Cara Dr. Dian Agung Anggraeny Mengapresiasi Seniman Sepuh | Malang POST

Minggu, 23 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Cara Dr. Dian Agung Anggraeny Mengapresiasi Seniman Sepuh

Senin, 13 Jan 2020,

Dr. Dian Agung Anggraeny, pemilik Klinik Dian Kusuma Wijaya Sumberpucung, terus mengabdikan dirinya bagi mereka yang terlupakan dan tak tersentuh. Dokter yang dikenal sebagai dokter sayur ini, menggelar pemeriksaan kesehatan untuk seniman sepuh di Dewan Kesenian Malang (DKM), Minggu pagi (12/1). Aksi ini, terinspirasi sosok Didik Nini Thowok.

Satu per satu, orang berduyun datang ke DKM Jalan Majapahit, Klojen, Minggu pagi. Sejak pukul 07.00, mereka sudah duduk di kursi di ruang tengah DKM, untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Para sesepuh ini adalah para seniman, serta pegiat budaya Malang yang mengikuti pemeriksaan kesehatan dari Klinik Dian Kusuma Sumberpucung.
Setelah dipanggil dan didaftar namanya, para pasien duduk di kursi yang disediakan, untuk menjalani dua tes darah. Yaitu tes gula darah, serta tes kolesterol. Setelah jari manis kiri ditusuk jarum kecil, setetes darah dari pasien ditaruh di dua alat yang berbeda. Satu alat adalah untuk cek gula darah, dan alat lainnya untuk mengetahui kadar kolesterol.
Tak lama, mereka disambut oleh seorang wanita anggun berjilbab. Dengan sabar dan pengertian, wanita ini mendengarkan keluhan pasien. Begitu keluhan disampaikan, dia langsung meraih ujung stetoskop yang menggantung di badannya, memasang ear piece, dan mulai memeriksa denyut serta detak jantung pasien.
Dari sini, dia memberikan diagnosa serta advice kepada pasiennya, untuk menjaga atau meningkatkan kondisi kesehatan. Tak lupa, pasien diberi obat sebelum meninggalkan kursi konsultasi. Wanita ini tak lain adalah dr Dian Agung Anggraeny, atau yang lebih viral dikenal sebagai dokter sayur.
Yakni, dokter yang menerima bayaran sayur-sayuran, hasil bumi dan lainnya, setelah melayani pasien. Lewat Klinik Dian Kusuma Sumberpucung, Dia bersama Dewan Kesenian Malang di Jalan Majapahit menggelar program pemeriksaan kesehatan para seniman dan pelaku budaya, mulai dari check up tensi, gula darah sampai kadar kolesterol.
Dokter lulusan UWKS Surabaya ini mengungkapkan, persoalan kesehatan seniman acapkali terbengkalai. Terutama ketika berkaitan dengan proses berkesenian yang tak mengenal siang atau malam. Kondisi finansial juga acapkali membuat seniman yang sudah senior kesulitan mendapatkan perawatan kesehatan yang layak.
“Selama ini untuk seniman dan budayawan luput dari perhatian terutama masalah kesehatan, kami buat program rutin pemeriksaan kesehatan, diberikan kepada seniman sepuh yang butuh pemeriksaan, ini adalah inisiasi perdana untuk memeriksa kondisi kesehatan seniman,” urai Dian, sapaan akrabnya, kepada Malang Post.
Wanita kelahiran Malang 14 Februari 1977 tersebut mengatakan, pemeriksaan kesehatan terhadap seniman terinspirasi dari acara ngamen Didik Nini Thowok. Didik menari di Matos, untuk mengumpulkan donasi bagi Mbah Matali, seniman sepuh asal Malang yang jatuh sakit tapi tak memilik biaya untuk berobat.
“Dari sosok mas Didik itulah, kami ingin berupaya memberikan pemeriksaan kesehatan untuk para seniman, dan disambut baik Mbah Yongki Irawan. Jangan sampai kasus seperti Mbah Matali terulang lagi. Untuk kali ini, batas yang diperiksa 40 orang, karena kami ini independen,” ujar istri dari Nova Andiano itu.
Dokter yang menempatkan klinik prakteknya di Jalan Kusmanaji, Dusun Suko, Kecamatan Sumberpucung itu mengatakan, pemeriksaan kesehatan untuk seniman sepuh ini perdana dilakukan kliniknya. Ke depan, dia berharap bisa memantau dan memonitor kondisi kesehatan para seniman yang sudah diperiksa Minggu pagi di DKM.
Nama Dian sudah tak asing lagi bagi masyarakat, terutama yang terus memantau berita di televisi maupun media cetak. Karena, Dia adalah dokter sayur yang viral menerima bayaran hasil bumi dari pasiennya yang tak mampu. Sejak tahun 2008, Dian melayani pasien di klinik umumnya di Sumberpucung.
Berbagai jenis pasien sudah dia layani. Mulai dari difabel, Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) hingga buruh migran. Di tengah kawasan yang dikenal sebagai pusat prostitusi terbesar di Kabupaten Malang, klinik ini hadir dan melayani semua pasien tanpa pandang bulu. Dian, memilih membangun klinik di Sumberpucung, karena kawasan ini adalah daerah kelahirannya.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu dibesarkan oleh orangtuanya yang juga pegiat kesehatan di Sumberpucung. Ayahnya seorang penyuluh kesehatan, sementara sang ibu adalah bidan. Sejak SD, dia diajari untuk mengikuti jejak kedua orang tuanya sebagai abdi masyarakat di bidang kesehatan.
Sejak 2014 dia aktif bergerak di berbagai organisasi. Antara lain, Disable Motorcycle Indonesia (DMI), Buruh Migran Indonesia (BMI) sampai Kelompok Dampingan Sebaya Sehat Sejahtera (KDSSS). Selama dia masih bisa, Dian bakal terus melanjutkan mimpi dan perjuangan orangtuanya dalam melayani masyarakat dari semua lapisan.(Fino Yudistira/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Fino Yudistira

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...