Go Literasi

Jumat, 18 Oktober 2019

Rabu, 25 Sep 2019, dibaca : 486 , rosida, Gevzi

Andrea Hirata, seorang penari pena yang karya-karyanya dapat memukau jutaan manusia sampai manca negara ini telah menuangkan kisah roman yang dikemas secara epik dalam sebuah novel yang berjudul ‘Ayah’. Novel yang diterbitkan pada akhir Mei 2016 ini memiliki ragam unsur yang kaya rasa. Selain romansa, novel spektakuler ini juga bercerita tentang persahabatan dan perjalanan hidup empat sekawan dari tanah Belitong, yaitu Sabari, Ukun, Toharun, dan Tamat. Kisah roman yang tertuang di dalam novel ‘Ayah’ diperankan oleh salah seorang tokoh dari ke-empat sekawan yang dapat digambarkan sebagai pria yang lugu, penurut, jujur, dan sabar, sesuai dengan namanya, yaitu Sabari.
Kisah cinta Sabari bermula saat ia duduk di bangku SMA, berawal dari seorang gadis yang tiba-tiba merampas kertas berisikan jawaban ujian masuk SMA milik Sabari, lalu menyalin semua jawaban milik Sabari. Sambil merekahkan senyum terbaiknya, gadis itu memberikan Sabari sebuah pensil sebagai tanda terima kasih. Mungkin itu adalah hal yang biasa, tapi bagi Sabari, sikap sembrono dan sikap manis dari gadis itu bisa menumbuhkan perasaan yang luar biasa dan terkesan istimewa di mata Sabari. Marlena, itulah nama gadis yang telah mencuri hati Sabari dan mengubah kehidupannya.
Sabari mengawali hari-harinya tanpa luput dari ingatan saat pertama kali ia berjumpa dengan Marlena. Hal itu yang membuat ke-tiga sahabat Sabari geleng-geleng kepala melihat Sabari yang semakin hari semakin dimabuk cinta. Bukannya mendukung, ke-tiga sahabat Sabari ini justru mengatai Sabari senewen lantaran Sabari yang tak habis-habisnya tersenyum ketika sepintas saja melihat Marlena berlalu dari hadapannya. Sayangnya, secinta apapun Sabari pada Marlena, Marlena tak sekalipun membuka hatinya untuk Sabari. Ibarat kata, sekalipun nyawa Sabari telah dipersembahkan untuk Marlena, Marlena mungkin akan lebih memilih mati daripada harus menerima cinta Sabari. Kenyataan pahit akan cinta yang bertepuk sebelah tangan harus Sabari pikul sendirian. Sikap acuh, angkuh, jijik, dan muak Marlena terhadap Sabari tak sedikitpun mengurangi rasa cintanya pada Marlena. Bahkan, ibarat kata orang sedang mencangkul, semakin banyak ayunan cangkul yang dihantamkan pada medan tanah, semakin dalam pula lubang yang dibuat. Begitu pula dengan Sabari, tak peduli bagaimana sikap Marlena padanya, seangkuh apapun Marlena, sepedas apapun cacian yang keluar dari mulutnya, Sabari justru semakin mencintainya.
Ketiga kawan Sabari telah melihat betapa Sabari tak pernah menduakan cintanya, betapa Sabari sungguh mencintai Marlena, dan betapa Sabari telah mengubah dirinya dan mengorbankan segalanya demi Marlena. Ketiga kawan Sabari pun tak tahan melihat Sabari menjadi budak cinta Marlena hingga ia menjadi pria yang bisa dikatakan benar-benar senewen. Keinginan membantu Sabari untuk keluar dari zona ke-senewenan-nya itu pun muncul dari dalam benak kawan-kawannya. Berkelanalah kawan-kawan Sabari untuk membawa pulang Marlena yang pergi entah kemana. Di tanah Belitonglah Sabari terus menanti kepulangan Marlena, wanita yang teramat dicintainya sampai ia tutup usia.
Novel karya Andrea Hirata satu ini benar-benar terkesan dramatis dengan menampilkan kisah-kisah yang terasa begitu pahit dan manis. Kelihaian Andrea Hirata dalam membawakan alur cerita dan kemampuannya menuangkan bilih-bilih kata membuat novel ini begitu kaya akan makna. Tak dapat dibayangkan sudah berapa banyak jiwa yang terpukau dan tersentuh hatinya setelah membaca novel luar biasa ini. Penggunaan dan pemilihan kata yang beraneka membuat pembaca semakin bergairah untuk mencari tahu apa yang ingin Andrea Hirata sampaikan dalam novel karyanya.
Bagi para remaja yang sedang mencari tahu apa itu cinta sejati dan bagi para pasangan yang ingin belajar untuk memaknai arti dari mempertahankan rasa meski banyak rintangan yang berusaha menghentikan, novel ini akan sangat membantu untuk menjawab segala persoalan seputar cinta. Tidak hanya itu, bagi para pembaca yang gemar membaca novel-novel dengan gudang kosakata dan kualitas kata-kata penuh makna yang dalam, novel ini sangat pantas untuk dijadikan sebagai pilihan utama. Pada intinya, novel ini bisa dibaca mulai dari kalangan remaja ke atas karena novel ini mengandung banyak nilai kehidupan dan nilai kemasyarakatan yang sangat kuat dan berkesinambungan dengan nilai moral, sosial, dan agama.
Lalu dimanakah letak korelasi antara isi cerita dengan judul yang jelas tertulis ‘Ayah’? Tentu sebagai penulis handal, Andrea Hirata selalu bisa membuat setiap karyanya memiliki banyak sekali kejutan yang dapat menerbangkan pembaca menuju langit-langit fantasi. Siapakah tokoh yang disebut-sebut sebagai Ayah dalam novel satu ini? Dan bagaimanakah akhir dari cerita yang tertuang dalam sedu-sedan sang pengarang? Akan lebih mengena baik makna maupun rasa apabila para pembaca menikmati novel ini secara langsung. Oleh karena itu, sangat disayangkan apabila para pembaca mengurungkan niat untuk mulai berpertualang dan menyusuri ladang penuh makna dalam karya ternama milik Andrea Hirata. (*)



Minggu, 13 Okt 2019

Jangan Dipendam

Minggu, 13 Okt 2019

Lepaskan Diri dari Depresi

Rabu, 09 Okt 2019

Simpel nan Lezat ala Rice Box

Loading...