpark dan Bandaplein.
“Taman-taman itu sebagian besar berada di kawasan Bergenbuurt atau kawasan rumpun jalan gunung-gunung. Sedangkan sisanya berada di kawasan Eilandenbuurt, kawasan rumpun jalan pulau dan kawasan rumpun jalan buah-buahan,” kata Dwi yang juga Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang ini.
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, saat ini ada beberapa taman yang sudah tak lagi ditemukan. Salah satunya  Oengaran Park. Saat ini sudah menjadi kawasan permukiman dan dinamakan Jalan Ungaran.
Kini dalam kawasan tersebut, terdapat keterangan bahwa kawasan itu dulunya adalah taman. “Seiring berkembangnya zaman dan bertambahnya jumlah penduduk, taman itu menjadi kawasan permukiman,” ujar dia.
Selain itu, Smeroe Park juga ikut hilang. Mulanya, kawasan itu adalah taman olahraga atau stadion yang dibangun pada awal abad ke 19. Pada masa itu, penduduk Belanda sudah mulai banyak yang menetap di Kota Malang. Setelah berkembang, di taman itu bertambah fasilitas kolam renang. “Kemudian, Smeroepark berganti nama menjadi Beatrixpark,” jelas dia.
Namun ketika Jepang masuk Kota Malang, nama taman ini  berubah menjadi Tanaka Park. Pada masa kemerdekaan RI taman tersebut merubah kembali namanya menjadi Taman Indrakilo. “Pada pertengahan tahun 1960-an, pemerintah kotapraja berencana mengubah fungsi taman itu menjadi taman hiburan dengan menambahkan fasilitas penunjang,” terang Dwi.
Beberapa tahun kemudian, diketahui bahwa air yang ada pada kolam itu diketahui tiba-tiba mengering. Akhirnya, pemerintah kota kembali mengubah fungsi taman itu sebagai pusat expo dan pameran. “Sampai beberapa kali berganti wali kota, akhirnya ada satu kebijakan yang memaksa beberapa gedung atau tempat yang perlu dipertimbangkan perombakannya, termasuk taman ini,” lanjut dia.
Akhirnya kisah ditukar bangun menjadi perumahan dengan kompensasi dibangun beberapa taman di Kota Malang. “Akhirnya, taman ini berubah menjadi Perumahan Wilis Indah yang berada tepat di belakang Museum Brawijaya Malang,” tandas pemilik Yayasan Inggil ini.(tea/van)

Editor : Vandri
Penulis : amanda