Guru BK Lecehkan 18 Siswa | Malang Post

Sabtu, 25 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Jumat, 06 Des 2019,

SMP Negeri 4 Kepanjen tampak dari depan. Di lembaga sekolah inilah oknum guru BK melakukan pelecehan seksual terhadap siswanya.

MALANG – Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh ulah oknum salah satu guru di SMP Negeri 4 Kepanjen. CH, guru honorer di sekolah favorit ini berbuat tidak senonoh terhadap belasan siswa dengan cara onani. Kasus miris tersebut kini sedang ditangani Satreskrim Polres Malang.
Informasi yang diperoleh, kasus yang heboh ini terjadi sekitar setahun lalu. Berdasarkan sumber, ada 18 siswa yang menjadi korbannya. Sekarang ini, para siswa yang menjadi korban duduk di kelas IX.
"Siswa yang menjadi korban ada banyak. Mereka dilakukan tidak senonoh tidak berbarengan, melainkan satu per satu," jelas sumber yang meminta namanya tidak dikorankan. 
Modus pelecahan seksual, dengan cara siswa dipanggil ke ruang CH. Di sekolah ini, CH adalah seorang guru Bimbingan Konseling (BK). Saat di ruangannya, CH, warga Desa Kedung Pedaringan Kecamatan Kepanjen ini lantas meminta tolong pada korban. CH mengatakan sedang mengadakan penelitian untuk keperluan lanjutan pendidikan S3. 
"Sebelum melakukan pelecehan, dia meminta kesediaan korban. Setelah korban mau dan disumpah dengan Alquran, lalu CH ini mengatakan penelitiannya," jelasnya.
Para korban yang tidak bisa menolak karena telah disumpah hanya pasrah. Kemudian CH menutup pintu dan selambu ruang BK. Selanjutnya Ia melepas celana siswa yang kemudian mengocok kelamin siswa hingga mengeluarkan sperma. Modus yang dilakukan terhadap semua korbannya sama. Bahkan, salah satu siswa ada yang sampai tiga kali dilakukan tidak senonoh oleh CH.
Perbuatan tak senonoh ini, baru terbongkar Jumat (29/11) lalu. Bermula dari salah satu siswa yang menjadi korban, mengadu kepada salah satu guru BK. Dari pengaduan ini, kemudian berkembang dan ternyata korban berjumlah 18 siswa. Atas kejadian ini, pihak sekolah lantas memberhentikan CH, pada Sabtu (30/11). "CH sudah dipecat dari sekolah. Kasusnya sudah dilaporkan ke polisi," katanya.
Terpisah, Ketua Komite SMPN 4 Kepanjen, Warsito SE menyampaikan bahwa dirinya sangat menyayangkan peristiwa tersebut baru terungkap belakangan ini. Warsito pun mengaku berang ketika mendengar kabar tersebut.
"Perkara ini kan sudah satu tahun lebih. Kan dia (CH, red) sudah lama di situ, takutnya mungkin ada korban-korban lain. Saya saja awalnya tidak diberitahu. Harus ditindak tegas dan diproses hukum, supaya orang lain tidak mengikuti perbuatannya," tegas Warsito.
Warsito pun memastikan jika CH sudah dipecat dari SMPN 4 Kepanjen. Warsito juga mengimbau kepada para wali murid jika ada anaknya yang menjadi korban agar segera melapor.  "Kalau orang tua mau lapor, laporkan. Saya dukung, saya dampingi, saya carikan pengacara," katanya.
Lebih jauh, Warsito membenarkan jika pihak kepolisian sudah turun tangan menyelidiki perkara tersebut. Saat ini, Warsito mengaku hanya berpikir mengenai bagaimana memulihkan kondisi psikis para korban. "Pertimbangannya psikologi anak juga. Tapi kalau saya ya, ini harus diproses hukum," pungkasnya.(agp/lim)
 

Editor : halim
Penulis : agung






WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...