Cari Solusi Polemik Pemain Arema Putri Tak Rapotan

Sabtu, 30 Mei 2020

  Mengikuti :


Cari Solusi Polemik Pemain Arema Putri Tak Rapotan

Jumat, 03 Jan 2020, Dibaca : 1395 Kali

BATU - Jagad media sosial (medsos) ramai tentang pemain Timnas Putri U-16 yang juga pemain Arema Putri asal Kota Batu, Jasmine Sefia Wainie Cahyono. Pemkot Batu langsung merespon. Senin (6/1) mendatang, Dinas Pendidikan dan SMPN 2 Batu mengundang pihak keluarga Jasmine untuk berdialog mencari solusi.
Sebelumnya di Instagram (IG), akun @Kepoball mengungkapkan Jasmine Sefia Wainie Cahyono mendapatkan diskriminasi di sekolahnya. Yakni SMPN 2 Kota Batu yang tak mau memberikan rapor dan mengosongi nilai sekolahnya.
Kepala SMPN 2 Batu, Sudiyono menjelaskan, tidak diberikannya raport dikarenakan Jasmine sudah satu semester tidak masuk sekolah. Tepatnya sejak 18 Juli hingga 15 Desember 2019.
Beberapa alasan yang diberikan Jasmine melalui surat masuk dan direkap oleh sekolah yakni, karena mengikuti Training Center (TC) di Pasuruan, 18-21 Juli 2019, izin sakit pertama mulai 12-18 Agustus 2019, ijin sakit kedua 18-21 Agustus 2019 dan membela Tim Putri U17 Bangka Belitung, 25 Juli-11 Agustus 2019.
Alasan lain mengikuti seleksi Persija Putri Liga I mulai 2-11 September 2019, seleksi PS Tira Kab Bogor mulai 23-27 September 2019, latihan rutin Tim Arema Putri, 30 September sampai 22 November 2019. Selain itu kembali latihan rutin Arema Putri 23 November sampai 15 Desember 2019.
Dari surat yang ia sampaikan itu, pihak sekolah juga memanggil Jasmine untuk pembinaan BK pada 5 September 2019 dan 2 Januari 2020 . Dengan catatan pembinaan melalui saluran komuniksi telepon selular.
Alasan tidak masuk sekolah selama satu semester dan nilai yang dirasa kurang mencukupi itulah yang membuat pihak sekolah tak memberikan rapor. Bahkan belum mengisi nilai rapor.
Pihak SMPN 2 Batu menyarankan kepada orang tua Jasmine untuk melanjutkan sekolah dengan homeschooling atau kejar paket kesetaraan. Sebab bisa digunakan untuk lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
"Kami sebenarnya telah memberikan keringanan dalam bentuk toleransi ketidakhadiran ke sekolah. Kami tetap membimbing walaupun dia padatnya seperti ini. Memang sesuai aturan harus 0 persen tidak masuk," beber Sudiyono.
Namun akibat jarang masuknya Jasmine, nilai yang didapat di bawah rata-rata. Sehingga sekolah tak mungkin menuliskan nilai di bawah rata-rata. Harus mendapat tugas tambahan dari sekolah agar nilainya bagus.
Dwi Cahyono,  ayah Jasmine membenarkan tentang polemik yang tengah terjadi pada anaknya tersebut. Pasalnya sejak duduk di bangku kelas V dan VI SD, kemudian lanjut di  kelas VII SMP tidak permah ada masalah.
"Anak saya mulai kelas V SD dan SMPN kelas VII sudah masuk timnas dan tidak pernah ada masalah sebelumnya. Baru kali ini terjadi sedikit masalah karena memang jadwal yang padat dan jarang masuk sekolah," ujar Dwi kepada Malang Post, Jumat (3/1) .
Ia menerangkan di kelas VII SMP jarang masuk sekolah karena agenda di tim Bangka Beliting (Babel) dan Arema Putri sangat padat. Mulai dari membela Babel di Piala Menpora sampai Piala Pertiwi dan persiapan PON untuk tim Babel.
"Kemarin waktu ujian akhir semester masih aktif di kompetisi Liga 1 ikut Arema Putri. Saat kompetisi berakhir anak saya tetap ikuti kewajiban ikut ujian susulan dan mengerjakan tugas-tugas yang belum sempat dikerjakan," bebernya.
Namun waktu rapotan diungkap Dwi, khusus punya Jasmine tidak dikasihkan. Kebetulan ia juga tak bisa hadir ambil rapot. Sehingga diwakilkan dan ternyata tidak bisa. "Akhirnya Kamis 2 Januari ada undangan kepala sekolah dan saya ketemu langsung dengan yang bersangkutan dan BK," terangnya.
Dia mengatakan, pihak sekolah memang beri opsi homescholling atau kejar paket karena SMPN 2 Kota Batu sekolah umum. Bukan sekolah khusus olahraga. Namun, Dwi mengungkapkan, dirinya dulu memilih SMPN 2 Kota Batu karena adanya kelas olahraga.
"Saya bilang gitu dan sekarang kelas itu katanya sudah tidak ada. Padahal dari SK menteri (Menteri Pendidikan) masih ada. Secara otomatis saya kecewa dan tidak terima. Apalagi Jasmine disebut tidak membawa nama sekolah saat bertanding," bebernya.
Hal itu dibantah Dwi, karena selama ini anaknya selalu bawa nama sekolah. Mulai dari dari timnas yang ditujukan ke sekolah, saat diwawancarai, kata Dwi, Jasmine mengatakan bahwa SMPN 2 juga tempatnya menuntut ilmu. Bahkan undangan dari  Wali Kota Batu saat ia membela Indonesia dalam AFC di Kirgiztan bersama staf sekolah.
"Akhirnya kepala sekolah mengatakan jika Jasmine tetap seperti ini tidak bisa membantu dan kebijakan harus homescholling," terangnya.
Kini telah banyak yang akan membantu Jasmine melanjutkan sekolahnya. Diungkap Dwi, beberapa orang yang akan membantu atau memfasilitasi yakni Papat Yunisal sebagai Manajer Timnas Putri Senior dan juga Arema Putri siap memfasilitasi. "Saya kecewa kalau dikatakan Jasmine tidak membawa nama baik sekolah. Saat kepala sekolah mengatakan itu ada juga anak saya dan guru BK," imbuhnya.
Dengan kejadian ini, orang tua segera memutuskan untuk memindahkan Jasmine dari SMPN 2 Kota Batu. Kini juga masih menunggu panggilan dari pihak sekolah untuk tindakan lebih lanjut.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Eny Rachyuningsih menerangkan terkait Jasmine. Ia mengatakan, selama satu semester nyaris tidak pernah masuk. Hanya masuk saat UTS dan UAS.
"Yang namanya komponen nilai itu kan ada dari tugas, ulangan harian, ada ujian tengah semester, dan akhir semester. Sebelum rapor itu keluar bingung, anak ini mau dikasih nilai apa. Akhirnya dipanggillah orang tuanya," ujar Eny.
Saat dipanggil pihak sekolah, diminta agar Jasmine diberi tugas agar nilainya yang kurang ditutupi dengan tugas. Degan deadline tertentu agar tugas yang diberikan dikerjakan.
Menurutnya, sekolah telah memberi tugas dan kesempatan untuk mengerjakan tugas. Kemudian nanti nilai yang kosong itu diisi sehingga pembobotannya fair.
"Nanti Senin saya sudah minta untuk memanggil lagi. Sekarang, kalau bicara aturan normal, tidak masuk toleransinya hanya 10 persen. Ini hampir semua tidak masuk, tapi sekolah masih memberi kesempatan apakah itu bukan sebuah kebijakkan," pungkasnya. (eri/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Kerisdiyanto