Hati Lebih Tinggi Dari Akal | Malang Post

Senin, 16 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Jumat, 08 Nov 2019, dibaca : 3537 , udi, imam

MALANG - Islam mengajarkan umatnya untuk menggali pengetahuan se dalam dalamnya. Islam mengajarkan umatnya untuk menuntut ilmu setingginya-tingginya. Karena Islam sangat menghargai dan memuliakan orang-orang yang berilmu pengetahuan.
Kendati demikian, dalam beragama akal harus mengikuti hati. Bukan hati mengikuti akal. Karena akal yang mengikuti hati berarah pada pencerahan, sementara hati yang mengikuti akal menyebabkan kesesatan.
Hal itu diterangkan KH. Miftah Maulana Habiburrahman yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Miftah, saat mengisi pengajian umum di Kelurahan Tunjungsekar Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, Rabu (6/11) malam. Menurutnya, beragama tidak bisa hanya dilandaskan kecerdasan akal. Pondasi dasar tauhid adalah keimanan yang ada dalam hati. “Belajar agama itu akal yang mengikuti hati, bukan sebaliknya,” katanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman Jogjakarta ini melanjutkan, banyak ajaran atau printah Allah yang di luar rasio. Seperti Allah menyuruh nabi Ibrahim menyembelih puteranya Nabi Ismail atau yang fenomenal Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. “Tidak semua ajaran Islam masuk akal, karena kalau semua ajaran agama bisa diterima oleh akal berarti tidak ada bedanya antara agama dan ilmu pengetahuan. Cukup pintar saja dengan kuliah setinggi-tingginya, tidak perlu lagi beragama,” jelasnya.
Lebih lanjut Ustadz yang sering tampil nyentrik ini menerangkan, bahwa cinta tumbuh dari hati. Bukan seperti pengertian cinta pada umumnya selama ini, cinta dari mata turun ke hati. Sebab kata dia, kalau cinta dari mata ke hati, seorang muslim tidak akan pernah cinta pada Allah. Karena selamanya dia tidak akan pernah melihat Allah. “Demikian juga cinta kepada Rasulullah, bagaimana kita cinta rasul sementara kita belum pernah bertemu dan melihat sosok beliau, maka dalam hal ini hati yang berbicara,” terangnya.
Demikian juga dengan orang buta tidak pernah indahnya cinta. Karena ia tidak pernah melihat pasangannya. Namun jika cinta tumbuh dari hati, seperti apapun pasangannya tidak akan pernah mempengaruhi pandangan matanya.
Agama Islam sangat menjunjung tinggi kecerdasan akal. Tentu bukan sembarang akal, tapi akal yang sudah menjalani alur pikir yang benar. Rasulullah SAW memberikan dorongan kepada umatnya untuk menjadi muslim yang benar-benar memahami syariat Islam.
Tentu saja untuk mencapainya harus memanfaatkan akal sebaik mungkin. Dalam hadits sahih Rasullullah SAW, bersabda, barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka dia akan dipahamkan dalam agamanya. Akal merupakan pembeda antara manusia dengan hewan. Dengan akal manusia dapat terus berinovasi dan membangun peradaban. Dan dengannya manusia dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya sesuai jangkauan akal mereka.
Dengan dimikian, akal merupakan nikmat yang sangat besar, namun bukanlah segalanya. Manusia harus menempatkannya pada tempat yang layak, dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak bisa dijangkau olehnya.
Jika ada firman Allah dalam masalah apapun, maka itulah yang harus didahulukan sebagai dalil yang mutlak kebenarannya. Dan akal harus menyesuaikan, memahami, dan menerimanya dengan apa adanya. Memang, kadang keterangan Alquran atau wahyu menjadikan akal tertegun, namun akal yang sehat tidak akan menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil. (imm/udi)



Loading...