Jamaah Tharekat Naqsyabandiyah Mempunyai Rutinan di Pesantren | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Senin, 28 Okt 2019, dibaca : 9720 , udi, agung

KH. Qosim Bukhori, tidak hanya dikenal sebagai ulama yang sabar dan rendah hati. Pendiri Ponpes Raudlatul Ulum II, Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi ini, juga dikenal sebagai Mursyid (guru) Tharekat Naqsyabandiyah.
KH Qosim Bukhori lahir pada tahun 1942 di Desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi. KH. Qosim lahir dan dibesarkan di kalangan keluarga pesantren yang taat dalam menjalankan ajaran Islam. Putra dari KH. Bukhori Ismail itu merupakan mursyid Thoriqoh Naqsabandiyah.

   Baca juga : Sempat Ditolak Warga, Kini Berdiri Megah
Semasa kecil, dididik dasar-dasar ilmu agama, terutama pelajaran membaca Alqur’an dan tajwidnya serta ilmu tatakrama dalam kehidupan.
Pada tahun 1950, KH. Qosim belajar di madrasah Miftahussyibyan yang berada di dekat rumahnya sendiri. Madrasah yang  kemudian hari berganti nama menjadi madrasah Raudlatul Ulum itu, didirikan KH Bukhori Ismail, KH Yahya Syabrawi serta KH. As'ad.
Gelar Mursyid Tharekat Naqsyabandiyah tersebut, meneruskan jejak ayahnya KH. Bukhori Ismail, yang sebelumnya juga seorang Mursyid Tharekat Naqsyabandiyah. Sejak meninggalnya KH. Qosim, akhirnya saat ini diteruskan putranya, yakni KH. Yuzqi Qosim Bukhori.

   Baca juga : Pesantren Juga Bekali Santri Ilmu Berwirausaha
Tharekat Naqsyabandiyah, merupakan majelis dzikir yang menjadi keunggulan di Ponpes Raudlatul Ulum II. Jamaah Tharekat Naqsyabandiyah ini, berjumlah puluhan ribu. Tidak hanya dari Malang Raya, tetapi juga tersebar dibeberapa pulau, seperti Kalimantan, Sumatera serta di Pulau Jawa.
"Tharekat Naqsyabandiyah adalah majelis dzikir untuk meningkatkan Istiqomah seseorang dalam berdoa dan menjalani hidup. Mursyid Tharekat Naqsyabandiyah, membimbing jamaah untuk berdzikir supaya Istiqomah," jelas KH. Hamim Kholili, Pengasuh Ponpes Raudlatul Ulum II, yang juga menantu KH. Qosim Bukhori.
Kegiatan Tharekat, dilakukan rutin setiap bulan sesuai jadwal. Kegiatan itu dilakukan dari satu tempat ke tempat lainnya. Biasanya, Mursyid Tharekat yang mendatangi tempat tertentu, kemudian bersama-sama jamaah di tempat tersebut melakukan dzikir bersama. "Kegiatan Tharekat ini, juga wajib kami berikan kepada para santri setiap sepekan sekali. Harapannya supaya santri juga Istiqomah dalam berdoa sekaligus menuntut ilmu agama," terangnya.
Sedangkan untuk kegiatan Tharekat Naqsyabandiyah yang terpusat di Ponpes Raudlatul Ulum II, dilaksanakan setiap tanggal 1 sampai 3 Rajab. Puluhan ribu jamaah dari beberapa daerah dan pulau, selalu hadir.
Selama tiga hari tersebut, para jamaah selain berdzikir, juga dianjurkan berpuasa. Mereka biasanya menginap di ruang sekolah. Makan buka puasa dan sahur pun, juga sudah disiapkan oleh Ponpes."Manfaat Tharekat Naqsyabandiyah ini untuk melatih diri bagaimana berdzikir dengan baik dan benar. Selain itu, supaya doa yang dipanjatkan cepat sampai kepada Allah SWT. Dan, Tharekat Naqsyabandiyah ini adalah murni mendekatkan diri kepada Allah SWT, supaya mendapat kemudahan dalam menjalani hidup di dunia dan akherat," paparnya. (agp/udi)



Loading...