Malang Post - Enam Ribu Kepala Keluarga Huni Kawasan Rawan Longsor

Jumat, 03 April 2020

  Mengikuti :


Enam Ribu Kepala Keluarga Huni Kawasan Rawan Longsor

Rabu, 26 Feb 2020

MALANG - Seluruh kecamatan di Kota Malang memiliki kawasan rawan longsor. Bencana longsor di Muharto Gang V menjadi contoh problematika Kota Malang, yakni kerawanan pemukiman di sempadan sungai atau DAS Brantas. Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji mewacanakan relokasi warga DAS dan membangunkan rumah susun.


Hal tersebut dia tegaskan ketika berkunjung ke kawasan bencana longsor di Muharto Gang V, Selasa (25/2). Saat ini terdapat 6 ribu an Kepala Keluarga bermukim di kawasan sempadan sungai. Jumlahnya sekitar 25 ribu jiwa, seluruhnyah “dihantui” bencana longsor. Dan memang sebagian besar pemukiman berada di sempadan sungai atau didirikan di atas plengsengan.
Kata Sutiaji, tugas Pemkot Malang ke depan mengatasi masalah warga yang menghuni sempadan sungai. Dia menjelaskan mengenai rencana mendirikan Rusun bagi warga sempadan sungai tersebut.


Menurut wali kota, rumah warga yang berada di kawasan sempadan sungai turut menggerus ketahanan plengsengan penahan arus sungai Brantas yang begitu deras. Satu-satunya cara menghindari bahaya adalah relokasi. Meski begitu hal tersebut masih wacana dan rencana yang belum tahu kapan akan direalisasikan. Pasalnya menunggu kajian detail dan diajukan pada pemerintah pusat agar mendapatkan bantuan.
“Memang ada program Kementerian PU dengan anggaran Rp 50 juta untuk satu rumah. Namun, program ini tidak diperuntukkan bagi rumah yang berada di sempadan sungai. Makanya kita mau cari solusi lagi, karena kalau sudah rumah di sempadan sungai ini kita tidak bisa apa-apa,” terangnya menjelaskan tindak lanjut Pemkot Malang belum dapat berbuat banyak bagi warga yang tinggal di sempadan sungai.


Dia menambahkan, hal-hal yang dapat dilakukan adalah mengimbau warga untuk pindah demi keselamatan diri. Sambil mencari formulasi lain untuk “memindahkan” warga yang sudah bertahun-tahun lamanya hidup di sempadan sungai.  Salah satunya berkoordinasi untuk melakukan normalisasi sungai dan juga saluran drainase dengan GASS (Gerakan Angkut Sampah dan Sedimen) agar tidak memperparah keadaan.
“Sambil kita mencari solusinya. Dulu kan kita punya simulasi. Jadi kita beli rumah di atas itu (menunjuk kawasan Muharto lain yang berada di luar sempadan sungai,red) kita buat rusunawa jadi orang tidak pindah jauh, tetapi di tempat sini saja,” tegas Sutiaji.


Sementara untuk penanganan longsor yang terjadi belum lama ini di beberapa kawasan di Kota Malang termasuk Muharto tersebut, Sutiaji menegaskan penanganan sesuai prosedural sudah pasti dilakukan. Yakni memberi bantuan penanggulangan dan rekonstruksi.
Hanya saja ketika plengsengan dekat DAS Brantas yang rusak, bantuan sederhana seperti penahan plengsengan dari sak-sak pasir sajalah yang bisa diberikan.
“Karena ini sudah wilayah provinsi kita hanya bisa berkoordinasi saja,” pungkas Sutiaji. (ica/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina

  Berita Lainnya





Loading...