Forpimda Ajak Guru Selamatkan Generasi Bangsa | Malang Post

Senin, 16 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Selasa, 01 Okt 2019, dibaca : 372 , udi, agung

MALANG - Menyikapi kerusuhan aksi unjuk rasa yang melibatkan pelajar, Polres Malang menggelar silaturahmi tiga pilar pada Selasa (1/10), di ruang Sanika Satyawada. Tujuannya untuk bersama-sama menyelamatkan generasi muda penerus bangsa, dari perbuatan menyimpang.
Kegiatan silaturrahmi tersebut menghadirkan Forkopimda. Selain Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, Bupati Malang, Drs. H.M. Sanusi, Dandim 0818 wilayah Kabupaten Malang - Kota Batu, Letkol Inf Ferry Muzawwad, Ketua DPRD Didik Gatot Subroto serta Ketua Pengadilan Negeri Kepanjen, Sudar, SH. Hadir pula seluruh Kepala Sekolah dan Wakasek Kesiswaan serta perwakilan pelajar SMA dan SMK se-Kabupaten Malang.
Semuanya kemudian berikrar menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Silaturrahmi tiga pilar ini, kami adakan untuk menyikapi dinamika politik yang terjadi beberapa hari terakhir. Dimana pelajar terpancing isu ikut melakukan aksi unjuk rasa," ungkap Yade Setiawan Ujung.
Dikatakan, bahwa aksi unjuk rasa yang masih terjadi sangat tidak relevan. Karena beberapa tuntutan dalam aksi, sudah dipenuhi oleh Presiden, yakni dengan menunda beberapa rancangan undang-undang (RUU).
Fenomena ajakan terhadap pelajar untuk ikut berunjuk rasa perlu disikapi. Apalagi Menteri Pendidikan, juga sudah mengeluarkan surat yang disebar ke seluruh sekokah, supaya melarang peserta didik ikut melakukan aksi, yang bisa mengancam keselamatan jiwanya.
"Karenanya melalui silaturrahmi tiga pilar ini, kami menekan kepada para satuan pendidik, untuk wajib mencegah dan menjaga peserta didik supaya tidak menjadi korban kekerasan. Satuan pendidik termasuk seluruh Forpimda, wajib menjamin keamanan pelajar, baik di dalam dan luar sekolah," terangnya.
"Termasuk juga peran orang tua, harus ikut bertanggungjawab. Karena pendidikan karakter pertama terhadap anak, berada di tangan orangtua," tambahnya.
Lebih lanjut, Ujung mengatakan, melakukan aksi unjuk rasa memang hak warga untuk menyalurkan aspirasinya. Tetapi tidak dengan melibatkan anak yang berpotensi membahayakan keselamatannya.  
"Para pelajar ini adalah generasi muda penerus bangsa. Jangan sampai mereka menjadi korban kekerasan. Karenanya untuk membangun karakter yang bagus, harus diawasi dan dijaga dengan memberikan kegiatan positif. Di luar negeri, pelajar sudah bisa buat prakarya seperti robot dan lainnya. Masak di Indonesia prakarya pelajar unjuk rasa," paparnya.
Dandim 0818 wilayah Kabupaten Malang - Kota Batu, Letkol Inf Ferry Muzawwad, mengatakan kejadian kerusuhan yang terjadi belakangan sama dengan merongrong NKRI. Bahkan, kondisi zaman dahulu ternyata lebih baik dari sekarang. Sekalipun dulu tidak ada HP, dan anak berangkat dengan jalan kaki. "Sekarang yang terjadi justru budaya terbalik. Dulu anak takut dengan guru, tetapi sekarang guru yang takut dengan siswanya. Sehingga ini menjadi tanggung jawab bersama untuk memperbaiki karakter generasi muda bangsa," jelas Ferry Muzawwad.
Sementara Bupati Malang, Drs. H.M. Sanusi meminta supaya guru dan siswa bisa menjaga hubungan harmonis. Guru harus bisa melakukan pembinaan dengan baik terhadap siswa, supaya tidak terpancing kegiatan negatif yang merugikan dirinya. "Saya berpesan kepada adik-adik pelajar SMA dan SMK supaya menjaga NKRI dengan penuh akhlakul karimah, karena bagian warisan untuk generasi muda bangsa," pungkas Sanusi. (agp/udi)



Senin, 16 Des 2019

Gondanglegi Kena Trase Tol

Loading...