Fintech Lending Legal, Tiga Hal Boleh Diakses - Malang Post

Kamis, 21 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 15 Okt 2019, dibaca : 300 , halim, linda

MALANG - Perkembangan ekonomi digital memudahkan akses masyarakat dalam memenuhi segala kebutuhannya. Salah satunya bila sebelumnya ingin memesan ojek harus datang ke pangkalan ojek, namun perilaku tersebut dibalik. Masyarakat hanya tinggal menggunakan aplikasi di dalam smartphone, driver akan menjemput di lokasi customer.
Kehadiran fintech tidak hanya memudahkan masyarakat dalam memesan ojek melainkan juga berbagai kebutuhan lainnya. Seperti makan, pakaian hingga pinjaman secara online. "Cikal bakal fintech ini sudah ada sejak dulu, yakni di ATM hanya tinggal gesek uang langsung ke luar. Seiring berkembangnya bidang teknologi banyak bermunculan fintech baru," ujar Kepala Perizinan dan Pengawasan Fintech Untuk Produk IKNB OJK, Alvin Leonardo Ezra Taulu saat mengisi materi Media Gathering OJK di Hotel Bumi Surabaya, Senin (14/10).
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun sudah menangkap perkembangan teknologi tersebut dengan hadirnya pinjam meminjam melalui Fintech Peer To Peer Lending (FP2PL). Yakni penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan pemberi dan penerima pinjaman dengan perjanjian simpan meminjam melalui sistem elektronik.
Selain mudah mendapatkan dana dari pinjaman online, namun perlu diketahui bahwa masyarakat juga harus membayarkan pinjamannya sesuai tenor waktu yang ditentukan. Jika melebihi batas pengembalian maka pihak fintech akan mengakses seluruh informasi dari handphone peminjam. Inilah yang kerap meresahkan masyarakat.
"Untuk itu demi keamanan meminjam dana secara online, OJK telah menetapkan tiga hal yang boleh diakses oleh pihak fintech. Antara lain camera, microphone, dan location. Tiga indikator ini yang bisa membedakan legal dan ilegal," terang Alvin
Apabila pihak fintech ingin mengakses lebih dari tiga indikator tersebut sebaiknya perlu dipertimbangkan kembali keputusan meminjam secara online. Untuk mengetahui apakah fintech tersebut legal atau ilegal bisa memastikannya di website OJK.
"Total fintech yang terdaftar atau berizin di OJK sebanyak 127 perusahaan, dengan mayoritas pengguna fintech di usia produktif," tandasnya.
Perkembangan fintech lending di Indonesia tahun 2019 mengalami perkembangan yang pesat. Akumulasi jumlah pinjaman per Agustus 2019 mencapai Rp 54.72 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 141.40 persen. (lin/lim)



Loading...