Jalibar Lewat Dau Sudah Ada di Perda, Paling Mudah Direalisasikan

Jumat, 18 Oktober 2019

Rabu, 02 Okt 2019, dibaca : 1101 , bagus, ira

Jalan Lingkar Barat yang memakai Jalan Lokal Primer dari Kasembon-Ngantang-Pujon-Dau-Wagir-Ngajum-Kepanjen, adalah usulan paling mudah direalisasikan. Sebab sebagai sebuah rencana pembangunan, Jalibar ini sudah ada dalam Perda Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW). Hal itu ditegaskan oleh Urban Planner, Hery Setiawan Purnawali, ST, MT, IAP yang menjadi peserta diskusi ‘Menembus Kepanjen dari Malang Barat’ pada Jumat (27/9).

”Pembangunan itu diawali dari perencanaan. Dan perencanaan itu basisnya adalah regulasi yaitu Perda RT/RW. Nah untuk Jalan Lingkar Barat ini sudah tertuang dalam Perda no 3 tahun 2010 tentang RTRW,’’ tegas Hery.

Di mana dalam Perda tersebut, sudah tertuang rencana pengembangan jalan lokal primer di Kabupaten Malang. Meliputi jaringan jalan yang menghubungkan antara Kepanjen, Ngajum, Wagir, Dau, Pujon, Ngantang, Kasembon.
”Jalan ini dikenal dengan jalan lingkar barat dengan fungsi utama untuk mengurangi kepadatan lalu lintas antara Malang-Kepanjen,’’ tegas Hery.
Selain itu juga ada jaringan jalan antar Karangploso-Kota Batu yaitu dari Pendem menuju Songgoriti.
”Ada juga pengembangan jalan lokal primer dengan jaringan jalan yang melewati Desa Sidorahayu di Kecamatan Wagir, Desa Petungsewu di Kecamatan Dau  dan Kota Malang,’’ kata Hery.
Dan terakhir adalah jaringan lokal primer ini menghubungkan Ngajum-Gunung Kawi.
 ”Rencana pengembangan jalan lokal primer ini sebagai jalan tembus antar wilayah Kabupaten/Kota. Baik itu Kabupaten Malang dengan Kabupaten Blitar di bagian barat yakni dari Ngantang-Wlingi (Kabupaten Blitar) dan Kromengan ke Nglegok (Kabupaten Blitar)
Terkait data tersebut dihubungkan dengan Jalan Lingkar Barat. Keberadaan Jalan Lingkar Barat memang memberikan peluang kemudahan bagi masyarakat. Tapi harus dilakukan kajian sangat mendalam.

”Kalau membuka jalan baru yang melintas di Gunung Kawi. Di peta yang terlihat jelas, di pola ruangnya sudah sangat minim. Kalaupun ada itu berada di puncak, dengan tingkat kemiringannya yang sangat miring,’’ ungkapnya.
Sehingga Jalibar yang sangat memungkinkan, apalagi di area tersebut sudah banyak jalan-jalan yang sudah ada, sehingga dapat dimanfaatkan. Sayang jika malah membuka jalur baru menembus Kepanjen.
Bukan itu saja, Heri juga menyebutkan, untuk Jalan Lingkar Barat sendiri tidak akan lepas dari wilayah lain, seperti Kota Batu dan Kota Malang. Apalagi jalan yang tersedia saat ini melewati dua wilayah tersebut.
“Jika membuka jalur baru melewati Gunung Kawi ini yang harus dilakukan pengkajian mendalam. Dan kondisi tanah juga harus dipertimbangkan dengan matang,’’ tambah Hery.
Dia menyebutkan, jika pembangunan jalur baru itu dilakukan maka biaya pembangunannya pun akan jauh lebih mahal.
”Kami memang belum pernah menkaji masalah biayanya. Tapi dengan karakter dan struktur tanah yang gembur, dan berada di wilayah puncak, maka pembangunan jalur baru pun dipastikan biayanya akan sangat mahal, berkali lipat dibandingkan dengan jalur biasa,’’ ungkapnya.
Hery juga menjelaskan, sejauh ini warga Kasembon dan Ngantang ke Kepanjen memilih lewat Kecamatan Dau atau melalui jalur Blitar. Selain jalurnya sudah ada, juga lebih aman.
”Karena sekarang jalurnya sudah ada, lebih baik fasilitasnya saja di tingkatkan. Seperti di jalur Blitar, itu juga wilayah lain. Jalurnya sudah ada, lebih baik pemerintah melengkapi fasilitasnya, atau meningkatkan jalannya. Sehingga kendaraan yang melintas pun lebih aman dan nyaman,’’ urainya.
Dia juga mengatakan, wacana Jalan Lingkar Barat melewati lereng Gunung Kawi ini muncul diawali untuk mengatasi kemacetan.
”Tapi yang perlu dipertimbangkan juga adalah faktor keamanan, dan kajian lainnya. Jangan sampai dibangun jalan baru justru kemudian menambah kemacetan,’’ tandasnya.
Sementara itu Analis Pengukur ATR/BPN Kabupaten Malang, Moh Syafi’i untuk pembukaan jalur baru ini harus ada kajian mendalam. Tapi demikian, untuk kajian itu harus tepat arahnya. Sehingga pembangunan nanti dapat berjalan sesuai rencana.
Dalam kajian tersebut, yang perlu ditekankan adalah faktor kebutuhan. Pembangunan itu untuk apa? Apakah pembangunan itu sangat urgent, apakah pembangunan itu untuk mendukung pariwisata,? Atau hanya sebagai penghubung wilayah Kabupaten Malang yang sangat luas ini, yaitu dengan luas wilayah 3.535 kilometer?
”Mungkin atau tidak mungkin diperlukan uji petik. Agar diskusi ini tidak sekadar rencana, maka bisa dilanjutkan dengan pembentukan tim, untuk kemudian melakukan uji petik ke lapangan. Sehingga dapat diketahui jelas, apakah jalan yang masuk dalam rencana diskusi ini memungkinkan untuk dibuka jalur baru,’’ terangnya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Malang Post menggelar diskusi. Mengusung tema Menembus Kepanjen dari Malang Barat. Diskusi digelar di Graha Malang Post, Ruko WOW, Jalan Sawojajar, Cluster Apple 1-9, Malang, Jumat (27/9). Diskusi ini diikuti oleh Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Brawijaya, Ir. Achmad Wicaksono M.Eng, Ph.D,  Camat Dau, Eko Margianto.
Kepala Seksi Produksi dan Materil Topdam V/Brawijaya, Mayor CTP Sapta Saputra, dan Urban Planner Hery Setiawan Purnawali, Kepala Seksi Managemen Lalulintas, Dinas Perhubungan Kabupaten Malang, Puguh Saksomo, Kepala Sub Seksi Komunikasi Perusahaan Perhutani KPH Malang Supriyanto dan Analis Pengukur ATR/BPN Kabupaten Malang Moh Syafi’i.
 Diskusi dipimpin langsung oleh Pemred Malang Post Dewi Yuhana, dan diikuti oleh sejumlah redaktur, wartawan dan fotografer. Dalam diskusi tersebut, beragam usulan muncul. Mulai dari pembuatan jalan tembus melintas Gunung Kawi. Ada juga yang usul melebarkan jalan melewati Kabupaten Blitar dengan akses lebih cepat.
Serta tetap melintas di jalur arteri melewati Kota Batu dan Kota Malang dengan memanfaatkan jalan tikus. Hingga ada usulan melintas di jalur arteri dan memanfaatkan jalan tol menuju Kepanjen. Yang paling serius tentu merealisasikan rencana pembangunan Jalan Lingkar Barat menggunakan Jalan Lokal Primer Kepanjen – Ngajum – Wagir – Dau – Pujon – Ngantang – Kasembon. Guna mendukung Jalan Lingkar Barat maka harus ada pelebaran jalan di Dau– Kepanjen yang saat ini menjadi jalur alternatif.(ira/ary)



Loading...

  Follow Us