Jadi Ketua ICMI Pertama di Universitas Brawijaya | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Rabu, 11 Sep 2019, dibaca : 1353 , bagus, asa

BJ Habibie adalah Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pertama. Siapa sangka, beliau dikukuhkan sebagai ketua di Universitas Brawijaya. Bersedia jadi ketua setelah dilobi sejumlah mahasiswa UB. Malang Post mendapat kisah ini langsung dari alumni UB yang ikut melobi langsung Presiden ke 3 RI itu.
Adalah M. Zaenuri, yang menceritakan bagaimana sosok BJ. Habibie ketika itu menjadi tokoh terkuat dan paling tepat sebagai Ketua ICMI pertama. Idenya dicetuskan oleh lima mahasiswa teknik Universitas Brawijaya (UB) pada akhir tahun 1990 silam. Saat itu, Zaenuri merupakan mahasiswa Teknik Mesin semester 7.
"Kita mencari cendekiawan muslim yang disegani. Ketika itu kita seleksi, sempat ada beberapa tokoh lain yang menjadi kandidat. Mulai dari Nurcholis Majid, Amin Rais, hingga Kang Imad (KH. Imanuddin, red)," pungkas M. Zaenuri ketika dihubungi oleh Malang Post.
Gagasan ICMI sendiri awalnya muncul dari sebuah diskusi kecil di Masjid UB. Oleh lima mahasiswa teknik UB yakni Erik Salman (Alm), Ali Mundakir, M. Zaenuri, M.Iqbal, dan Awang Surya. Mereka resah akan adanya fakta bahwa cendekiawan muslim di Indonesia masih terkotak-kotakkan dengan beragam organisasi kecil. Sehingga memunculkan kesan bahwa tidak ada mereka tidak solid.
"Pada waktu itu kita lobi, kita lihat rata-rata hampir 100 cendekiawan se-Indonesia memilih BJ. Habibie dibanding dengan kandidat lain. Sosoknya dinilai sebagai tokoh muslim Indoneisia yang paling bebas konflik," lanjutnya.
Usai mendapat persetujuan dari kalangan cendekiawan muslim lain, Zaenuri bersama dengan kawan-kawannya bertolak ke Jakarta untuk meminta BJ. Habibie sebagai Ketua. Zaenuri menceritakan bahwa BJ. Habibie akan menyetujui permintaan tersebut jika sudah mendapat izin dari Presiden Republik Indonesia saat itu yakni Soeharto.
"Ketika kita temui, BJ. Habibie yang sudah menjadi menteri di bawah kepemimpinan Soeharto, menyampaikan ke kita, bahwa dia mau izin dulu ke Pak Harto," imbuhnya.
Setelah mendapat persetujuan dari Soeharto, barulah BJ. Habibie menerima pinangan para mahasiswa UB tersebut untuk menjadi Ketua ICMI yang pertama. Lebih lanjut, menurut Zaenuri, terpilihnya BJ. Habibie menjadi Ketua ICMI juga karena ia merupakan sosok muslim yang taat. Selalu disiplin dalam menegakkan salat, bahkan tidak pernah absen untuk menunaikan puasa Senin-Kamis.
"Orang lain tahunya Habibie sebagai pakar teknologi yang punya banyak paten. Tapi ada dua hal yang membuat saya kagum dengan Habibie, pertama adalah dia memegang kuat nilai-nilai Islami. Shalat dan puasanya disiplin. Kedua, dia adalah sosok family man. Kemana-mana didampingi oleh istrinya," pungkasnya.
Ketika Zaenuri dan kawan-kawannya bertolak ke Jakarta, untuk meminang BJ. Habibie sebagai Ketua ICMI, tergambar kuat bahwa sosoknya sangat mencintai keluarganya. "Ketika itu Almarhum mengajak kita untuk makan nasi padang di tempat kesukaannya. Ternyata dia ajak juga putranya Ilham Habibie. Jadi meskipun saat itu dia sudah jadi pemimpin yang sibuk, tapi dia tetap meluangkan waktu untuk keluarganya," imbuhnya.
Menurut Zaenuri, usai dikukuhkan sebagai Ketua ICMI di UB Kota Malang, BJ. Habibie tak seberapa sering bertolak ke Malang. Sebab, ICMI sendiri kemudian juga memiliki kantor pusat di Jakarta. Meskipun juga memiliki ICMI center di Senat Fakultas Teknik UB.
Zaenuri berujar, ketika pertama kali mendengar kabar meninggalnya BJ. Habibie dirinya merasa sangat kehilangan. Zaenuri yang sejak tahun 2000 sudah berdomisili di Jakarta dan bekerja di bidang bisnis gas dan minyak ini berencana akan segera melayat ke rumah duka yang dekat dengan kediamannya.
Sementara itu, Rektor UB Prof. Dr. Nuhfil Hanani, AR., M.S juga menyampaikan rasa duka mendalam terkait kabar berpulangnya Presiden Republik Indonesia ke 3 BJ. Habibie. Seketika ia menginstruksikan Masjid di UB untuk menggelar shalat ghaib bagi almarhum.
"Saya kaget mendengar kabar itu, Habibie adalah sosok ilmuan hebat yang patut menjadi contoh. Sudah jadi Presiden, tapi masih cinta ilmu. Semoga Khusnul Khotimah," pungkasnya.
Nuhfil sempat mengisahkan bahwa ketika ditunjuknya BJ. Habibie sebagai Ketua ICMI, ia sudah menjadi dosen di UB. Ia mengetahui gelar simposium tersebut, namun tidak terlibat secara langsung.
Namun demikian, Nuhfil memiliki pengalaman personal dengan BJ. Habibie. Yang mana ketika masih menjadi mahasiswa UB di tahun 1980 an, Nuhfil menyebut bahwa karena Habibie ia bisa menaiki pesawat untuk pertama kalinya.
"Saya jadi perwakilan UB untuk ikut pelatihan kepemimpinan di Jakarta. Seingat saya pak Habibie waktu itu di Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN). Bersama mahasiswa lain dari seluruh Indonesia saya diajak naik Hercules. Itu pertama kalinya saya naik pesawat," pungkasnya.(asa/ary)



Kamis, 05 Des 2019

Perjalanan KA Terganggu  

Loading...