MalangPost - Di Tengah Pandemi Covid-19, UB Kukuhkan Tiga Profesor Baru

Kamis, 09 Juli 2020

  Mengikuti :

Di Tengah Pandemi Covid-19, UB Kukuhkan Tiga Profesor Baru

Selasa, 23 Jun 2020, Dibaca : 2496 Kali

Foto dari kanan: Prof. Dr. Mohamad Khusaini, SE., M.Si., MA, Prof. Dian Handayani, SKM.,M.Kes, Ph.D dan Prof. Ir. Arifin Noor Sugiharto, MSc. Ph.D

MALANG - Universitas Brawijaya (UB) mengukuhkan tiga profesor baru, Rabu (23/6). Yakni Prof. Ir. Arifin Noor Sugiharto, MSc. Ph.D bidang Bioteknologi Pertanian, Prof. Dian Handayani, SKM, M.Kes, Ph.D bidang Ilmu Gizi dan Prof. Dr. Mohamad Khusaini, SE.,M.Si bidang Keuangan Daerah (Public Finance).


Prof. Ir. Arifin Noor Sugiharto, MSc. Ph.D menjadi profesor ke-42 di Fakultas Pertanian dan profesor aktiv ke-183 UB. Pria kelahiran Kudus 17 April 1962 ini meneliti tentang komoditas jagung dengan judul Mutasi Buatan dalam Pengkayaan Karakter Esensial dan Unik untuk Pengembangan Varietas Jagung Unggul.


Menurut Prof Arifin, Indonesia menjadi negara di urutan ke-10 di dunia dan tertinggi di ASEAN sebagai produsen jagung. Namun komoditas tersebut sampai sekarang lebih dikenal sebagai sumber pakan bukan makanan pokok kita.
"Karena selera kita lebih suka padi dan masyarakat merasa enak padi meskipun dari segi nutrisi lebih banyak jagung, sehingga sasaran penelitian ini adalah rasa agar lebih disukai kemudian nutrisinya," ujar Prof. Arifin.


Untuk mencapai varietas yang diinginkan dilakukan perakitan varietas atau varietas futuristik artinya secara lingkungan bisa ditanam di mana-mana dan secara fungsional bisa untuk pakan maupun pangan. Untuk memperoleh komoditas jagung tersebut Prof. Arifin menggunakan Bioteknologi Pertanian menggunakan metode kajian fusi sel, induksi mutasi, transformasi genetik dan genome editing.
Menurutnya, metode Bioteknologi Pertanian yang masih banyak digunakan oleh banyak negara adalah induksi mutasi meskipun pada kenyataannya banyak kekurangan. Namun metode tersebut riset yang dihasilkan Prof. Arifin menunjukkan hasil mengejutkan bahkan bisa menghasilkan varietas Super Blue berwarna ungu serta mampu menghasilkan Anthosionin lebih tinggi.
"Kendalanya Anthosionin tidak mempengaruhi rasa, oleh karena itu saya masukkan gen ketan sehingga menghasilkan rasa enak," terangnya.


Tak hanya melalui metode mutasi tersebut Prof Arifin juga menemukan komoditas jagung Super Root yang memiliki karakteristik lebih kuat bahkan bisa tumbuh di pH 2.9. Selain itu riset yang dilakukan sejak 2007 lalu juga menghasilkan komoditas lainnya  seperti muatan Lethal Pink dan Candy Sweet Corn.
"Sampai sekarang kami sudah menghasilkan 13 paten, 4 di antaranya sudah rilis dan dikomersilkan," tegas Prof. Arifin.


Dari bidang Ilmu Gizi UB mengukuhkan Prof. Dian Handayani, SKM.,M.Kes, Ph.D sebagai profesor ke-11 di Fakultas Kedokteran dan profesor aktif ke-185 UB. Riset yang menjadi fokus penelitiannya yakni berjudul Peran Asupan Gizi dalam Menjawab Tantangan Penurunan Prevelensi Obesitas.


Menurut Prof. Dian obesitas di Indonesia terus mengalami peningkatan, tak hanya berat badan naik namun penumpukan lemak di dalam tubuh akan memberikan banyak efek lainnya.
"Obesitas merupakan sumber peradangan dan kalau dibiarkan terus menerus sangat mempengaruhi biaya kesehatan di Indonesia, karena ada biaya langsung dan tidak langsung," paparnya.


Untuk itu ia mengembangkan asupan gizi berupa makanan fungsional kaya serat bagi penderita obesitas lantaran bisa menghasilkan short chain fatty acid yang akan memberi efek mudah kenyang. Pangan kayak serat pun juga lebih banyak diminati masyarakat dibandingkan obat.
"Kemudian penelitian saya lanjutkan dan ternyata orang obesitas hormon di dalam tubuh sudah mengalami gangguan, raptin menjadi resisten sehingga tidak bisa menekan rasa lapar," jelas Prof. Dian.


Untuk mengatasi obesitas tersebut Prof. Dian pun mengkombinasikan asupan gizi dengan edukasi agar masyarakat memahami kandungan makanan yang dibutuhkan tubuh. Caranya dengan mengembangkan edukasi melalui aplikasi di Android sehingga mudah diakses dan gampang diingat.


Sementara itu, Prof. Dr. Mohamad Khusaini, SE., M.Si., MA dikukuhkan sebagai profesor ke-24 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan profesor aktiv ke-184 di UB. Dalam penelitian berjudul Konvergensi Kebijakan Fiskal dalam Pengelolaan Keuangan Daerah dipaparkan bahwa salah satu konsekuensi otonomi daerah adalah desentralisasi fiskal.
"Desentralisasi fiskal ini saat ini daerah memiliki kewenangan dalam mengelola keuangan daerah sehingga saat ini banyak daerah yang kaya," papar Prof.

Desentralisasi fiskal pun menjadi pilihan sebab memiliki kelebihan tersendiri. Pertama, adanya knowledge in society, proses pengambilan keputusan yang
terdesentralisasi akan mempermudah penggunaan informasi yang efisien. Pemerintah daerah pun mempunyai informasi yang lebih baik sehingga dapat mengambil keputusan secara tepat tentang penyediaan barang dan jasa publik (allocative efficiency) yang dibutuhkan oleh masyarakatnya.
"Kedua, adanya dimensi persaingan, kompetisi antar pemerintah daerah tentang alokasi belanja publik memungkinkan masyarakat memilih berbagai barang dan jasa publik yang sesuai dengan selera dan keinginan, sehingga masyarakat bisa membandingkan biaya dan manfaat yang diterima," tutup laki-laki kelahiran Pasuruan 11 Januari 1971 ini.


Namun desentralisasi fiskal dapat memunculkan disparitas fiskal antar daerah terutama antara perkotaan dan pedesaan sehingga berimplikasi pada penyediaan pelayanan publik di kota apakah lebih baik atau tidak. Ketimpangan penyediaan fasilitas publik di daerah yang kaya dan daerah miskin akan mengakibatkan ketimpangan ekonomi yang tinggi pula. (lin/mp)

Editor : Redaksi
Penulis : Linda Epariyani