Dimediasi Paguyuban Jeep, Kasus Oknum Memalak Dua Pendaki Selesai | Malang Post

Senin, 16 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Selasa, 01 Okt 2019, dibaca : 1029 , bagus, mp

MALANG - Paguyuban Jeep BTS Trans 4x4 memediasi peristiwa pemalakan dua pendaki Semeru yang sedang honeymoon Minggu (29/9) malam. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (21/9) siang, sempat diberitakan di Malang Post dengan judul  Dua Pendaki Semeru Dipalak Rp 650 Ribu.
Ketua Paguyuban Arief Risdianto menegaskan, bahwa pihak harus membuat langkah mediasi. Sebab, jeep di wilayah Ranupane termasuk kawasan binaan Paguyuban Trans 4x4. Secara tegas  membantah ada pemalakan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ia meminta kata memalak diluruskan.
Kata dia, memalak adalah meminta langsung uang secara paksa. Itu yang ada dipikiran orang ketika mendengar soal pemalakan. Ia sempat berdebat dengan Malang Post terkait bahasa memalak, dalam KBBI memalak adalah menyusahkan, menganggu dan meminta secara paksa.
"Arti kamus memang begitu, tapi yang ada di pikiran orang, ya meminta paksa," tegasnya kepada Malang Post, kemarin.
Ia mengakui dalam proses di Ranupane Sabtu itu, ada unsur arogansi dan sedikit memaksa dari oknum di Ranupane. Namun kemudian sudah disepakati tarif jasa untuk turun sebesar Rp 650 ribu dan dibayar setelah tamu itu turun ke bawah. "Satu kali jalan Rp 650 ribu untuk private satu jeep dibayar oleh Habibi (pihak travel yang membawa pendaki) selaku penyelenggara trip, kalau sharing cost 12 orang Rp 55 ribu sekali jalan satu jeep," jelasnya.
Persoalan itu juga sudah dimediasi oleh paguyuban. Jadi yang membayar jasa itu adalah pihak travel, bukan pendaki yang sedang honeymoon itu. "Saya sudah mengundang Habibi (nama samaran) untuk mediasi di De Forest tadi malam (Minggu 29 September, red.)," akunya.
Kenapa baru Minggu kemarin, karena paguyuban banyak kegiatan pekan ini. Sehingga baru berkesempatan membahas persoalan tersebut. "Atas persoalan itu kami sudah saling meminta maaf dan pihak Habibi juga meminta maaf soal salah sebut nama Paino," terangnya.
Kepada Malang Post, ia menegaskan bahwa Paguyuban Jeep BTS Trans 4x4 memiliki aturan tegas soal sistem angkutan menuju TNBTS. "Paguyuban meminta maaf kepada dua wisatawan atas ketidaknyamanan dalam peristiwa berkaitan pihak yang mengatasnamakan paguyuban jeep di Ranupane," tegasnya.
Memang Paguyuban Jeep BTS Trans 4X4 memiliki aturan tegas terkait sistem angkutan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sistem diberlakukan terkait pemberdayaan masyarakat lokal wilayah Ranupani-Tumpang.
Sosialisasi mengenai aturan transportasi sudah sering dilakukan melalui aturan tertulis dan pertemuan-pertemuan berkaitan dengan pariwisata. Selain itu, kata Arief, Paguyuban jeep BTS Trans 4X4 bersama dengan Balai Besar TNBTS justru  berkomitmen melawan aksi premanisme di wilayah TNBTS. Dengan pernyataan ini, paguyuban jeep BTS Trans 4x4 menegaskan siap memberantas semua premanisme yang dilakukan oleh oknum, yang merugikan warga lokal sekaligus wisatawan.

Paino Jadi Korban
Nama Paino, yang disebut  sebagai oknum jeep dalam kasus Honeymoon pendaki, ternyata korban salah sebut. Sehingga Paino asli, akhirnya dikejar-kejar pihak terkait. Padahal, dia tidak ada dalam peristiwa di Ranupane itu.  "Sopir saya salah sebut, seingat dia berakhiran nama No..No, jadi disebut kepada saya nama Paino," ujar Habibi.
Ia meminta maaf terkait salah sebut soal oknum yang mengaku bernama Paino itu. Sebab penyebutan yang salah itu ternyata merugikan Paino. "Saya secara tulus meminta maaf atas salah sebut itu kepada Mas Paino," tegasnya.
Malang Post sendiri juga bertemu Paino di Tumpang, kemarin. Ketika peristiwa itu terjadi, Paino sedang mengantar tamu dari media online nasional Ke Gunung Bromo. "Itu bukan saya dan saya tidak tahu siapa? Tapi yang dicari-cari orang saya. Bahkan di panggil Polisi ke Lumajang, TNBTS," akunya.
Karena namanya disebut, Paino mengaku kerjanya terganggu. Bahkan ada wisatawan Belanda yang sudah berniat memakai jasanya cancel. "Saya ditelepon penerjemahnya, Paino whats wrong with you," ujarnya sembari terkekeh. (ary)



Senin, 16 Des 2019

Gondanglegi Kena Trase Tol

Loading...