Dorong Upaya Percepatan Perbaikan, Cari Solusi Jangka Panjang | Malang POST

Minggu, 23 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Dorong Upaya Percepatan Perbaikan, Cari Solusi Jangka Panjang

Senin, 20 Jan 2020,

Tidak boleh diam dan hanya menunggu keputusan pusat. Pemkot Malang harus berani mengambil langkah percepatan untuk mengatasi krisis air. Apalagi krisis sudah berlangsung lebih dari sepekan akibat pipa transmisi air yang jebol. Perumda Tugu Tirta juga dinilai tak melaksanakan manajemen perusahaan yang baik dan aksi tanggap sebagai upaya antisipasi.

Manager Kehilangan Air Perumda Tugu Tirta Kota Malang Rahmad Hadi dalam Diskusi Malang Post “Pipa Jebol, Kota Malang Krisis Air” pada Jumat (17/1) di Kantor Redaksi Malang Post memberikan penjelasan. Menurutnya, ada rencana pemasangan pompa, akan tetapi belum dilelang. Pompa ini diyakini dapat mengatasi masalah tekanan air yang terjadi pada pipa transmisi yang jebol jika dapat digunakan secepatnya.
“Memang ada sudah dianggarkan tetapi proses lelang belum dilakukan karena memang mengantre kan,” paparnya.
Tidak hanya itu, sebelumnya di 2019, Perumda Tugu Tirta sudah merencanakan realisasi pembangunan SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) I dan II. SPAM ini dapat menambah sekitar 2.000 liter per detik kebutuhan air warga Kota Malang.
Hanya saja pelaksanaannya tertunda saat itu dikarenakan terhambat tahun politik. Seandainya kedua rencana kerja ini telah direalisasikan cepat, maka krisis air akibat jebolnya pipa transmisi beberapa kali belakangan tidak berlangsung lama.
Hal ini ditanggapi Anggota Komisi B DPRD Kota Malang Wiwik Sukesi dalam forum diskusi. Menurutnya dalam situasi darurat apalagi berkaitan dengan hajat hidup masyrakat, Perumda Tugu Tirta dapat mengambil langkah urgent.
“Ya bisa kok dikoordinasikan dengan ULP (Unit Layanan Pengadaan,red) untuk langsung memasukkan data lelang menjadi proritas agar cepat terlaksana. Ada aturannya itu kalau memang itu bencana dan darurat,” tegas Wiwik.
Hal ini juga menjadi kritikan anggota dewan, di mana Perumda Tugu Tirta dianggap tidak melaksanakan manajemen perusahaan yang baik dan tanggap. Antisipasi akan kejadian dalam bentuk apapun seakan-akan tidak diperkirakan sebelumnya.
Anggota Komisi B DPRD Kota Malang lainnya yakni Kol (Purn) Djoko Hirtono juga memandang tidak ada SOP khusus yang dipunya Perumda Tugu Tirta akan kejadian yang seharusnya bisa diprediksi.
“Memang kami tahu ini pusat yang memberi dan mengerjakan. Kami tidak menyalahkan Perumda Tugu Tirta atau wali kota, tetapi kejadian ini seharusnya bisa diantisipasi. Ini menjadi pertanyaan besar kita bagaiaman sih pengelolaan pipa ini,” paparnya.
Ia pun menjelaskan ke depan DPRD Kota Malang akan mengawasi betul manajemen berkaitan dengan distribus, jaringan pipa hingga manajerial perusahaan lainnya.
Permasalahan aliran air akibat jebolnya pipa transmisi ini juga dipandang sebagai salah satu masalah yang berkepanjangan. Jika tidak diatasi sejak jauh hari masalah lain akan mengikuti seperti kelangkaan air yang sebenarnya karena ketiadaan sumber air secara mandiri.
Hal ini sempat dilontarkan dua anggota advokat muda yang konsen dalam pendampingan warga penggugat Perumda Tugu Tirta atas kejadian belum lama ini. Idola A. Dermawan menjelaskan tujuan gugatan dilakukan tidaklah untuk menuntut ganti rugi pelanggan yang terdampak. Melainkan perubahan pelayanan lebih baik ke depan.
“Pada prinsipnya pengajuan gugatan oleh warga adalah untuk mencari solusi. Entah nanti kita selesai di mediasi atau seperti apa yang jelas itu proses hukum. Harapannya hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua khususnya bagi Perumda Tugu Tirta,” tegasnya.
Senada, Guntur Putra salah atu advokat muda pendamping lainnya menuturkan secara hukum, permasalahan jebolnya pipa yang mengakibatkan 30 ribu pelanggan terdampak, harus berbuah pertanggungjawaban Perumda Tugu Tirta.
Meski begitu proses hukum yang berjalan ini dapat menjurus pada akar permasalahan apa yang ada di tubuh Perumda. Sehingga ke depan dapat berbenah dan melakukan pekerjaan dengan lebih baik lagi.
“Di pengadilan pun nanti pihak Perumda Tugu Tirta  bisa menjelaskan apapun yang terjadi dan sesuai fakta. Ini menjadi momen tepat Perumda Tugu Tirta  untuk membuktikan mereka tidak bersalah,” tegas Guntur.
Lebih dari itu Anggota DPRD Kota Malang Lookh Makhfudz juga mengatakan bahwa segala permasalahan air yang terjadi memang harus dipandang sebagai permasalahan masa depan.
Utamanya jika kelangkaan air benar terjadi, pasalnya hingga saat ini ketergantungan Kota Malang akan sumber air dengan daerah lain sangat tinggi. Kejadian pipa jebol dikatakannya sebagai sebuah ”Shock Accident”.
“Beberapa hari ini memang kita diuji betul. Ini shock accident (kejadian luar biasa,red). Kepentok dulu baru kita jalan. Ini ironis. Semua tidak akan segaduh ini jika kita memiliki simpanan air ataupun sumber sendiri” papar anggota Komisi B DPRD Kota Malang ini.
Kejadian gangguan aliran air memperlihatkan bagaiamana potensi pengelolaan air secara mandiri adalah hal vital yang perlu dimiliki Pemda. Ia menegaskan realisasi pengelolaan air permukaan yang sejak dulu direncanakan. Beberapa sungai yang ada di Kota Malang memiliki potensi untuk dikelola. Ia meminta Perumda Tugu Tirta belajar dari banyak daerah bagaimana mengelola air permukaan.
Hal yang sama dilontarkan Anggota Komisi B lainnya, H. Rahman Nurmala. Ia memandang Perumda Tugu Tirta bukanlah perusahaan umum dengan konseo “Profit Oriented”. Maka pelayanan yang diberikan kepada masyrakat adalah yang utama.
“Perumda jangan takut tentang sedikit distribusi kepada PAD. Itu ndak masalah yang penting pelayanan publik terjamin tidak terganggu terus dan berkali-kali. Kejadian ini harus jadi evaluasi besar semua stakeholder yang terlibat,” pungkasnya.(ica/ary/habis)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...