MalangPost | Deg-Degan Semprot di Rumah Positif Covid-19

Minggu, 07 Juni 2020

  Mengikuti :


Deg-Degan Semprot di Rumah Positif Covid-19

Minggu, 29 Mar 2020, Dibaca : 2937 Kali

MEREKA barisan terdepan mengakhiri salah satu rantai penyebaran virus Corona. Amunisi yang diusung disinfektan. Ketika Malang berstatus zona merah Covid-19, hari-hari mereka bagai tak berhenti. Bahkan masuk dalam rumah warga positif Corona pun dilakukan untuk penyemprotan disinfektan.


Suatu malam pekan lalu,  Amirul Yasin menunaikan tugas berat. Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan PMI Kabupaten Malang ini ditugaskan masuk ke wilayah positif Covid-19 di Dau. Seperti diketahui, belum lama ini di wilayah itu salah satu warganya meninggal karena positif Covid-19. Akibatnya satu keluarga di rumah itu harus dievakuasi ke RSUD Kanjuruhan. Mereka wajib menjalani karantina.
Salah satu tugas utama yang harus dikerjakan yakni melakukan sterilisasi rumah. Yasin dan timnya pun melakukan penyemprotan disinfektan."Saat itu situasi mencekam, malam hari kita ke sana untuk penyemprotkan disinfektan. Ada teman satu tim yang agak takut, karena memang tak pernah menghadapi situasi seperti ini," kata Yasin.

   Baca juga : Pasukan Disinfektan Melawan Virus Corona, Berangkat Pagi, Istirahat 30 Menit


Dalam timnya saat itu, sebanyak dua orang masuk ke dalam rumah untuk melakukan spraying (penyemprotan,red). Sementara dua lainnya menyiapkan logistik dan mensterilkan kawannya ketika keluar dari rumah warga positif Corona tersebut.
Saat itu rekan setimnya yang melakukan spraying sempat ragu, takut masuk rumah. Hal ini tidak menggentarkan hati Yasin.  Ia yang sudah berpengalaman itu maju lalu  kemudian ikut masuk ke rumah.
“Saya tuntun mereka masuk. Saya dampingi, saya berada di sebelah mereka terus. Saya arahkan mana-mana saja yang harus disemprot. Sebisa mungkin jangan sampai melakukan kontak atau menyentyuh benda-benda di dalamnya,” terang Yasin.


Meskipun ada kekhawatiran ia harus melepas perasaan tersebut. Saat itu, Yasin dan timnya menjalankan apa yang harus dilakukan. Terlebih, perangkat perlindungan diri juga sudah dipakai sesuai protap. Hal ini yang diyakinkan Yasin kepada timnya yang sempat cemas jelas menjalankan tugas.
Kekhawatiran lain yakni perasaan warga sekitar. Ketika mengetahui wilayah tersebut memang sudah ada yang positif. “Ya itu yang saya takutkan hanya warga. Gimana caranya kedatangan kami tidak buat panik. Akhirnya ya kami selalu merasa tegar dan memberikan ekspresi tenang agar tidak menimbulkan kepanikan warga,” jelasnya.


Usai bertugas di rumah tersebut, ia dan timnya harus di spraying (semprot) sebanyak lima kali. Hal ini dilakukan sesuai prosedur dan juga menenangkan pikiran sendiri usai bertugas di di rumah warga positif Covid-19.
Pertama ia dan timnya yang masuk ke dalam rumah itu disemprot saat selesai melakukan spraying. Kedua saat hendak masuk mobil PMI, mereka disemprot  disinfektan. Ketiga saat hendak masuk kantor PMI. Keempat, ketika hendak mandi dan melepaskan baju. Terakhir sewaktu  hendak pulang ke rumah masing-masing.
“Untungnya di rumah tidak khawatir, anak saya mengerti karena salah satunya juga anggota PMI di Kota Malang. Kami mengerti risiko dan taat protap masing-masing,” jelas Yasin.


Ia mengakui,bersama teman-teman setim masuk dalam ketegori Orang Dalam Resiko (ODR). Maka usai melakukan penyemprotan di Dau, mereka segera memantau kesehatan satu sama lain. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dilakukan. Mulai menggunakan Thermal Gun ataupun dipreriksa secara rutin jika ada kesempatan. Saat ada teman satu tim yang lelah, maka diminta pulang dan istirahat sambil memeriksana diri secara mandiri.
Pengalaman ini menjadikan Yasin dan rekan kerjanya makin solid. Saling menjaga dan memperhatikan satu sama lain.Paling utama adalah saling menyemangati jika ada kawannya yang takut ataupun lelah.
Karena lanjut Yasin, kesehatan mental adalah hal utama menghadapi situasi darurat bencana. Dengan inilah seseorang dapat berpikir jernih dan baik. Kemudian dapat menularkannya kepada orang-orang lain sekitarnya sehingga konisi menjadi kondusif. (ica/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Francisca Angelina