Gaperoma: Naikkan Tarif Cukai dan HJE SKT Golongan 1A | Malang Post

Kamis, 14 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Kamis, 26 Sep 2019, dibaca : 459 , bagus, bagus

Kebijakan Cukai Pemerintah 2020
MALANG-Kebijakan pemerintah menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen dan harga jual eceran 35 persen pada 2020 mendapat respons dari Malang. Gabungan Perusahaan Rokok Malang (Gaperoma) mengusulkan agar Pemerintah menaikkan tarif cukai dan HJE Sigaret Kretek Tangan (SKT) Golongan 1 A. Kenaikannya harus lebih tinggi dari golongan di bawahnya, sebab itu merupakan rokok jenis SKT premium.
Hal tersebut ditegaskan Ketua Gaperoma Johny SH kepada Malang Post, kemarin. Menurutnya, rokok jenis SKT premium sangat digemari masyarakat dan tidak terpengaruh kenaikan harga.  Pendapat Johny ini berbeda dari dua rekomendasi salah satu pabrikan besar kepada pemerintah beberapa waktu lalu. Rekomendasi tersebut diberikan oleh PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) kepada sejumlah media, pada Rabu (25/9). 
Direktur Corporate Affairs Sampoerna, Troy Modlin memberikan dua rekomendasi kepada pemerintah, terutama terkait segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT).  Rekomendasi pertama penggabungan batasan produksi Sigaret Putih Mesin (SPM) dengan Sigaret Kretek Mesin menjadi tiga miliar batang per tahun. Rekomendasi kedua yakni mempertahankan tarif cukai dan batasan produksi SKT. Sebab SKT dinilai berkarakter padat karya dan rentan terhadap perubahan harga. 
“Ya saya tahu, saya baca juga pabrikan itu (HMSP, Red) juga mengusulkan penurunan batasan volume produksi SKT golongan 2 dari 2 miliar batang ke 1 miliar batang per tahun. Kami menolak usulan itu,” tegas Johny.
Menurut dia, usulan tersebut jelas memaksa pabrik kecil untuk bersaing dengan pabrikan besar. Jika pemerintah menerima rekomendasi itu, maka yang terancam pertama adalah pabrikan di bawah Gaperoma. Organisasi itu menaungi sekitar 16 pabrikan, semuanya SKT dari golongan 2 dan 3. 
“Saat ini saja, industri rokok sedang menghadapi kebijakan berat kenaikan cukai 23 persen dan HJE 35 persen. Ide-ide itu (Rekomendasi HMSP, Red) malah akan menghancurkan perusahaan kecil dan menengah,” urainya.
Ia juga merespons soal rekomednasi penggabungan SPM dan SKM menjadi tiga miliar batang per tahun. Menurut Gaperoma, perusahaan di segmen SPM dan SKM akan dipasang bersainga di golongan 1. Kondisi itu terjadi jika mereka memproduksi total lebih dari 3 miliar batang. Johny menegaskan, ide itu akan menghilangkan persaingan di bidang  SKM dan SPM.
“Hal itu akan menimbulkan pesiangan tidak sehat, karena memaksa perusahaan yang sedang mengembangkan mereknya untuk bersaing di golongan 1,” imbuhnya.
Maka dibanding dua rekomendasi itu, Johny lebih merekomendasi pemerintah menaikkan tarif cukai dan HJE SKT golongan 1. Ia meminta pemerintah tidak mengikuti rekomendasi yang lain. Apalagi kebijakan yang ada saat ini melalui PMK 156/2018 ia nilai sudah baik.
“PMK 156/2018 itu sudah mewakili seluruh industri,” pungkasnya.(ary)



Loading...