Gimmick Kabinet | Malang POST

Senin, 24 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Gimmick Kabinet

Kamis, 24 Okt 2019,

Benar apa kata penyanyi Achmad Albar bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah. Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan. Ada peran wajar, ada peran berpura-pura. Peran yang kocak bikin kita terbahak, peran bercinta bikin orang mabuk kepayang…..
Dunia sandiwara menuntut semua bermain peran. Semua tampil menghibur, membuat tawa, biar dunia ini gembira.
    Demikian halnya dengan panggung politik tanah air terkini. Lihat saja momentum audisi pencarian menteri, cara mengenalkan para menteri, cara menyerahkan SK, dan melantik para menteri kabinet telah menjadi tontonan yang menarik.

  Baca juga : Sutiaji Siapkan 1000 Rompi Punishment
Kabinet Indonesia Maju muncul dengan gimmick yang mampu menghibur dan membangun simpati. Para menteri dikenalkan satu per satu kepada publik dengan baju putih dan celana hitam. “Show” para calon menteri ini sontak jadi perbincangan seru dan bikin ramai di media sosial (medsos).
    Sejumlah meme, foto-foto lucu dan video parodi baju putih bermunculan di medsos. Humor seputar telepon istana dan baju putih bergulir dari satu WhatsApp Group (WAG) yang satu ke yang lain. Momentum pelantikan kabinet itu pun akhirnya jadi sesuatu yang cukup menghibur masyarakat.
Gimmick yang didesain dalam prosesi pelantikan para pembantu presiden ini seakan menjadi bagian dari pertunjukan di panggung sandiwara politik tanah air.

   Baca juga : PDIP Sebut Nasib Gibran di Tangan Megawati
    Inilah racikan menteri ala Presiden Jokowi. Setelah resmi dilantik sebagai Presiden RI periode 2019-2024, Jokowi langsung meracik kabinetnya. Meracik kabinet memang tak mudah. Seperti halnya meramu sebuah menu makanan, paduan yang tepat antara bahan yang digunakan sangat menentukan cita rasa makanan yang akan dibuat dan disajikan. Makanan perlu bahan yang baik dan berkualitas untuk menghasilkan rasa yang enak. Demikian halnya soal penyajian. Rasa makanan yang enak bisa berkurang nikmatnya ketika penyajiannya tak menarik.
    Jokowi telah meracik sejumlah menteri dalam Kabinet Indonesia Maju dari utusan parpol dan non parpol (banyak yang menyebut kalangan profesional). Jokowi juga telah menyajikan racikan ini kepada publik dengan cara yang tak biasa (out of the box).
Namun, melihat diskusi yang ramai di masyarakat, terutama di linimasa, tampak bahwa apa yang diracik Jokowi tak mampu memuaskan banyak pihak dan banyak kepentingan.
    Sejumlah menteri yang baru dilantik Presiden Jokowi telah menuai beragam komentar masyarakat. Sebut saja sebagai contoh Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sejak awal kemunculannya ketika perkenalan di istana, sejumlah pengemudi Gojek ramai meminta agar Nadiem tak menerima posisi menteri ini. Setelah resmi diumumkan dan dilantik, sejumlah kalangan juga cukup meragukan kemampuan menteri termuda berusia 35 tahun itu.
    Tak sedikit berita utama (headline) surat kabar nasional dan lokal juga menampilkan sosok menteri manta CEO Gojek itu. Koran Malang Post misalnya, memuat headline dengan judul “Nadiem Trending Topic”. Sebuah koran lain menulis headline bertajuk “Simsalabim Nadiem”.
Di medsos Nadiem menjadi topik yang paling ramai dibicarakan. Bahkan di medsos bermunculan beragam meme, cerita lucu, parodi satire tentang sosok Nadiem. Semoga kemunculan Nadiem bukanlah bagian dari permainan gimmick politik.
    Sambil lesehan di tangga istana, para menteri berbaju batik itu di perkenalkan pada publik. Gimmick perkenalan menteri ini cukup berhasil menyita perhatian masyarakat. Ada wajah-wajah lama, tak sedikit pula wajah baru. Ada wakil parpol, ada juga yang non parpol. Jokowi menyebut kabinetnya ini sebagai Kabinet Indonesia Maju. Kabinet yang diharapkan bisa mengantarkan Indonesia menjadi negara yang semakin maju.
    Nama Kabinet Indonesia Maju untuk 2019-2024 ini merupakan kelanjutan dari kabinet sebelumnya yakni Kabinet Kerja. Kalau lima tahun lalu sudah kerja, kerja, dan kerja, maka sekarang kerja yang dilakukan bakal difokuskan pada kemajuan Indonesia. Jajaran kementerian di Kabinet Indonesia Maju dituntut bekerja keras, kerja cepat, kerja cerdas, dan kerja tuntas demi mewujudkan apa yang menjadi visi presiden lima tahun mendatang.
    Menteri adalah pembantu presiden. Karena pembantu, maka sang pembantu tentu harus mengikuti apa kata juragannya. Artinya, para menteri harus mampu menerjemahkan apa yang telah menjadi visi Presiden Jokowi. Sang menteri tak bisa membawa visi dan misi sendiri. Para menteri kabinet juga harus bekerja sebagai sebuah tim kerja (team work) yang solid walaupun mereka berasal dari utusan parpol dan ada yang dari kalangan profesional.
    Dalam pidato pelantikan presiden dan wakil presiden, Jokowi menyampaikan sejumlah program utamanya dalam lima tahun mendatang. Jokowi menyatakan salah satu prioritas utama adalah pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Penekanan pada SDM ini untuk merespon bonus demografi dan terciptanya peluang kerja. Pembangunan instrastruktur juga masih terus dilanjutkan.

    Dalam pidatonya, Jokowi juga menekankan perlunya penyederhanaan birokrasi dan segala bentuk kendala regulasi. Transformasi ekonomi juga menjadi perhatian pemerintahan Jokowi dalam lima tahun mendatang. Lima program unggulan Jokowi ini menuntut kerja keras, dan serius. Tak bisa target tercapai hanya dengan bermain gimmick, yang hanya menghibur di panggung depan (front stage), sementara esensi permasalahan sesungguhnya tak teratasi.
    Tantangan menjawab revolusi industri 4.0 harus disikapi dengan cepat. Tak ada waktu lagi bagi para pembantu presiden ini bekerja setengah hati. Para menteri dituntut bekerja full power dengan target dan hasil yang jelas dan terukur. Bagi yang hasil kerjanya tak memenuhi target, Jokowi berjanji akan menurunkannya di tengah jalan.
Semoga ancaman Jokowi ini serius, bukan sekedar bagian dari gimmick belaka. Kalau serius, ancaman tersebut merupakan tantangan agar para menteri dapat menjalankan tugasnya on fire.
    Dari beragam komentar versi netizen mengindikasikan bahwa kabinet racikan Jokowi ini tak seratus persen mengakomodasi semua kepentingan. Ekspektasi publik tak semua terjawab. Sejumlah parpol tak semua happy.
Tapi, inilah politik. Bagi-bagi kekuasaan itu memang sulit. Antara kue yang dibagi dengan yang meminta bagian tak sebanding. Tapi inilah demokrasi. Biarlah yang tak puas bisa menjadi sarana kontrol terhadap pemerintah dan kerja kabinet.
    Proporsi 45 persen menteri dari parpol dan 55 persen non parpol diharapkan mampu membawa Indonesia maju. Sejumlah harapan Pak Jokowi dan seluruh rakyat Indonesia pada kerja nyata para menteri menunggu pembuktian. Ini kesempatan para menteri terpilih untuk membuktikan kemampuannya dan menjawab keraguan sejumlah masyarakat.
Selamat bekerja Kabinet Indonesia Maju 2019-2024, dan jangan suka bermain gimmick. (*)

Oleh: Sugeng Winarno
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM

Editor : mp
Penulis : opini

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...