Dua Peristiwa Tak Terlupakan - Malang Post

Sabtu, 23 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 08 Sep 2019, dibaca : 411 , Parijon, stenly

MALANG - Ruddy Widodo enggan bermain media sosial. Hal tersebut menjadi kunci dirinya bisa 'kebal' menghadapi derasnya tekanan yang seringkali terjadi ketika dia menduduki jabatan General Manager Arema FC.
"Saya tidak bermain media sosial. Kalau ada akun atas nama saya, itu pasti orang lain," sebut Ruddy Widodo.
Dirinya mengakui, tidak mau menambah beban pikiran ketika harus melihat media sosial, yang tidak jarang melancarkan kritik kepadanya maupun kepada Arema FC. Sehingga, dia pun terbebas dengan rasa sakit hati karena jarang mengetahui atau memikirkan hal tersebut.
"Saya anggap kalau ada kritikan atau mungkin hinaan, itu mengurangi dosa kecil saya. Begitu saja," paparnya.
Akan tetapi, dirinya sesekali mengintip suara-suara dari grassroot tersebut. Meskipun tidak menyebutkan dari akun siapa dia stalking, namun dia bisa mengetahui.
"Ya saya bisa melihat, tetapi sekilas-sekilas saja," tambah bapak dua anak tersebut.
Selama menjadi General Manager di Arema, periode 2011 sampai 2019 ini jauh berbeda dengan dirinya ketika kali pertama bergabung di manajemen Arema. Ia pernah mengalami desakan mundur, ketika prestasi Arema menurun. Tulisan 'Ruddy Out' sempat marak di Kota Malang. Bahkan ada yang terpampang di atas jembatan penyeberangan di kawasan Kayutangan.
Hal itu pernah menjadi contoh oleh Ruddy, untuk memotivasi sesama manajer klub Liga 1 yang dituntut mundur oleh suporter.
"Pernah saya bilang kepada Mas Candra (manajer Persebaya), tidak usah hiraukan kata-kata atau hinaaan dari suporter. Anggap sebagai peluntur sebagian dosa saja. Lalu saya bilang, belum parah kalau namamu belum sampai jadi nama jembatan," terangnya sembari tersenyum ketika mengingat tulisan Ruddy Out di jembatan penyeberangan.
Selain peristiwa tersebut, Ruddy menuturkan ada dua kejadian yang tak pernah dia lupakan. Yakni ketika harus memikirkan cara menghadapi ribuan Aremania, yang sudah membeli tiket pertandingan ketika melawan Persikab.
"Saya lupa tahunnya. Kalau tidak salah 1999 saat saya jadi Ketua Panpel. Pertandingan melawan Persikab ditunda karena mereka menolak bertanding dan pulang. Setelah sebelumnya mendapatkan tekanan psikologis berupa teror di penginapan tim," tutur Ruddy.
Kemudian, peristiwa kedua ketika pertandingan melawan PSIM Jogjakarta di Stadion Mandala. Dia menyebutkan, harus di stadion sangat lama. "Waktu itu ada kerusuhan dan kami tertahan di stadion sampai jam 3 pagi," pungkasnya. (ley/jon)



Jumat, 22 Nov 2019

Filosofi Busana

Loading...