Guru Reborn - Malang Post

Kamis, 21 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 25 Agu 2019, dibaca : 824 , MP, tamu

CUKUP memprihatinkan ketika bangsa Indonesia membuka jalan menuju 100 tahun merdeka kesiapan insan pembentuk calon-calon pemimpin bangsa (guru) masih saling menyalahkan dan berebut pengaruh. Era Indonesia emas dengan bonus demografi di tahun 2045 tentunya akan berubah menjadi tidak bermakna kalau kerikil-kerikil kecil ini tidak segera dipangkas untuk diluruskan kembali dalam rel sesungguhnya. Sadarlah bahwa menyiapkan calon pemimpin bangsa itu diperlukan keseriusan dan tidak saling menghujat dan menyalahkan.

Kritik dan masukan sangat diperlukan, tetapi menyalahkan dan menghujat seolah pendapatnya yang paling benar harus segera diakhiri. Seperti contoh sederhana yang berada di lingkungan sekolah, perilaku ‘oknum’ masih menyalahkan membabi buta kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Menyalahkan langsung atas kebijakan tidak, tetapi mengintimidasi siswa binaan kini semakin marak dilakukan. Ucapan ‘bodoh’ atau kalimat lain yang memojokkan serta membandingkan seolah lebih ‘dungu’ dengan siswa sebelumnya menjadi ‘sarapan’ harian siswa.

Instropeksi diri

Memang tugas guru saat ini semakin berat, terutama menyambut siswa yang semakin ‘melek’ informasi ini. Kepercayaan mutlak informasi yang dipaparkan oleh guru kini mulai luntur dan cenderung diabaikan karena kemajuan jaman. Siswa di era sekarang ini lebih tertarik pada dunia mainannya sendiri bersama rekan-rekannya dan cenderung mengabaikan informasi dari guru-guru yang ‘out of date’.

Sudah saatnya guru mawas diri dan berbenah dengan kembali kepada jati diri sebagai pendidik dan pengajar. Seorang pendidik sosok yang berfungsi membentuk sikap mental/kepribadian bagi anak didik. Sedang pengajar punya peran ‘transfer of knowledge’ berupa penguasaan materi ajar berupa pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu untuk disampaiakan pada siswa. Contoh seorang guru matematika mengajarkan kepada anak pintar menghitung, tapi anak tersebut tidak penuh perhitungan dalam segala tindakannya, maka kegiatan guru tersebut baru sebatas mengajar belum mendidik.

Tidak setiap guru mampu mendidik walaupun ia pandai mengajar, untuk menjadi pendidik guru tidak cukup menguasai materi dan keterampilan mengajar saja. Tetapi perlu memahami dasar-dasar agama dan norma-norma dalam masyarakat. Sehingga guru dalam pembelajaran mampu menghubungkan materi yang disampaikannya dengan sikap dan kepribadiaan yang harus tumbuh sesuai dengan ajaran agama dan norma-norma dalam masyarakat. Artinya, jika hasil pengajaran dapat dilihat dalam waktu singkat atau paling lama tiga tahun, keluaran pendidikan tidak dapat dilihat sebagai satu hasil yang sinifikan. Hasil pendidikan tercermin dalam sikap, sifat, perilaku, tindakan, gaya menalar, gaya merespons, dan corak pengambilan keputusan siswa atas suatu perkara.

Guru Rebound

Untuk menjadi seorang guru yang kharismatik, sekali lagi tidak cukup hanya berbekal dengan menguasai warisan ilmu saat masih jadi pebelajar serta punya kemampuan berbicara. Dibutuhkan kearifan dalam menyampaikan pesan dan pembentukan sikap demi memahami betul substansi materi yang akan disampaikan kepada siswanya. Karena perilaku dan keteladanan dari guru memiliki nilai yang jauh lebih efektif dan berarti bagi siswa.

Ada sedikitnya 8 karakter ‘guru reborn’ yaitu karakter dasar guru sebagai pedagog yang terlahir kembali: Pertama, niat ikhlas karena Allah dan menghidari penyakit cinta dunia. Ikhlas ini merupakan syarat mutlak diterimanya amalan. Jangan sampai guru dihinggapi penyakit ria serta motif-motif duniawi dalam aktivitas pembelajarannya. Karena semua itu akan menimbulkan kerusakan pada dirinya dan menghilangkan kemampuannya dalam berbuat baik.

Kedua, cinta dan menginginkan kebaikan bagi siswa. Dorongan utama yang menggerakkan seseorang dalam mendidik dan mengajar seharusnya dorongan kasih sayang dan cinta, bukan dorongan benci, kemarahan, serta semangat menghujat dan menghukum.

Ketiga, memulai dari diri sendiri dan memberi teladan. Para guru perlu mengerjakan terlebih dahulu apa yang menjadi tanggungjawabnya. Jika ini diabaikan simpatik siswa akan semakin memudar. Selain itu, keteladanan (uswatun khasanah) juga akan memberi pengaruh yang jauh lebih besar dalam berkomunikasi dengan siswa dibandingkan ucapan lisan (mauidhah khasanah). Betapa sering manusia belajar dan berubah hanya dengan menyaksikan teladan orang lain, bukan disebabkan oleh ceramah dan nasihatnya.

Keempat, sabar dalam melakukan pembimbingan. Mengajar tidak mungkin berhasil tanpa kesabaran karena jalan menuju kebaikan cenderung tidak disukai bahkan cenderung memusuhi apa yang dihimbaunya. Tanpa kesabaran, maka paparannya tidak akan membuahkan hasil.

Kelima, lemah lembut. Mendidik perlu dimulai dari hati karena apa yang datang dari hati akan sampai kepada hati. Jika mendidik sampai kepada hati, maka hati itu akan terbuka untuk menerima nasihat dan petunjuk. Adapun esensi dari mendidik hati ini adalah kelemahlembutan.

Keenam, memahami metode yang tepat saat menyampaikan materi kepada siswa. Kadang seorang cukup diingatkan dengan isyarat atau contoh yang baik, tetapi mungkin ada juga orang yang lainnya perlu diskusi dan berargumentasi dengan cara-cara yang baik.

Ketujuh, permudah dan jangan mempersulit. Dalam berceramah hendaknya mempermudah dan tidak mempersulit siswa. Tentunya semua ini dalam batasan kaidah pembelajaran, bukan mempermudah dalam arti menggampangkan. Jangan jadikan materi ajar itu sesuatu yang berbelit-belit, sehingga membuat orang-orang lelah dan kehilangan kecintaan dan semangat dalam belajar. Jika siswa merasakan materi yang diterima sebagai sesuatu yang mudah, ia akan mencintainya. Dan, jika ia sudah mencintainya, maka seluruh kesulitan dan perkara ajar akan dirasakan sebagai hal yang mudah.

Kedelapan, beri kabar gembira dan jangan buat siswa ketakutan dan lari khususnya pada tahap-tahap awal. Hal ini masih ada kaitan dengan poin sebelumnya. Hendaknya para guru menampakkan keindahan ilmu yang diampunya dan membimbing siswa untuk menemukan kebahagiaan di dalamnya. Bukan sebaliknya, menampakkan wajah yang menakutkan sehingga siswa lari menjauh.

Demikian 8 kharismatik guru reborn yang semestinya juga dimiliki guru di era millenia ini. Percayalah dengan ‘mengejawantahkan’ nilai-nilai ini insya Allah akan membantu keberhasilan mereka dalam menyeru sisa kepada kebenaran dan kebaikan. Semoga bermanfaat.(*)

Oleh: Slamet Yuliono *)
Guru SMP Negeri 1 Turen



Selasa, 19 Nov 2019

Birokrasi Masih *SANGKAR EMAS*

Loading...