Indonesia: Waktunya Berhati-Hati | Malang POST

Minggu, 23 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Indonesia: Waktunya Berhati-Hati

Selasa, 21 Jan 2020,

 
 
 
    
    
Oleh : Muhammad Kamarullah
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UMM
Tanpa disadari, di tengah-tengah ketidak pastian global, yang oleh penjelasan pengamat hal tersebut ditandai dengan terguncangnya ekonomi global akibat menurunnya Hegemoni AS dan konflik sekte Timur Tengah yang semakin memanas.
Hingga akhirnya Indonesia pun mengalami guncangan serius. Mengapa demikian? Hal ini kiranya ditandai dengan fenomena akhir-akhir ini, yakni Ulah China di laut Natuna serta tingginya tensi antara AS-Iran. Keduanya merupakan pertaruhan sekaligus ancaman atas goepolitik, geoekonomi, geostrategic,dan geokultur Indonesia.
Peristiwa yang unik sekaligus Aneh, keduanya terjadi dengan rentan waktu yang hampir bersamaan. Selain itu, kedua konflik ini dimulai oleh dua negara pula (AS dan China) yang notabenenya adalah negara superpower. Di sisi lain, AS dan China merupakan negara yang telah lama berperang untuk mendominasi dunia di segala aspek.
Buruknya, dua peristiwa ini menunjukkan gejala serius bahwa dunia semakin menuju kekacauan. Itulah sebabnya mungkin sebagian dari kita akan bertanya, jangan-jangan perang dunia yang kita takutkan akan terjadi lagi?
Pertama, pengklaiman secara terus-menerus oleh China atas Laut Natuna merupakan akibat dari ketidak pastian hukum dan alasan historis versi mereka. Ulah China ini tidak menutup kemungkinan berujung pada pecahnya ASEAN, dan berakhir pada konflik sektarian. Dampak ketidak solidan ASEAN memberikan celah besar dominasi China bukan hanya pada Laut Natuna akan tetapi Laut China Selatan sekaligus.
Tahun 2016 telah terjadi insiden yang dilakukan kapal Patroli China ketika menabrak kapal patroli milik aparat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI. Pada saat itu kapal patrol KKP menggiring kapal nelayan China yang melanggar batas wilayah perairan namun diganggu dan ditabrak kapal Patroli China.
Mengawali 2020, China dengan kapal aparat (Coast Guard) pencari ikan melintasi perairan Natuna, dengan segera Tentara Nasional Indonesia (TNI) membuka suara “siap tempur amankan Natuna”, sikap ini cukup mengkhawatirkan banyak khalayak. Kegetolan Indonesia ini berpotensi terwujudnya konflik fisik apabila arogansi China membalas dengan menonjolkan ancaman militernya juga.
Melihat kekuatan militer China yang menduduki posisi ke 3 dunia, berdasarkan data yang dihimpun oleh Global Fire Power (GFP), jumlah tentara aktif Tiongkok berjumlah 2,3 jutaan orang. Jumlah ini adalah yang terbanyak di dunia. Bahkan Amerika saja hanya memiliki 1,4 juta tentara aktif. Soal alutsista perang juga tak kalah gila. China memiliki 1.230 pesawat tempur, 9.150 tank tempur, 68 buah kapal selam dan 1 buah kapal induk.
Jika hal demikian mendapat reaksi oleh TNI secara terus-menerus, maka justru akan berakibat fatal dan lebih merugikan. Terlebih kekuatan Militer Indonesia masih jauh di bawah China.
Dalam rangka mempertahankan basis pertahanan sekaligus antisipasi konflik antar negara, agaknya Indonesia selain harus menggunakan cara soft power (diplomasi) juga perlu mempersiapkan cara hard power (kekuatan tempur). Dan yang tak kalah penting adalah kolaborasi pemerintah dan DPR untuk fokus dalam membahas dan menyediakan anggaran untuk menambah unit alat utama sistem senjata (Alutsista) bagi TNI.
Kedua, Peristiwa pembunuhan jendral Iran Qasim Soelimani yang selanjutnya Amerika Serikat dituduh sebagai dalangnya, khususnya Donald Trump. Tentu tidak lepas dari luka lama AS yakni pengeboman WTC 09/11. Anehnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembunuhan itu "untuk menghentikan perang, bukan untuk memulainya." Sedangkan Imam Khameini berbeda, ia “bersumpah untuk melakukan pembalasan keras dan setimpal kepada AS.”
Dalam konteks ini, kita bisa melihat bahwa kemungkinan yang menjadi pemicu meletusnya perang terbuka bisa saja terjadi. Jika sebuah kebijakan tergantung pemimpinnya, maka saat ini menjadi ujian besar, apakah Presiden Donald Trump, Ayatollah Khameini pun juga Hasan Rouhani termasuk pemimpin yang gemar perang (warlike)? Semoga mereka bukan kategori pemimpin itu.
Namun harus menjadi catatan bahwa kawasan Timur Tengah adalah incaran kepentingan minyak dan gas banyak negara. Artinya intervensi secara diam-diam oleh negara lain tentunya sangat dimungkinkan untuk melancarkan serangan terhadap AS. Ketegangan As-Iran saat ini terdapat elemen yang pro terhadap Iran. Misalnya Hamas di Palestina, Hisbullah di Libanon. Belum lagi organisasi radikal dan terorisme yang meskipun tidak pro dengan Iran tetapi anti Amerika.
Pembunuhan Soleimani yang menandai eskalasi besar dalam ketegangan antara Washington dan Teheran ini memberi tanda bahwa Indonesia pun harus mengantisipasinya dan lebih berhati-hati lagi. Intensitas yang semakin meninggi antara AS-Iran yang paling sederhana dapat dilihat adalah bangkitnya jaringan ISIS yang ada di Indonesia. Doktrin yang sama adalah menjadikan Amerika sebagai musuh besar, kedua memerangi siapa saja yang berbeda dengannya.
Pertama, mereka akan menghancurkan fondasi kebangsaan kita yakni Pancasila. Kemudian mereka akan menyerang siapa saja yang berbeda adat istiadat, tradisi, bahkan paham, tidak terkecuali sesama muslim. Dengan demikian potensi konflik yang ditimbulkan tidak jauh mengerikan juga, kemungkinan ancaman atas keamanan Indonesia menjadi hal yang pasti. Dan yang paling mengerikan adalah konflik sektarian di Timur Tengah menjadi masa depan kita.
Ironisnya, narasi dan wacana semacam ini tidak dipahami sebagai urgensi kehidupan bernegara kita. Kita lebih sibuk dalam agenda politik lima tahunan dan kepentingan jangka pendek. Pendek kata, sekarang adalah waktunya untuk lebih berhati-hati dengan dinamika global.(*)    

Oleh : Muhammad Kamarullah
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UMM

Editor : Redaksi
Penulis : Muhammad Kamarullah

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...