Janin Dibekap sampai Tewas di Kos Jalan Jakarta - Malang Post

Sabtu, 23 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 15 Okt 2019, dibaca : 570 , halim, fino

MALANG – Kisah aborsi yang dilakukan oleh Adis, 20, warga Bedali Kecamatan Lawang dibeber oleh Kapolres Makota AKBP Dony Alexander saat merilis sindikat peredaran obat aborsi. Senin siang, Dony menyebut bahwa tindakan aborsi yang dilakukan oleh tersangka, diawali dari bisikan temannya, Belay, 20, warga Arjosari Kecamatan Blimbing.
“Inisial A hamil tujuh bulan. Karena saran dari inisial B, akhirnya beli obat dari tersangka utama peredaran obat aborsi. Dia pesan obat sebanyak 11 butir, dua dikonsumsi oleh B, sisanya dikonsumsi oleh A. Setelah obat di tangan A, dia hubungi B, tanya cara pakai,” ungkap Dony.
Belay, lalu memberi saran kepada Adis, agar meminum sebanyak lima butir untuk termin pertama sembari menunggu dua hari. Tapi, lima butir obat penggugur kandungan ini tak memberi efek. Belay kembali menyuruh Adis untuk meminum dua butir, lalu memasukkan sisa obat ke dalam vaginanya.
“Begitu obat dimasukkan ke dalam kemaluannya, janin ini keluar. Dia menggunakan gunting, ari-ari dipotong. Saat itu, bayi masih hidup, lalu dibekap dengan kain sampai meninggal dunia. Inisial A, menghubungi B, untuk minta saran, diapakan bayi ini,” cerita polisi berpangkat dua melati emas di pundaknya ini.
Semua tindakan aborsi ini, dilakukan oleh Adis di sebuah rumah kos Jalan Jakarta Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang pada Maret 2019 lalu. Setelah bayi ini meninggal, Belay dan Adis membungkus dan membawanya ke sebuah perkebunan di sekitar pacuan kuda Prigen, Kabupaten Pasuruan untuk dikubur. “Inisial A, diantar oleh pacarnya, yang sampai saat ini masih dalam status saksi. Masih kami gali keterangan soal ini,” tambah Dony.
Satreskrim menggelandang tersangka ke kawasan tersebut untuk menggali jenazah bayi ini. Polisi berhasil menemukan tulang belulang, yang diidentifikasi lewat tes DNA di rumah sakit. Sisa-sisa tulang ini dipastikan adalah darah daging tersangka Adis. Kepada Dony, Tirta, pelaku penjual obat aborsi, mengaku mendapatkan keuntungan Rp 50 ribu tiap butir pil penggugur kandungan. Dia menjual satu butir seharga Rp 100 ribu. Dia mengaku sudah melakukan peredaran dan penyalahgunaan obat untuk gugur kandungan sejak akhir 2018.
“Mulai 2018 akhir. Saya jualnya dari teman ke teman. Iya, ini buat aborsi dan gugurkan kandungan. Saya dapat keuntungan Rp 50 ribu,” kata Tirta saat diinterogasi oleh Dony di hadapan wartawan. Dony menambahkan, tersangka Tirta, setidaknya sudah 10 kali mengedarkan obat yang disalahgunakan untuk aborsi.
Menuruntya, obat-obat ini dijual di apotek, tapi harus dengan resep dokter dan tidak bisa dibeli secara bebas. “Kami masih akan melacak lagi, para pelaku yang membeli obat secara ilegal ini. Kami tidak akan berhenti sampai di sini. Kami harap dukungan masyarakat, apabila mendengar atau mengetahui adanya penyalahgunaan obat untuk penggugur kandungan,” tutup Dony.(fin/lim)



Loading...