Industri Kecil Diajak Bersahabat dengan Teknologi - Malang Post

Jumat, 22 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 08 Okt 2019, dibaca : 615 , rosida, adv

MALANG - Waris Shoes, UKM fashion alas kaki di Kota Malang bisa dibilang beruntung. UKM ini dibina oleh tim dosen muda Kota Malang yang terdiri dari Vidya Purnamasari S.E., M.E (Universitas Negeri Malang), Vika Annisa S.E., M.E (Universitas Negeri Malang) dan Ir. Sudjatmiko., MT (Universitas Merdeka Malang). Pembinaan dilaksanakan Agustus lalu dalam sebuah program pendidikan tinggi berupa hibah pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh Ristek-Dikti.
Berawal dari riset yang dilakukan tim melihat kurangnya inovasi karena keterbatasan alat yang menyebabkan produksi tidak efisien serta membutuhkan waktu yang relatif lama.
“Terlebih lagi dari segi pemasaran, masih mengandalkan marketing dari mulut ke mulut  serta penjualan secara langsung,” kata Vidya.  
Dari permasalahan tersebut, tim pengabdian memberikan tiga langkah pemecahan. Pertama, memberikan mesin jahit benang besar sebagai pengganti mesin manual benang kecil agar produk yang dihasilkan rapi dan memiliki banyak variasi. Kedua, memberikan edukasi pemasaran online melalui marketplace sebagai pihak ketiga yang hingga hari ini masih sangat digandrungi oleh seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Selain dari fungsi ekonomis, penempatan pada marketplace juga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen pada suatu mitra usaha.
“Yang terakhir tim memberikan kajian tentang manajemen usaha yang perlu diperbaiki oleh UKM salah satunya adalah pelatihan perbaikan pola administrasi, pengembangan kreativitas, dan penguatan fokus bisnis,” bebernya.Dari hasil evaluasi kegiatan pengabdian menunjukkan adanya peningkatan dari sisi omset yaitu Perhitungan total omset penjualan yang pada awalnya secara rata-rata hanya mencapai Rp 8.750.000 per minggu, saat ini dapat mencapai hingga Rp 10.500.000 dalam satu minggu. Perhitungan ini diperoleh dengan estimasi harga per pasang alas kaki yang dijual adalah Rp 175.000, sehingga sesudah pelatihan penggunaan media sosial terdapat peningkatan omset penjualan sebanyak 35 persen. Disisi lain, bertambahnya calon konsumen potensial yang mendatangi UKM langsung ke lokasi karena penggunaan Google MyBusiness sebagai alat untuk mempromosikan produk alas kaki. Google MyBusiness terikat dengan Google Maps sehingga memudahkan konsumen untuk mencari lokasi UKM.
Ditambahkannya, hasil dari kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa bersahabat dengan teknologi dapat mendatangkan keuntungan yang luar biasa, dengan kata lain menekan sebuah tantangan dan melihatnya sebagai peluang. Teknologi yang telah bermetamorfosa hingga hari ini jangan dianggap sebagai boomerang karena dapat memperkecil pendapatan sebuah usaha.
“Namun, kita putar sejenak pandangan kita mengenai keberadaan sebuah teknologi, yang sebentulnya justru lebih memudahkan transaksi dan menambah variable kepercayaan konsumen dari usaha yang kita miliki sehingga dapat memberikan feedback yang saling menguntungkan,” tegasnya.
Apalagi, ditambahkannya, revolusi industri 4.0 mendorong terjadinya disrupsi dalam berbagai bidang. Era disrupsi ini merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata, ke dunia maya. Fenomena ini berkembang pada perubahan pola dunia bisnis. Oleh karena itu, perlu adanya inovasi yang berkesinambungan, kreatif, efektif, efisien, dan disiplin bagi setiap pelaku ekonomi. Pemenuhan permintaan yang mengikuti trend pasar yang sedang ‘booming’ agar tidak terkesan usang atau ‘out of date’ terlebih pada dunia fashion yang tak ada matinya dalam mengikuti perkembangan zaman. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus didapati setiap pengusaha fashion agar tidak ikut tergerus dalam era disrupsi. (ae6/adv/oci)



Loading...