Hidup Itu Ibadah, Ibadah untuk Hidup | Malang Post

Jumat, 13 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Jumat, 27 Sep 2019, dibaca : 1989 , mp, tamu

Pengertian ibadah menurut KBI adalah perbuatan atau pernyataan bakti terhadap Allah atau Tuhan yang didasari oleh peraturan agama. Sedangkan dalam Islam adalah segala kegiatan yang berhubungan dengan Allah (hablum minallah), dengan manusia (hablum minannas) dan dengan semesta alam atau lingkungan hidup (hablum minalalam).
Dan aku tidak menciptakan manusia dan jin melainkan mereka beribadah kepada Ku. Aku tidak menhendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki mereka memberi makan kepada Ku. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. Adz Dzaariyaat: 56-58).
Dalam melakukan ibadah, jangan hanya sekadar memenuhi syariat saja. Pahamilah seluruh hakikat sebenarnya dari beribadah itu. Beribadahlah dengan niat untuk selalu belajar. Latihlah dalam setiap langkahmu, banyak pelajaran yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas diri dalam beribadah. Membaca juga termasuk dalam proses belajar. Galilah setiap huruf yang kau baca, kamu akan mendapatkan pelajaran yang tidak terhingga. Demikian pula saat bekerja. Bekerjalah dengan jujur, ikhlas, sabar, dan penuh rasa syukur.
Keahlian menyiasati kehidupan merupakan suatu keterampilan agar dapat menikmati arti ibadah. Keterampilan perlu diasah secara rutin dengan latihan dan disiplin keras dan berkesinambungan. Latihan kadang-kadang menyenangkan, tetapi seringkali melelahkan bahkan menyakitkan. Tetapi itulah ibadah yang bermakna, kita harus bisa melakoninya dengan jujur ikhlas dan sabar.
Sahabat Rasullah berkata, beribadahlah dengan maksimal kemudian lemparkan dirimu dibawah takdirNya. Maka engkau akan diurusi olehNya.
Apapun yang terjadi adalah takdir Allah. Seperti firman Allah SWT: Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan ini), kecuali dikehendaki oleh Allah SWT (QS Al-Insan 76:30).
Nabi SAW bersabda: Barang siapa mengamalkan apa yang diketahui, maka Allah akan memberikan ilmu yang tidak atau belum diketahui.
Jika telah kau selesaikan satu urusannmu maka kerjakanlah urusanmu yang lain. Dan kepada Tuhannmu berdoalah (Al-Insyiriah 94: 7-8).
Untuk apa kita hidup kalau dalam menjalaninya hanya untuk mempersulit orang lain. Bahagia itu adalah bila kita melihat orang lain bisa tersenyum dan tertawa. Dengan kata lain kalau kita dapat membahagiakan orang lain.
Jika seseorang telah beribadah dengan baik dan konsisten mendekatkan diri pada Allah dan hatinya telah sampai tidak memerlukan bantuan selain dari Allah SWT. Maka Allah akan mengatakan kepadanya “ Sesungguhnya engkau mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya di sisi kami” (Yusuf 12: 54).
Tanda-tanda cinta pada Allah: ingin selalu bertemu (disamping shalat fardhu, sering shalat sunnah) berlama-lama pada saat ketemu (shalat dan dzikir) menyendiri untuk ketemu (salat malam dan dzikir selalu melakukan apa yang diminta dan menjauhi yang dilarang (takwa). Tidak bertanya tentang, takdir yang diberikan, kewajiban yang diminta (rukun islam) dan larangannya (haram, dll). Tidak mengharapkan balasan karena Allah menciptakan manusia dan jalan itu adalah untuk menyembah pada Allah.
Seorang pencinta Allah tidak pernah mengeluh dan selalu bersabar walaupun sedang menderita. Bahwa dia menerima penderitaan tersebut sebagai anugerah dari Allah. Seorang perempuan dengan derajat wali, namanya Rabiah mengatakan bahwa pecinta Allah tidak membedakan suka dan duka, dua-duanya merupakan anugerah dari Allah. Apa pun yang diberikanNya kita terima senang hati dan rasa syukur.
Ajaran Rasullah pada Abdullah bin Abas yaitu sepupunya anak dari Abdul Muntholib. Jagalah ajaran Allah maka kamu akan mendapati Allah selalu menjagamu. Demikian pula jika kamu menjaga larangan Allah, maka kamu akan mendapatiNya selalu dekat dengan kamu. Kenalillah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam duka. Bila kamu meminta atau memohon mintalah dan mohonlah kepada Allah.
Jika telah kau selesaikan satu urusannmu, maka kerjakanlah urusanmu yang lain. Dan kepada Tuhanmu berdoalah (Al-Insyiriah 94: 7-8).
Hidup dimasa kini memberi pelajaran untuk pandai bersiasat. Banyak hal yang berjalan tidak sesuai dengan semestinya. Bahkan, seringkali berjalan di luar dugaan kita. Kalau hanya mengeluh, tidak akan dapat menyelesaikan masalah tersebut. Keahlian mengubah masalah menjadi peluang, kita semakin tangguh dan hidup lebih bermanfaat bagi orang lain.
Keahlian menyiasati kehidupan merupakan suatu keterampilan agar dapat menikmati arti hidup. Keterampilan perlu diasah secara rutin dengan latihan dan disiplin keras yang berkesinambungan. Latihan kadang menyenangkan, tapi seringkali melelahkan bahkan menyakitkan. Tetapi itulah kehidupan yang bermakna, kita harus bisa melakoninya dengan jujur, iklhas, dan sabar. Akhir dari semua itu menyenangkan, tentram damai dan indah.
Dari Rasullallah: “Sesungguhnya orang yang berhak dengan Alquran adalah orang yang mengamalkannya walaupun tidak membacanya”. Niat saja tidak cukup kalau tanpa disertai dengan tindakan. Jangan hanya karena niat saja untuk sesuatu yang baik sudah dapat pahala. Kemudian kita hanya selalu mengatakan sebetulnya saya sudah berniat. Kalau itu yang terjadi niatnya belum ikhlas.
Niat yang ikhlas pasti langsung dilakukan dengan tindakan. Soal hasil itu urusan Allah SWT. Tidak masalah seberapa lambat anda berjalan, asalkan anda tidak berhenti. Gagal sering kali terjadi ketika kita ingin memuaskan semua orang. Jadi bertindaklah meskipun salah, itu lebih baik daripada tidak bertindak karena takut salah.
Jadilah orang yang selalu satu langkah lebih maju dari orang lain dalam beribadah. Ketika orang sedang berbohong kita berlaku jujur, orang mendzolimi kita sibuk membantu, ketika orang lain tidur kita bangun salat, orang lain sibuk makan kita berpuasa, orang lain sibuk menyimpan harta kita berbagi, orang lain tertawa kita menangis ingat dosa dan siksa, ketika orang lain lupa pada nikmat yang diberikan Allah, kita bersyukur dengan banyak dzikir dan beribadah lebih giat dengan khusuk, ikhlas, dan sabar serta yakin.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa diantara kamu (Q.S. Al Hujurat 49: 13). Wali Allah mengatakan: Hendaknya kau berikan sebagian hartamu kepada fakir, kalau kamu mampu memberinya dan janganlah kau tolak orang yang meminta-minta.
Hendaknya kau seperti Allah SWT yang suka memberi. Hendaknya kamu bersyukur kepadaNya yang telah menjadikanmu mampu memberi. Sebenarnya peminta itu adalah hadiah dari Allah. Sungguh celaka kalau kita menolak hadiah dari Allah.
Rasa syukur hidup terasa lebih indah. Sedikit terasa cukup, masalah menjadi inspirasi untuk beribadah lebih giat ikhlas dan sabar. Rumah sempit, terasa lapang dan nyaman. Kegagalan menjadi pelajaran untuk lebih baik dan berhati-hati. Kekeruhan berubah menjadi kejernihan, penolakan menjadi penerimaan. Kebencian berubah menjadi kasih sayang yang tulus, dan amarah berubah menjadi senyuman yang indah. Syukur membuat hidup semakin indah, tenteram, nyaman, damai dan terasa sampai pada hati yang paling dalam. Menjadikan hari esok penuh harapan dengan bunga-bunga cinta.
Kalau dalam hidupan kita bisa memahami karakteristik air, kehidupan kita akan lebih bermakna. Perilaku air sangat dinamis, lentur tidak memaksakan diri, tidak bergelegak, berhenti selalu mencari terobosan untuk jalan baru, sehingga sampai di lautan lepas yang merupakan tujuan akhir.
Menata nilai-nilai kehidupan, artinya bila kita bisa menghidupi orang lain. Bisa membuat orang lain merasa tenang hidupnya. Bisa membuat orang lain dengan rasa nyaman, dengan kehadiran kita. Bisa membuat orang lain tersenyum dengan senyuman kita.
“Baginya (pahala) kebajikan yang diusahakannya dan baginya dosa (kejahatan) yang dilakukannnya” (Al-Baqarah 2: 286).” Jika kamu berbuat baik niscaya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri jika kamu berbuat jahat maka (balasannya) untuk dirimu juga” (Al-Isra 17: 7). (*)

* Prof Dr Waego Hadi Nugroho
Komisaris Wira Husada Nusantara



Jumat, 13 Des 2019

Arema FC Tim Terburuk!

Loading...