Islam Nusantara Ajarkan Toleransi Beragama | Malang Post

Minggu, 15 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Kamis, 05 Sep 2019, dibaca : 14966 , rosi, imam

Pembukaan Halaqah Diniyah 2019 Unisma Malang

MALANG - Rois Aam PBNU KH. Miftakhul Akhyar, menegaskan kepada ribuan mahasiswa baru Universitas Islam Malang (Unisma), untuk tidak menjadi bagian dari kelompok yang ikut-ikutan dalam memahami Islam Nusantara. Menurutnya, Islam Nusantara hanya istilah untuk membedakan paham keislaman Ahlus Sunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah dengan yang lain. 
Oleh karena itu, dalam materi Studium General dengan tema meneguhkan Islam Nusantara di Era Revolusi Industri 4.0 dan masyarakat 5.0, Miftakhul Akhyar mengimbau kepada mahasiswa Unisma untuk memperdalam ilmu Ahlus Sunnah Wal Jamaah. 
"La Takun Imma'ah, jangan jadi orang latah atau ikut-ikutan, dalam memahami Islam Nusantara, harus dikaji dari sudut pandang yang benar sesuai ajaran para ulama Aswaja," terangnya, dalam acara Halaqah Diniyah 2019 untuk mahasiswa baru Unisma, Kamis (5/9) kemarin. 
Pengasuh Pondok Pesantren Miftahus Sunnah Surabaya ini mengatakan, para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah membangun konsep Islam Nusantara berada di jalur tengah. Menjalankan syariah maupun muamalah tidak dengan cara radikal atau liberal. Tetapi berada di jalan tengah dengan prinsip toleransi yang begitu kuat. 
"Islam Nusantara mengusung ajaran dengan tasamuh atau toleransi  di tengah umat. Baik dari sisi akidah, fikih maupun akhlak," terangnya. 
Kendati demikian, mantan Ketua PCNU Surabaya itu menegaskan, Islam Nusantara bukan membawa ajaran baru. Tetapi menyegarkan dan menegakkan kembali ajaran Islam sesuai tuntunan Rasulullah, Khulafaur Rasyidin dan para sahabat nabi. "Semuanya telah diajarkan nabi, kita hanya mengembangkan sesuai perkembangan zaman, tetapi tidak sampai menyimpang dari pokok ajaran agama," tuturnya. 
Di hadapan ribuan mahasiswa baru, KH. Miftakhul Akhyar berharap mahasiswa Unisma menjadi generasi yang berwawasan luas. Acara Halaqah diharapkan menjadi langkah awal dalam membuka wawasan mereka terhadap situasi global. Termasuk diantaranya tentang Keaswajaan dan Islam Nusantara. 
“Man asyraqat bidayatuhu, asyraqat nihayatuhu. Barang siapa di permulaan perbuatannya baik, maka nanti di akhir hasilnya juga akan baik," tandasnya. 
Sementara itu, Rektor Unisma Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si., mengatakan Halaqah Diniyah merupakan agenda tahunan untuk membekali mahasiswa baru dengan kajian keilmuan. Baik tentang akidah, syariat atau akhlak. 
"Ini bagian dari Ikhitiyar kita dalam membekali mahasiswa dengan keilmuan, entrepreneur, dan moralitas dengan pemahaman yang mendalam tentang Ahlussunah Wal Jamaah An Nahdliyah," katanya. 
Selain itu, lanjutnya, Halaqah Diniyah sebagai upaya Unisma dalam mempersiapkan  generasi yang Ulama Intelektual Profesional, dan Intelektual Profesional yang Ulama. 
"Ini bagaian yang tidak terpisahkan untuk menjadikan Unisma sebagai kampus kebanggan NU," ucapnya. 
Sebelumnya Maskuri juga menyampaikan materi tentang keutamaan ilmu. Bahwa Ilmu meningkatkan  kualitas pemahaman dan pengertian seseorang. Orang yang berilmu tidak mudah mendustakan dan menyalahkan orang lain. Cahaya Ilmu pengetahuan membuat seseorang menjadi bijaksana dan mudah menghargai orang lain. 
"Orang berilmu memiliki kematangan berfikir, sehingga ada nilai dalam sikap dan ucapannya," terang dia. 
Menurutnya, Ilmu bisa diperoleh dengan pengalaman, pemahaman, pengetahuan dan pengertian. Sementara  pendidikan merupakan proses internalisasi nilai. Jadi tidak sekedar dimengerti tapi juga diamalkan. 
"SDM yang hebat akan menjadikan tatanan kehidupan yang biasa menjadi menakjubkan," tuturnya. (imm/oci)



Minggu, 15 Des 2019

Kesempatan Pemain All Out

Loading...