Gratiskan Pajak, Ngebut Bentuk Dewan KEK | Malang Post

Jumat, 15 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Senin, 21 Okt 2019, dibaca : 801 , vandri, ira

KAWASAN Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari yang mengusung konsep pembangunan pariwisata dan ekonomi digital, diyakini berbeda dengan KEK di kawasan lain. Namun perjalanan dan perjuangan untuk menyukseskannya bukanlah hal mudah. Diskusi rutin Malang Post mengungkap pekerjaan rumah dan tantangan yang harus diselesaikan pasca turunnya PP no 68 tahun 2019 tentang KEK Singhasari.

==========

Pemimpin Redaksi Malang Post Dewi Yuhana membuka diskusi dengan menyampaikan, KEK Singhasari menjadi mimpi besar Kabupaten Malang yang keberadaannya diharapkan memberikan multiplier effect ke daerah lain. Tidak hanya untuk Kabupaten Malang, tapi juga Kota Malang, Kota Batu dan secara umum Jawa Timur. “Namun hingga sekarang ini keberadaan sebagian KEK di Indonesia belum berjalan sesuai ekspektasi besar masyarakat. Kita tentu tidak ingin KEK Singhasari stagnan dan begitu-begitu saja,” kata Hana, sapaan akrabnya.

Menjawab hal tersebut, Direktur Utama PT Intelegensia Grahatama (IGT), pengelola KEK Singhasari  David Santoso mengatakan optimis dengan masa depan KEK Singhasari. Menurutnya, lokasi KEK di Kabupaten Malang ini berbeda dengan KEK di daerah lain yang lokasinya tak mudah dijangkau. “Infrastruktur menuju KEK Singhasari sudah mendukung, dekat jalan tol dan tinggal membangun infrastruktur  tambahan menuju lokasi,” kata pengusaha muda ini.

Ia dan tim serta stakeholders dari Pemkab Malang sudah melalui perjalanan panjang sejak 2011 hingga PP terbit tahun ini. ”Saya melihat Singosari memiliki potensi luar biasa. Pemandangan di kawasan ini sangat natural, dengan kultur yang masih sangat kental, memberikan nilai plus kawasan ini,”  ungkapnya.

KEK Singhasari, lanjutnya, dibuat dalam kluster sesuai tipologi masyarakat untuk menciptakan ekosistem sebagai bentuk penguatan sumber daya manusia (SDM). ”Karena untuk membangun KEK, bahan bakunya adalah manusia. Tapi kami tidak bingung, karena di Malang ini banyak SDM mumpuni,” papar David. 

Dia menambahkan, ada empat sasaran pengembangan KEK Singhasari. Pertama meningkatkan penanaman modal melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan  geoekonomi dan geostrategi. Kedua optimalisasi kegiatan industri, lalu percepatan pengembangan daerah dan keempat  menciptakan lapangan pekerjaan.

Pengembangan KEK Singhasari mengusung konsep pembangunan pariwisata dan ekonomi digital. Terdiri dari contemporary heritage tourism, technopark (research and development, education centre, big data centre), enlightenment park dan wellness center, entertainment core (MICE & commercial area), resort, villa and family leisure.

Karena konsep itulah, David optimis KEK Singhasari berbeda dengan KEK di daerah lain yang tak berjalan.”Di tempat lain medannya berat. Karena itu saya sangat yakin KEK Singhasari  terwujud, bukan sekadar mimpi,” ulas dia.  Sebagai penggagas dan pelaksana, David ingin KEK Singhasari menjadi booster atau pendorong percepatan pembangunan di daerah.

Optimisme David tinggi karena ia telah bergerak  jauh hari sebelumnya. PT IGT mulai menawarkan KEK kepada investor sejak 1,5 tahun lalu. Menurut dia, penawaran penanaman modal tidak dilakukan kepada orang-orang biasa. Namun langsung kepada vendor-vendor besar. Untuk melancarkan upaya itu, pihaknya juga bekerjsama dengan para akademisi.

Sesuai PP 68 tahun 2019 tentang KEK Singhasari, lahan yang disetujui seluas 120, 3 hektare. Kini desainnya masih terus berubah. Namun demikian, dia yakin KEK berjalan. Apalagi sesuai PP, tahap pertama KEK  harus selesai dalam tiga tahun.

General Manager PT IGT Kriswidyat Praswanto menambahkan, keberadaan KEK  memberi multiplier effect. Tak  hanya menyentuh pariwisata, tapi juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

Harus Bentuk Dewan KEK dalam 90 Hari

Kepala Bapenda Kabupaten Malang Purnadi yang juga hadir dalam diskusi mengatakan, setelah PP KEK diserahkan, kini tahap awal yang dilakukan adalah pembentukan Dewan KEK selama 90 hari sejak PP PP 68 tahun 2019 diterbitkan.

PP KEK ditetapkan pada 27 September lalu. Sampai 17 Oktober lalu atau 20 hari sejak penetapan PP, Dewan KEK  belum terbentuk. Itu berarti tersisa 70 hari untuk bentuk Dewan KEK (dan 67 hari terhitung dari hari ini, Red). Menurut Purnadi, Dewan KEK memiliki tugas menangani segala kegiatan. Tentu saja, disesuaikan dengan kedudukannya.

Mendukung percepatan pembangunan KEK Singhasari, Pemkab Malang memberikan insentif kepada investor.  ”Agar investor tertarik, kami akan memberikan insentif, dengan gratis pajak minimal lima tahun,” ungkapnya.

Sebab Pemkab meyakini, keberadaan KEK memberikan pengaruh pada kesejahteraan masyarakat. “KEK akan banyak menarik wisatawan. Masyarakat yang datang akan berbelanja di wilayah Malang. Dampaknya tidak hanya dirasakan warga Singosari, tapi juga warga sekitar Malang Raya,” katanya.

Sementara itu Kepala Bidang Bina Teknik Dinas PU Bina Marga, Kabupaten Malang Khairul Kusuma memaparkan, penetapan PP KEK membutuhkan perjuangan panjang. Ide KEK ini muncul sejak tahun 2011 lalu. Awalnya hanya untuk pengembangan pariwisata. Konsentrasi saat itu pengembangan di wilayah Lawang, Singosari dan Karangploso.

 ”Waktu itu dipilih Singosari karena itu kawasan heritage. Sesuai dengan RTRW kami kemudian mengusulkan Singosari untuk pengembangan kawasan wisata,’’ ungkapnya.

Awal luas lahan yang diusulkan 300 hektare. ”Sejak tahun 2011 kami terus melakukan koordinasi. Baik dengan perusahaan yang mengusulkan, pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Tidak mudah mendapatkan pesetujuan. Kami bersyukur akhirnya disetujui,” ungkapnya.

Dia mengatakan, setelah disetujui PP ini, langkah selanjutnya adalah melakukan rencana aksi. ”Tahun 2018 lalu, juga ada usulan pembuatan fly over. Usulan itu dicoret  oleh pemerintah pusat,’’ katanya. Yang pasti menurut Oong, sapaan akrab  Khairul Kusuma, setelah PP KEK ditetapkan, tim KEK ini langsung bergerak.

Diskusi ini dikuti berbagai kalangan. Hadir juga Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang Azka Subhan, Camat Singosari Bagus Sulistyawan, Kades Tunjungtirto Hanik Dwi M dan berbagai instansi terkait di Pemkab Malang. Selain itu dikuti juga peneliti pariwisata FIA Universitas Brawijaya, Dr Edriana Pangestuti SE MSi, Aulia Lukman SS, SPd dan pakar ekonomi UB, Nugroho Suryo Bintoro, SE, M.Ec.Dev, Ph.D.(ira/van/bersambung)



Loading...