MalangPost | Inovasi Perguruan Tinggi

Minggu, 07 Juni 2020

  Mengikuti :


Inovasi Perguruan Tinggi

Rabu, 01 Apr 2020, Dibaca : 585 Kali

Perguruan tinggi (PT) dan sekolah berperan dalam penanganan virus Corona. Berbagai upaya dilakukan lembaga pendidikan mulai dari pembentukan Satgas Covid-19, pembuatan produk hand sanitizer, SiCo, alat pembasmi virus bernama Berantas Virus Corona (Bevico) 193, Kotak Anti Virus (KAVi) hingga membuat alat Safety Chamber untuk pasien.
Beberapa inovasi in diinisiasi oleh sejumlah kampus dan sekolah. Seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Malang (Unisma), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, SMK Prajnaparamitha Malang dan SMK Putra Indonesia Malang (PIM).


Bilik SiCo merupakan alat sterilisasi manusia dari virus dan kuman yang diproduksi  FT  UB dengan luas 1 meter x 1 meter dan tinggi 2,4 meter. Pembuatan alat berdinding transparan yang melibatkan tujuh  mahasiswa UB ini dilengkapi dengan penyemprot disinfektan. Awal mula pembuatan SiCo adalah inisiasi Wali Kota Malang, Drs.H. Sutiaji yang meminta FT UB untuk segera membuat alat sterilisasi manusia melalui mantan Rektor UB, Prof. Muhammad Bisri.


Salah satu pembimbing pembuatan Bilik SiCo FT UB, Dr. Sugiarto, ST. MT, mengatakan, mahasiswa hingga kini membuat 50 unit untuk type rigid yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan UB. 20 unit model knock down untuk memenuhi kebutuhan pemesan.
“Kalau yang model knock down kami siapkan untuk memenuhi kebutuhan luar daerah dan yang pesan dari Jakarta, Majalengka, NTB, NTT, Sulawesi Utara dan Jawa Tengah,” jelas Sugiarto.


Bilik SiCo telah banyak diproduksi untuk memenuhi kebutuhan Kota Malang dan beberapa instansi pemerintah dan swasta di Jawa Timur. Alat sterilisasi manusia ini juga banyak dipasang di beberapa instansi pemerintah khususnya Kota Malang dan swasta di Malang Raya, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang.
Dilanjutkannya, tim pembuatan Bilik SiCo FT UB turut mengedukasi beberapa pihak baik dari instansi maupun perorangan untuk bisa memproduksi sendiri. Salah satunya para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Maghfiroh yang setelah diberikan edukasi mampu memproduksi sendiri.
“Di Ponpes Bahrul Maghfiroh produksinya lebih banyak, kalau dengan diproduksi Ponpes mungkin sudah ratusan,” terangnya.


Universitas Gajayana (Uniga) juga memproduksi hand sanitizer hingga  1.000 unit untuk dibagikan kepada masyarakat Malang Raya. Pasalnya pembersih tangan dari virus dan bakteri ini sangat penting dalam kondisi saat ini. Hand sanitizer produksi Uniga juga diserahkan kepada Satgas Covid-19 Kota Malang. Selain warga umum, kampus ini lebih dulu memberikan hand sanitizer kepada warga sivitas akademika sebagai bentuk motivasi dan dukungan agar tetap bersemangat dalam menjalani aktivitasnya di masa sekarang ini.


Rektor Uniga, Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE, MM mengatakan hand sanitizer sekarang ini menjadi benda yang sangat penting untuk dibawa kemanapun. Paling tidak ada di dalam tas  terutama bagi merak yang sedang menempuh perjalanan.
“Kalau di rumah atau di kantor kita bisa mencuci tangan dengan sabun, kalau di perjalanan dengan hand sanitizer, kami juga membagikannya kepada masyarakat umum yang kami jumpai, kemasan per botolnya 90 ml dan dikemas cantik agar mereka suka memakainya,” terang Prof Dyah.


Selama masa pencegahan Covid-19,  perempuan berhijab ini berharap semua perguruan tinggi baik PTN  maupun PTS bersatu untuk berpartisipasi. Beberapa kampus lainnya seperti UM juga memproduksi hand sanitizer. Kampus di Jalan Semarang ini hingga sekarang telah memproduksi sekitar 4000 botol berukuran 90 ml yang juga dibagikan kepada warga kampus dan rencananya juga mahasiswa UM yang masih berada di Kota Malang.


Tak mau kalah, Unisma juga membuat sebuah inovasi alat bernama Berantas Virus Corona (Bevico) 193 karya mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dengan spesifikasi canggih. Yakni menggunakan kerja dua alat sensorik, sensor gerak dan ultrasonik.
Salah satu anggota tim mahasiswa FT Unisma, Febri Hariadi, mengatakan, sensor gerak pada Bevico 193 bekerja saat ada objek yang masuk bilik bevico. Objek tersebut diputar 360 derajad.
"Saat sensor gerak bekerja dilanjutkan dengan sensor ultrasonik yang menyemprotkan antiseptik berupa kabut dan cairan disinfektan," ujar Febri.
Wakil Rektor II sekaligus Ketua Satgas Covid-19  Unisma, H. Noor Shodiq Askandar, SE, mengatakan, sejak diberlakukannya masa waspada dan pencegahan terhadap Covid-19 Unisma meluncurkan tiga program. Yakni diluncurkannya Bevico 193 oleh tim dari fakultas teknik, penciptaan produk sanitizer plus anti septik berstandar WHO dan program Unisma Peduli.
“Masa Covid-19 ini membuat masyarakat kecil kesulitan mendapat bahan pokok dan fasilitas kesehatan, maka melalui program Unisma Peduli kita galang bantuan untuk disalurkan pada masyarakat agar mereka makin kuat," tandas Shodiq.


Selain itu masih banyak perguruan tinggi lainnya yang memberikan berbagai dukungan dalam penanganan Covid-19 . Misalnya saja UMM membuat Safety Chamber untuk pasien yang ditujukan untuk meminimalisir penularan virus dari pasien ke dokter. Sementara UIN Maulana Malik Ibrahim bikin Kotak Anti Virus (KAVi) yang digadang-gadang mampu secara efektif membunuh Covid-19.


Lembaga pendidikan dari jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) juga tak ketinggalan. Yakni membuat hand sanitizer seperti SMK Prajnaparamitha dan SMK PIM. Hand sanitizer tersebut diproduksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. (ica/lin/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Redaksi