Empat Sehat Lima Sampoerna | Malang Post

Senin, 18 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Rabu, 02 Okt 2019, dibaca : 672 , mp, opini

Tidak banyak yang tahu dan tidak banyak yang peduli bahwa 2 Oktober diperingati sebagai Hari Susu Nasional (National Milk Day), melengkapi 1 Juni sebagai Hari Susu Dunia (World Milk Day). Di Indonesia susu tidak diperlakukan sebagai makanan pokok keluarga kecuali untuk balita, sehingga konsumsi susu sangat rendah. BPS (2017) mencatat konsumsi susu penduduk Indonesia setara 16,5 liter/kapita/tahun dari target 20 liter/kapita/tahun.
Konsumsi ini merupakan yang terendah di Asia Tenggara dibanding Brunei Darussalam 129,1 liter, Malaysia 50,9 liter, Singapura 46,1 liter, dan Vietnam 20,1 liter/kapita/tahun. Compass Research (2015) bahkan mencatat konsumsi susu cair Indonesia hanya 3,36 liter/kapita/tahun setara 10 tetes susu/kapita/hari. Rendahnya konsumsi susu penduduk Indonesia berkaitan dengan produksi, tradisi, dan kesadaran gizi.
Populasi sapi perah di Indonesia sekitar 550 ribu ekor, di mana 99% di antaranya ada di Jawa. Pusat populasi sapi perah terbesar terdapat di Jawa Timur sebanyak 50%, Jawa Tengah 25%, dan Jawa Barat 23%. Populasi sapi perah sebanyak itu menghasilkan produksi susu sebanyak 909,6 ribu ton yang hanya mencukupi 20% dari kebutuhan susu 265 juta penduduk Indonesia, sisanya sebanyak 80% masih harus diimpor dalam bentuk skim milk powder,anhydrous milk fat, dan butter milk powder dari berbagai segara, seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.
Sebanyak 90% usaha peternakan sapi perah tergolong usaha peternakan rakyat dengan skala pemilikan peternak sapi perah belum ekonomis yaitu hanya 3–4 ekor/KK, idealnya 7-10 ekor sapi laktasi per KK. Produktivitas sapi perah juga rendah hanya sekitar 10 liter/ekor/hari, idealnya minimal 15 liter/ekor/hari.
Rendahnya rata-rata produktivitas sapi perah tersebut disebabkan bibit sapi yang kurang bermutu, kurang pasokan pakan yang bernutrisi, harga pakan konsentrat mahal, dan manajemen pemeliharaan kurang baik.
Minum susu bukan tradisi penduduk Indonesia, seperti minum kopi, teh, dan jamu, yang telah turun-temurun karena ketersediaan hasil perkebunan dan rempah-rempah yang melimpah. Produksi susu sapi perah di Nusantara baru dimulai sejak abad 19 untuk memenuhi kebutuhan susu bagi orang-orang Belanda.
Pada waktu itu Belanda merintis pengembangan usaha sapi perah di daerah dataran tinggi sejuk yang kemudian dikenal sebagai Jalur Susu, yaitu Pasuruan-Malang (Jawa Timur), Salatiga-Boyolali (Jawa Tengah), dan Lembang-Bandung-Cisarua-Cimahi (Jawa Barat). Sapi-sapi Fries Holland (FH) jantan didatangkan langsung dari Belanda untuk disilangkan dengan sapi lokal. Bagi penduduk pribumi saat itu, susu sapi merupakan makanan mewah bagi pejabat, orang kaya, dan kaum terpelajar.
Alasan mengapa masyarakat Indonesia tidak terbiasa meminum susu juga terungkap dalam buku "The History of Java" karya Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles yang diterbitkan pada 1817. Raffles menyayangkan potensi susu sapi di Jawa yang disia-siakan masyarakat. Raffles menemukan fakta mengapa konsumsi susu di Asia Tenggara rendah. Ternyata mereka tidak berkenan meminum susu hewan, karena merasa jijik seperti meminum darah. Bagi mereka, susu seperti darah yang berwarna putih.
Tradisi minum susu dimulai oleh masyarakat dengan kebudayaan gembala. Sejak 9000 SM hingga 8000 SM, susu sudah dikonsumsi di Timur Tengah. Masyarakat Eropa baru mulai meminum susu 3300 SM hingga 1000 SM yang meyakini berkhasiat untuk menguatkan tubuh. Sampai abad ke-15 tradisi gembala di Nusantara belum mantap sehingga sumber makanan hewani berbasis ternak lebih sedikit dibandingkan dengan sumber makanan nabati. Apalagi, sapi disakralkan dalam tradisi Hindu.
Alasan lain rendahnya konsumsi susu adalah intoleransi laktosa (lactose intolerance), yaitu ketidak mampuan mencerna laktosa yang merupakan sejenis gula di dalam susu. Hal ini disebabkan oleh kurangnya atau bahkan tidak adanya enzim laktase untuk mencerna laktosa di usus halus. Normalnya, laktase mengubah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa yang akan diserap lapisan usus ke dalam aliran darah.
Namun, kekurangan laktase membuat laktosa menumpuk di dalam usus, sehingga menimbulkan gangguan pencernaan. Di usus besar, laktosa akan berinteraksi dengan bakteri, sehingga orang dengan intoleransi laktosa akan mengalami perut kembung, buang angin terus menerus, dan diare setelah mengonsumsi susu sapi.
Di Indonesia, kebiasaan minum susu mulai dikampanyekan oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) di bawah ahli gizi Poorwo Soedarmo pada 1951 melalui konsep "Empat Sehat Lima Sempurna". Soedarmo menilai susu adalah penyempurna dalam menu makan yang dikonsumsi sehari-hari, karena mengandung asam amino esensial yang lengkap dan bermutu tinggi.
Journal of Sports Science and Medicine mencatat Biological Value (BV) susu adalah 91. Nilai biologis adalah cara mengukur kualitas suatu protein berdasarkan kemampuan tubuh dalam menyerap protein tersebut. Secara sederhana, BV adalah presentase protein yang dapat diserap oleh tubuh. Nilai BV yang baik adalah 70-100. Bahan makanan dengan BV yang tinggi menandakan kandungan asam amino yang lengkap dan tinggi.
Konsep "Empat Sehat Lima Sempurna" yang dikampanyekan sejak 68 tahun yang lalu itu, ternyata tidak mampu mendorong masyarakat Indonesia untuk meminum susu. Penyebabnya adalah kesadaran gizi yang rendah. BPS (2018) mencatat pengeluaran rata-rata per kapita sebulan kelompok makanan sebesar Rp 527.956. Pengeluaran tersebut digunakan untuk membeli rokok Rp 65.586 (12,42%), lebih banyak dibandingkan untuk beras Rp 61.455 (11,64%), bahkan untuk susu dan telur hanya Rp 29.357 (5,56%).
Fakta tersebut membuktikan bahwa penduduk Indonesia lebih menyukai nikotin rokok penyebab penyakit jantung, paru-paru, kanker, dan gangguan kehamilan dan janin, daripada protein susu yang menyehatkan badan dan mencerdaskan otak. Bagi mereka konsep makan adalah “Empat Sehat Lima Sampoerna”, artinya setelah makan tidak disempurnakan dengan minum susu, melainkan dengan menghisap rokok. (*)

Oleh: Sutawi
Dosen Fakultas Pertanian Peternakan UMM



Minggu, 17 Nov 2019

Berkah ala Sertifikasi Pranikah

Sabtu, 16 Nov 2019

Jangan Biarkan Menyakitinya

Kamis, 14 Nov 2019

JOKER Korban Asuransi Kesehatan

Loading...