MalangPost - Jangan Ambil Risiko Keselamatan Anak

Kamis, 09 Juli 2020

  Mengikuti :

Jangan Ambil Risiko Keselamatan Anak

Sabtu, 06 Jun 2020, Dibaca : 3411 Kali

MALANG – Keputusan pemerintah untuk memulai tahun ajaran baru sekolah pada pertengahan Juli mendatang, menuai pro kontra di tengah masyarakat. Pasalnya, saat ini masih masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang belum diketahui kapan akan berakhirnya. Banyak orang tua yang tidak sepakat jika sekolah harus memaksakan masuk sekolah tatap muka di tengah pandemi Covid-19.

   Baca juga : Orang Tua Aktif Kunci Sukses Belajar Daring


Anak menjadi salah satu yang berisiko tinggi terpapar Covid-19. Kesadaran anak-anak untuk menjalankan protokol kesehatan pun bisa tidak displin. Dikhawatirkan mereka rentan terpapar virus corona, saat kembali ke sekolah. Terkait kesiapan penerapan New Normal di lingkungan pendidikan, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Ramliyanto, SP., MP., mengungkapkan, Dindik Jatim telah menyusun skenario yang saat ini masih berupa draf. Skenario tersebut akan segara digulirkan kepada sekolah di Jawa Timur pada saat tahun ajaran baru dimulai.

   Baca juga : Covid-19 Percepat Digitalisasi Pendidikan


Namun kata dia, Skenario tersebut tidak serta merta diterapkan untuk siswa. Rencana siswa kembali ke sekolah masih belum ada keputusan resmi. Meski sistem New Normal telah diterapkan, bukan berarti juga langsung digulirkan untuk siswa kembali ke sekolah.
“Karena ini berkaitan dengan keselamatan anak-anak, jadi kita jangan mengambil risiko,” kata Ramliyanto dalam webinar yang digelar Malang Post, dengan tema persiapan pendidikan menghadapi New Normal.


Dijelaskannya, sekalipun pada saatnya nanti  siswa kembali belajar di sekolah, harus melalui beberapa tahapan yang tidak sederhana, khususnya yang terkait protokol kesehatan yang harus dilakukan. Ramli memaparkan, hasil skenario yang nantinya diterapkan di lingkungan sekolah menghadapi era New Normal merupakan hasil koordinasi dengan beberapa ahli dari tim kesehatan dan Satgas Covid-19.
Persiapan kali pertama, skrining kesehatan bagi guru, siswa, dan tenaga kependidikan. Kedua skrining zona lokasi tempat tinggal seluruh warga sekolah. “Kedua syarat ini menurut kami sangat berat, untuk jutaan siswa di Jawa Timur. Bahkan dalam prosedurnya harus ada rapid test atau bahkan swab tes untuk semuanya, tentu biayanya mahal kami tidak bisa membayangkan anggaran yang harus disiapkan,” ujarnya.


Selanjutnya, kata Ramli ada beberapa tahapan berupa penyiapan sarana dan prasarana sekolah sesuai standar protokol kesehatan, pengaturan siswa belajar di sekolah dan di rumah secara bergantian, pengaturan jarak serta koordinasi intensif dengan fasilitas kesehatan terdekat.
“Tambahannya ini pun juga tidak mudah. Untuk mengatur siswa bergantian belajar di sekolah juga tidak efektif bagi sekolah yang siswanya banyak,” jelasnya.


Selain itu, yang juga masuk dalam skenario yang disusun Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dalam menghadapi e New Normal, yakni diterapkannya beberapa protokoler kesehatan, antara lain protokol kesehatan berangkat ke sekolah, protokol kesehatan selama di sekolah untuk guru dan tendik, protokol kesehatan selama di sekolah untuk siswa, dan protokol kesehatan pulang dari sekolah.
“Semuanya diatur dari perjalanan dari rumah ke sekolah, aktivitas di sekolah, hingga perjalanan pulang,” tuturnya.   


Terkait beratnya prosedur yang harus dipenuhi warga sekolah di era New Normal, maka Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur tidak mau gegabah untuk segera mengembalikan siswa ke sekolah. Meskipun dari beberapa kalangan mendesak untuk itu.    
Ramli menegaskan bahwa pemerintah Provinsi Jawa Timur telah mengambil kebijakan untuk memperpanjangan masa belajar siswa dari rumah, dengan beberapa pertimbangan.


Diantaranya belum adanya penurunan angka yang signifikan terkait pasien Covid-19. Seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur masih zona merah. Dengan diperpanjangnya masa belajar siswa artinya Pemerintah Provinsi Jatim memberikan waktu dan kesempatan yang lebih panjang kepada sekolah untuk mempersiapkan pelaksanaan protokol kesehatan.
“Karena kemampuan dan fasilitas sekolah itu berbeda-beda. Maka kami berikan waktu.  Dan bagi orang tua, guru dan siswa, juga punya kesempatan untuk melakukan isolasi mandiri sebelum masuk sekolah. Sehingga saat masuk sekolah kondisi semuanya dalam keadaan sehat,” jelasnya.


Ia berharap meskipun siswa belajar di rumah, Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) tetap tercover dengan optimal. Peran serta kerjasama dan kolaborasi antara guru dan orang tua sangat menentukan keberhasilan siswa. “Kami selalu berdoa, meskipun siswa belajar di rumah tidak sampai mengalami degradasi akhlak. Demi perbaikan sistem ini semua kami tetap butuh saran dan masukan. Supaya kita benar-benar siap masuk ke Era New Normal,” harapnya.


Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Totok Kasianto menegaskan, jika kegiatan belajar mengajar dilaksanakan sesuai dengan kalender akademik pada tanggal 13 Juli, maka akan dilakukan beberapa langkah. Namun apabila tidak memungkinkan pihaknya tidak akan mengambil risiko dan melaksanakan pembelajaran secara daring.
“Ada empat langkah yakni melakukan pemetaan sekolah mana yang sudah memenuhi instrument atau persyaratan, melibatkan orang tua dalam menyiapkan belajar offline, mempersiapkan sarana dan prasarana dan segera sosialisasi sebagai pedoman tenaga pendidikan,” kata Totok.


Totok melanjutkan, saat ini tidak akan berandai-andai sebab Covid-19 adalah masalah kesehatan. Meskipun tersedia sarana dan prasarana namun yang dihadapi siswa SD dan SMP maka diperlukan pemantauan optimal. Belum tentu ketika diminta jaga jarak mereka melakukan, sebab yang dihadapi adalah anak-anak.
“Untuk itu diperlukan peran guru pertama yang merupakan orang tua dan guru kedua di sekolah, harus ada komunikasi keduanya disamping ada peran komite yang juga harus dilibatkan,” tandasnya. (imm/lin/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : Redaksi