Gila, Perkosaan di Parkiran Kampus Ternyata Laporan Palsu | Malang POST

Rabu, 26 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Gila, Perkosaan di Parkiran Kampus Ternyata Laporan Palsu

Kamis, 26 Sep 2019,

MALANG – Benar-benar tak masuk logika apa yang dilakukan Tulip (nama samaran), 18, warga Kebayoran Lama. Betapa tidak, laporan perkosaan yang dibuatnya pada 29 Agustus 2019 di Polres Makota, bahwa ia diperkosa, BE, 22, teman kekasihnya, dalam mobil di parkiran Fakultas Hukum kampus ternama pukul 13.30, ternyata palsu. Bila terbukti, pelapor dan pihak terkait terancam pasal laporan palsu dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.
Dalam laporan polisi, Tulip menceritakan kronologi kejadian yang ternyata tidak benar alias fiktif. Ia menyebut, saat itu, ia sedang menunggu kekasihnya di dalam mobil. Tak lama, BE, yang juga teman dari pacarnya, mengetuk kaca mobil yang ditumpanginya. BE meminta korban untuk membuka pintu mobil. Karena merasa kenal dengan pelaku BE, dan tak memiliki prasangka apa-apa, korban membuka pintu dan keluar dari mobil. Dia membiarkan BE masuk ke dalam mobil.
Hanya saja, begitu keluar dari kendaraan, korban ditarik paksa masuk ke dalam mobil lagi oleh pelaku BE. Pintu dan jendela mobil langsung dikunci oleh BE. Setelah itu, pelaku BE memaksa korban untuk melayani nafsu bejatnya. Usai melakukan perbuatan bejatnya, pelaku BE keluar dan meninggalkan korban di dalam mobil. Sore harinya, korban melaporkan kasusnya ke Polres Makota.
Menanggapi laporan tersebut, Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Komang Yogi Arya Wiguna menegaskan, bahwa keterangan yang diungkapkan oleh Tulip adalah laporan palsu. “Setelah kami dalami dan lakukan pemeriksaan, penyidik kepolisian mencocokkan kronologi daripada saksi dan pelapor, ternyata laporan tersebut tidak benar,” tegasnya, Rabu (25/9).
Komang menguraikan, ketika dilakukan pemeriksaan terhadap pelapor dan terlapor, terdapat ketidaksamaan keterangan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pada jam dan tanggal yang tertera dalam laporan polisi, saat itu, BE sedang mengikuti proses perkuliahan. “Kami sudah memeriksa saksi-saks yang ada,” terangnya.
Lantas apa motivasi korban melaporkan kasus perkosaan? Ternyata pacar Tulip merasa sakit hati terhadap terlapor. AL, pacar Tulip cemburu terhadap BE yang diduga memiliki hubungan asmara dengan Tulip. Untuk itu, AL meminta Tulip untuk melapor ke pihak kepolisian dengan dugaan pemerkosaan.
“Setelah kami dalami alibi dan fakta-fakta yang ada di lapangan, pelapor akhirnya mengakui bahwasanya yang bersangkutan membuat laporan palsu karena disuruh oleh pacarnya. Ketiganya merupakan rekan satu kampus,” jelas Komang.
Atas dasar laporan tersebut, pihak kepolisian masih mendalami kasus ini. Sampai saat ini, masih belum ada penetapan tersangka. “Kami masih melakukan langkah-langkah pemeriksaan dengan menghadirkan saksi tambahan. Nanti, kami akan lakukan gelar perkara, penyelidikan masih terus berlanjut,” ungkap Komang.
Namun, jika terbukti ada laporan palsu terkait kasus ini, pihak kepolisian tidak segan-segan memberikan hukuman terkait hal tersebut kepada pelapor dan pihak yang terkait. “Kalau laporan palsu, ada konsekuensi, diatur dalam pasal 242 ayat 1 junto 20 KUHP. Ancaman hukuman maksimalnya 7 tahun penjara,” beber dia.
Sementara, jika terlapor merasa keberatan atau dirugikan dengan laporan perkosaan tersebut, pihaknya juga membuka kesempatan untuk melakukan laporan. “Kalau ada yang tidak terima dengan pembuatan laporan ini, silahkan saja kalau ingin melakukan pengaduan keterangan yang diberikan pelapor. Paling tidak, jangka waktunya tiga minggu,” pungkasnya.(tea/lim)

Editor : halim
Penulis : amanda

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi
Loading...