Hilangkan Sekat Atasan dan Bawahan | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 17 Nov 2019, dibaca : 948 , Muhaimin, sisca

Rahasia menjadi pemimpin yang baik harus berani menghilangkan sekat antara atasan dan bawahan. Kalimat ini tentu sering diucapkan para pemimpin, tetapi bisa dijamin jarang yang menerapkannya secara faktual seperti yang dilakukan Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Kota Malang, Erik Setyo Santoso ST MT.
Baginya, seorang kepala dinas di lingkungan Pemkot Malang, ia benar-benar menghilangkan sekat pembatas antara dirinya anak stafnya. Ini dilakukannya dengan menjebol atau merombak sekat tempat kerja di tempat kerja atau kantor dinas yang ditempatinya.
Hal ini sudah dilakukannya sejak dirinya  menjabat sebagai kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang) Kota Malang. Seluruh ruang kerja terlihat terbuka tanpa sekat.
Jika pun ada dalam ruangan, maka ruangan terbuka berdindingkan kaca. Seluruh pegawai yang ada di dalam bisa melihat siapa tamu dan siapa saja yang mendatangi dirinya.

Baca juga :

Ajak Keluarga Olahraga Bersama

Harus Berani Keluar dari Zona Nyaman


Saat ini Erik menjadi Kepala DPMPTSP, ia pun melakukan cara yang sama. Akan tetapi lebih mendalam dan dilakukan lebih menarik lagi. Bahkan melepas “sekat” antara pelayan publik dengan masyarakat.
“Di DPMPTSP kami punya sistem piket pelayanan di loket. Jadi siapapun pegawai disini, khususnya yang pejabat struktural bergiliran piket melayani warga pemohon di loket bawah (loket pemohon perizinan,red),” tegas pria asal Kampung Inggris, Pare, Kabupaten Kediri ini.
Ia pun menjabarkan, dirinya tiap minggu mendapat giliran dua hingga tiga kali menjadi pegawai pelayan loket. Padahal tugas ini sebenarnya tidak dilakukan oleh pejabat struktural seperti dirinya, kabid, hingga kasi-kasinya.
Akan tetapi “sekat” tersebut dihilangkan pria yang pernah menjabat sebagi kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) ini. Pasalnya ia memiliki sebuah prinsip kerja sendiri dimana sekat atau batasan antara atasan dan bawahan hingga pada masyarakat harus dihilangkan. Agar kerja maksimal dapat dilakukan.
“Semua akan mudah ketika seorang pemimpin itu tidak memposisikan dirinya sebagai pemimpin,” papar alumnus Fakultas Teknik Sipil Universitas Brawijaya (UB) Malang.
Hal tersebut dipegangnya ketika diamanahi menjadi pemimpin. Sejak pertama menjadi kepala dinas pada 2014 lalu, dia didapuk menjadi kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan, kemudian 2016 menjadi kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman, 2017 sebagai kepala Barenlitbang, dan 2019 ini menjabat kepala DPMPTSP, ia menerapkan hal tersebut untuk sukses menjadi pemimpin.
Dengan memposisikan diri sertara dengan pegawai lainnya ia merasa dapat mengetahui berbagai permasalahan atau pun tantangan di semua bidang dinas yang dipimpinnya.
Hal ini bisa dilihat dari sepak terjangnya sejak dulu. Erik menjadi salah satu kepala dinas yang tak segan turun mengerjakan tugas lapangan yang menjadi tanggung jawab anak buahnya.
Seperti saat bertugas memimpin DKP dulu, ia sering terlihat terjun dan masuk ke dalam salurang drainase ataupun sungai yang tersumbat. Ia tidak segan pula ikut menyapu jalan bersama pegawainya di lapangan saat itu.
“Banyak yang bilang kalau jadi kepala dinas tidak harus tau teknis. Ia hanya mengurusi manajerial saja. Kok saya tidak bisa ya begitu. Saya harus tau bagaimana teknisnya agar bisa mengatur manajerialnya,” tegas bapak tiga anak ini.
Ini kemudian menjadi salah satu caranya yang diterapkan. Untuk mengetahui teknis, maka sebelum ia menjalankan sebuah program maka seluruh pegawai yang bersangkutan dikumpulkan. Ia akan melakukan semacam brainstorming atau briefing.
Disana ia akan duduk bersama anak buah berbagai bidang yang dipegang. Mencari apa saja tugas, masalah yang dihadapi lalu kemudian bersama-sama memecahkan atau mencari solusi akan masalah yang ada.
“Ya itu dia makanya papan saya penuh tulisan,” ungkap pria yang pernah menempuh pendidikan Manajemen PPNS Ditjen Penataan Ruang Kemen PU di Pusdikreskrim Polri pada 2012 lalu.
Itu pula salah satu ciri khas Erik. Di ruangannya pasti ada sebuah papan tulis putih. Tidak pernah kosong. Selalu ada tulisan orat-oret yang juga dipenuhi bagan ataupun flowchart. Erik menceritakan itu menjadi salah satu ciri khasnya. (ica/aim)



Loading...