Harus Menemukan Ikon Mercusuar Kota Kepanjen dan Wajib Dibranding | Malang POST

Kamis, 20 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Rabu, 13 Nov 2019,

Pemerintah Kabupaten Malang memiliki peluang cukup besar menata Kota Kepanjen sebagai ibu kota layaknya ibu kota seharusnya. Persoalan-persoalan yang membelit sudah  terjawab. Sebut saja terkait Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten (RDTRK) hingga Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang masuk pada tahap Peninjauan Kembali (PK).  Terkait persoalan lahan hijau atau Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) juga tak ada masalah.
Hal itu dijelaskan Kepala Bidang Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bappeda Kabupaten Malang Indah Sulistyawati. Indah sapaan akrabnya memaparkan banyak hal dalam diskusi Menata Kota Kepanjen Sebagai Ibu Kota Kabupaten Malang bersama Malang Post Jumat (8/11). Masih ada peluang untuk pembangunan di Kepanjen karena belum ada pemetaan kawasan itu di sana.
" Angka itu bisa dipenuhi dengan mencetak sawah baru tapi tetap mengacu pada aturan dan UU Pertanian," katanya.
Indah sendiri mengaku LP2B sempat menjadi beban baginya. Terlebih dibandingkan dengan Kota Malang. Di mana Kabupaten Malalang berbasis  pertanian.
"Kami pernah pernah usulkan untuk alih fungsi, tapi malah disindir. Katanya Kabupaten  kok tidak ada sawahnya," katanya.
Persoalan lain terkait dengan penataan  Kota Kepanjen sebagai Ibu Kota Kabupaten Malang juga dijawab oleh Kepala Bidang Bina Teknik Dinas PU Bina Marga Kabupaten Malang Khairul Kusuma. Sesuai bidangnya, Oong begitu Khairul Kusuma akrab dipanggil mengungkit masalah kebinamargaan. Di mana pihaknya sudah menyiapkan beragam skema.
Mulai dari membuat perencanaan jalan tembus (pintu masuk stadion Kanjuruhan hingga Panarukan panjang 1,3 Km), menutup drainase di Jalan Trunojoyo dengan box culvert  untuk dijadikan jalur lambat hingga pelebaran simpang tiga Zipur. Untuk simpang tiga Zipur Dinas PU Bina Marga sudah membuat Detail Engineering Design (DED). Sehingga saat anggaran turun, bisa langsung dikerjakan. "Ini terkait perwajahan Kepanjen sebagai ibu kota. Agar semuanya dapat tertata, lebih bagus," ungkap Oong.
Oong juga sempat melontarkan isu terkait beda pemanfaatan ruang dengan struktur di negara berkembang. Menurut dia struktur mengikuti penataan ruang. Namun itu  berbeda di Kabupaten Malang.  Dan itu yang menjadi kendala lambatnya pembangunan. Sedangkan di negara maju, pemanfaatan ruang dulu, kemudian strukturnya dikendalikan.
Dia mengatakan, salah satu orang yang ikut dalam penyusunan perda RTRW, hingga kemudian Perda no 5 tahun tahun 2014 lalu disahkan. Namun sebagai user, dia mengaku mendapatkan banyak kendala.
"Bukan perencanaannya yang salah, perencanaan itu bagus. Contoh saja, Jalan Lingkar Barat (JLB) begitu bagusnya kami menyusun. Di sana merupakan kawasan komersil, daerah industri dan perkantoran. Tapi faktanya berdiri warung-warung, ya maaf kurang representatif," ungkapnya.

Baca juga :

Menata Kepanjen Ibu Kota Kabupaten, Dimulai dari Revisi Perda RTRW Kabupaten Malang dan RDTRK Kepanjen

DPRD Dukung Revisi Perda RTRW, Syaratnya Eksekutif Komitmen dan Konsisten


Oong juga menyebutkan sempat melakukan diskusi dengan Barenlitbang Kota Malang. Di mana dalam diskusi itu juga ada pihak Jasa Marga. Dalam diskusi tersebut salah satunya membahas tol Malang Kepanjen. Menurut Oong, dalam perencanaan tol, ada empat  pintu keluar di wilayah Kabupaten Malang. Pertama area pasar Pakisaji, kedua Krebet, ketiga Talangagung dan terakhir jalan Trunojoyo, Kepanjen.
"Saya protes berat. Terutama untuk yang di Talangagung. Karena di sini Jasa Marga sama sekali tak mengindahkan tata ruang Kota Kepanjen," katanya.
Dengan adanya pintu keluar tol di Talangagung, disebutkan Oong akan mematikan pembangunan. Hingga akhirnya ada perubahan rencana, exit tol di wilayah berbatasan dengan Kecamatan Gondanglegi.
"Makanya saya juga setuju dengan paparan Pak Didik Ketua Dewan, di mana perkembangan Kepanjen juga diikuti dengan perkembangan kecamatan penyangga lainnya. Salah satunya ini. Pintu keluar di perbatasan Gondanglegi, sehingga pembangunan Gondanglegi juga maju," urainya.
Dia juga mengatakan, bahwa Kepanjen tidak hanya menjadi Ibu Kota Kabupaten Malang, tapi bisa maju layaknya Kota Malang dan Kota Batu. "Siapa tahu 10 atau 20 tahun Kepanjen ini seperti Kota Malang atau Kota Batu," katanya.
Sementara itu, agar Kepanjen menjadi ibu kota yang betul-betul ibu kota, maka harus memiliki daya tarik atau ciri khas. Hal ini juga disampaikan oleh pemerhati tata kota, Arief Setiawan. Arief mengatakan, harus ada daya tarik di Kepanjen, agar wilayah ini memiliki identitas.
"Pembahasan secara internal dan eksternal sudah gamblang semuanya. Tapi satu yang belum. Yaitu daya tarik. Apa sih yang menarik di Kepanjen. Ini yang harus dipikirkan bersama," kata dosen PWK ITN ini. Menurut dia harus ada sesuatu yang mercusuar atau fenomenal.
" Sesuatu yang unik atau khas untuk mendukung itu, sesuai Perda no 5 tahun 2014, " ungkapnya.
Dia mengakui  11 tahun, Kepanjen jadi Ibu Kota Kabupaten Malang namun tidak memiliki perkembangan yang signifikan. Arief pun menyebutkan tidak ada halangan sebetulnya saat wilayah Kepanjen ada di lahan hijau. Bahkan dia menyebut Kabupaten Malang menang lima tahun dari Indonesia, yang hendak memindahkan ibu kota negara dengan konsep green city (kota hijau).
"Dari sisi akademisi untuk kota hijau, ada delapan item yang harus dipenuhi. Yaitu Green Planning and design, green open space, green waste, green transportation, green water, green energy, green building dan green community. Dari delapan ini, maka sudah konsep kota hijau teratasi," ungkapnya.
Seiring dengan sesuatu yang unik dan khas, Arief sempat membuka peta Kepanjen. Dia melihat peta yang memanjang  sedikit menyulitkan dilakukan pembangunan. Namun dengan adanya ciri khas, hal itu dapat diatasi. Dia memecah salah satu peta. Dan disitu dia melihat ada salah satu yang khas. Yaitu topeng bapang, topeng khas Malangan. Dari atas peta ada salah satu garis yang mirip dengan topeng bapang. Dan ini bisa dikuatkan.
"Yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah budaya. LP2B memang bisa diganti. Sekarang budayanya apakah bisa digantikan juga. Ini yang perlu dipikirkan bersama-sama,"urainya.
Sementara Pakar Ilmu Komunikasi,  Sugeng Winarno yang hadir dalam diskusi tersebut juga tak mau kalah. Untuk melakukan penataan kota, harus ada sentuhan komunikasi. Hal ini terkait dengan strategi branding.  
Branding menurut dia sangat penting untuk perkembangan wilayah. Sehingga saat orang hanya melihat fotonya saja, langsung bisa tahu wilayah tersebut dan membius warga tersebut datang.
Sugeng mencontohkan Kampung Warna-Warni. Sentuhan komunikasi yang dilakukan oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiya Malang dapat mengubah perilaku masyarakat dari kumuh dan sekarang menjadi ikon Kota Malang.
Selain itu Sugeng juga mencontohkan Banyuwangi. Di mana Bupati Banyuwangi juga menerapkan komunikasi dan Pembangunan daerahnya.
"Begitu juga Kepanjen, harus ada itu," kata Dosen Ilmu Komunikasi UMM ini. Dia pun menyebutkan, yang dikenal dari Kepanjen adalah Stadion Kanjuruhan. Hanya saja saat di televisi kata Kanjuruhan tidak dibarengi dengan nama Kepanjen, tapi hanya Kabupaten Malang.
"Inilah yang harus dipikirkan bersama. Kalau memang mau, mari membuat kajian. Sehingga Kepanjen ini bezul-betul menjadi ibu kota yang diketahui semua orang. Jangan sampai hanya orang Kabupaten Malang saja yang mengetahui, tapi orang luar tidak. Dan terakhir, agar masyarakat Kabupaten Malang ini nyaman hidup di wilayah Kabupaten Malang," tandasnya.
Membuat wajah Kepanjen sebagai ibu kota tidak terlalu sulit diwujudkan. Diawali dari revisi Perda RTRW dan RDTRK Kepanjen. Tentu adalah komunikasi yang apik antara eksekutif dan legislatif. Semua pihak harus memiliki komitmen yang sama dan dikerjakan secara konsisten. (ira/ary/habis)

Editor : bagus
Penulis : ira



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...