Dua Pengibar Bintang Kejora di Seberang Istana Ditangkap | Malang Post

Jumat, 13 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Sabtu, 31 Agu 2019, dibaca : 432 , Udi, net

JAKARTA - Polisi menangkap dua orang pelaku kasus pengibaran Bendera Bintang Kejora di depan Istana Negara, saat aksi protes warga Papua atas rasisme beberapa waktu lalu. Kedua tersangka disangka dengan pasal makar. "Kedua pelaku ditangkap karena diduga melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara dan atau permufakatan akan melakukan kejahatan terhadap keamanan negara dan makar," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo melalui keterangan tertulis, Sabtu (31/8).
Kedua pelaku itu adalah Anes Tabuni dan Charles Kossay. Dari penangkapan tersebut, polisi menyita dua unit ponsel milik Charles dan Anes, satu spanduk, satu kaos bergambar Bintang Kejora, satu selendang bergambar bintang kejora, dan satu toa.
Dedi mengatakan, kedua pelaku saat ini masih menjalani pemeriksaan yang dilakukan di Mako Brimob. Tempat itu dipilih dengan alasan keamanan. "Langkah selanjutnya, polisi akan melakukan pemeriksaan digital forensik ponsel milik Anes dan Charles," kata Dedi.
Terpisah, mahasiswa Papua dan Papua Barat melakukan aksi unjuk rasa di depan pintu masuk Polda Metro Jaya, Gatot Subroto, Sabtu (31/8). Aksi itu sebagai bentuk solidaritas atas penangkapan kedua rekannya yang merupakan koordinator lapangan saat aksi di depan Istana pada Rabu (28/8) lalu.
Kedua korlap yang diamankan adalah Anes Tabuni dan Charles Kossay. Anes diduga berperan sebagai koordinator lapangan, membuat undangan, menggerakkan massa, menyiapkan bendera, dan orasi di atas mobil komando. Sementara Charles berperan sebagai korlap Jakarta Timur, dan berorasi di atas mobil komando bersama Anes.
Salah satu peserta aksi, Chika Tabuni, yang juga ikut demo Rabu lalu itu mengatakan bendera Bintang Kejora yang dibawa saat aksi lalu merupakan inisiatif dari para pedemo. "Pengibaran bendera itu bukan korlap yang meminta untuk teman-teman harus bawa, itu cuma harga diri orang Papua yang selama ini diinjak-injak, itu sebagai harga diri makanya mereka siap mengibarkan bendera bahkan semua siap kalau ditangkap, kita semua siap ditangkap," ujarnya.
Chika mengatakan, kedua korlap tidak memberikan instruksi untuk membawa dan mengibarkan bendera tersebut. "Tidak ada instruksi untuk kamu yang harus bawa karena kita masing-masing, beda tempat tinggal beda ini, semua punya inisiatif, kita semua yang di situ sudah berniat kita semua di aksi itu mengibarkan bendera itu, kita semua kalau ditangkap kita siap untuk ditangkap," tuturnya.
Karena merasa satu solidaritas dengan Anes dan Charles, Chika mengatakan sekitar 50 orang yang telah berkumpul di depan Polda Metro Jaya siap untuk ditahan. Mereka juga meminta satu ruang penjara kosong untuk ditempati. Bahkan, Chika mengatakan, mereka tak segan untuk kembali bermalam di trotoar depan Polda Metro Jaya untuk menunggu kebebasan kedua rekannya itu.
"Kita sudah sepakat kita siap dipenjarakan jadi sediakan satu penjara kosong semua massa aksi tanggal 28 (Agustus) untuk dipenjarakan di penjara yang sama dengan dua teman kami," tuturnya.
Saat ini Anes dan Charles tengah menjalani pemeriksaan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Keduanya ditangkap pada Jumat (30/8) malam. Anes dan Charles dijerat dengan Pasal 106 juncto pasal 87 dan atau pasal 110 KUHP.
Pada demo Kamis lalu, polisi menangkap 64 orang. Dengan demikian, ia menambahkan ada 36 orang yang belum ditetapkan sebagai tersangka itu saat ini masih menjalani pemeriksaan. "Barang bukti yang diamankan di antaranya katapel, laptop/komputer desktop, sepeda motor, mobil, organ, dan kampak," kata Kombes Harsono didampingi Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal, di Jayapura, Sabtu (31/8).
"Tidak tertutup kemungkinan jumlah tersangka akan bertambah karena penyelidikan dan penyidikan masih terus dilaksanakan," kata Harsono lagi. (cnn/ss/udi)



Loading...