Bundaran Tugu Lumpuh 8 Jam | Malang POST

Senin, 24 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Bundaran Tugu Lumpuh 8 Jam

Selasa, 24 Sep 2019,

MALANG -Bentrok antara masa mahasiswa dan polisi tak terhindarkan di gedung DPRD Kota Malang, Selasa (24/9). Aksi yang melumpuhkan Bundaran Tugu sekitar delapan jam itu bagian dari demonstrasi yang berlangsung secara nasional. Wakapolda Jatim Brigjen Pol Toni Harmanto sampai terbang ke Malang dengan helikopter.
Aksi massa mahasiswa merupakan lanjutan unjuk rasa sehari sebelumnya. Mereka menolak sejumlah rancangan undang-undang (RUU). Di antaranya RUU KUHP, UU KPK yang baru direvisi hingga RUU PKS.
Kericuhan berawal dari larangan massa mahasiswa mengelar aksi dan orasi di pelataran pintu masuk gedung DPRD Kota Malang. Keinginan tersebut disampaikan beberapa perwakilan mahasiswa. Namun keinginan itu tak diizinkan.
"Di daerah lain bisa pak. Masa gedung dewan seluas ini tidak bisa tampung kita," ucap salah satu pengunjuk rasa saat berdialog dengan Ketua DPRD Kota Malang I Made Rian Diana Kartika, SE dan Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander.
Mendengar aspirasi mahasiswa, Made mempersilakan perwakilan sebanyak 20 orang. Alasannya demi keamanan bersama. "Tidak ada yang bisa menjamin keamanan kalau semua masuk. Saya tadi sudah terima perwakilan mahasiswa. Juga sudah tandatangani surat yang disampaikan,” kata politisi PDI Perjuangan itu.
AKBP Dony Alexander pun menjelaskan hal yang sama. Keinginan untuk masuk ke pelataran dalam gedung tidak diizinkan karena alasan keamanan.
Merasa tidak diizinkan masuk ke area  dalam gedung dewan, massa aksi menyeru-nyerukan nyanyian agar pintu gerbang gedung wakil rakyat itu dibuka. Beberapa menit kemudian terjadi dorong-dorongan antara pengunjuk rasa dan massa mahasiswa
Selang 30 menit berikutnya terjadi kisruh.  "Mari kita sama-sama menjaga kondusivitas suasana, jangan dengan emosi!" seru Dony menggunakan pengeras suara.  
Saat pintu gerbang bisa dibuka, mahasiswa terus mencoba masuk. Bentrokan pun tak terhindarkan. Lemparan batu, sepatu dan botol bekas air mineral melayang ke arah polisi dan gedung dewan.
Petugas akhirnya melepaskan tembakan air dari water canon ke arah mahasiswa di depan gerbang dewan. Saat bentrok itulah, seorang wartawan media online, Anggoro Sudiongko terluka, kaki kananya berdarah.  Salah satu personel Polres Malang Kota, Nabil terluka di pelipis mata bagian kiri. Sedangkan dari pengunjuk rasa belum diketahui jumlah korban dan kondisinya.
Selama kurang lebih 10 menit lamanya water canon akhirnya memecah massa yang meringsek masuk gedung dewan. Tidak lama setelah ini kondisi kembali kondusif.
Pukul 15.30 WIB, anggota dewan, kepolisian dan mahasiswa kembali bertemu di tengah lokasi massa. Mereka tetap meminta masuk, dan aparat keamanan tetap keukeuh tidak memperbolehkan.
Sekitar pukul 17.00 WIB massa meninggalkan lokasi secara berangsur-angsur. Sekitar pukul 17.30 WIB massa yang masih tersisa tetap melakukan aksi dengan cara berbeda. Salah satunya menggelar teatrikal sebagai bentuk protes mereka.
Belum diketahui, demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di Bundaran Tugu akan berakhir kapan. Jubir Front Rakyat Melawan Oligarki, Abdurrachman Sofyan mengatakan, mahasiswa yang gelar aksi di Malang menginginkan hal yang sama dengan kawan aksinya yang berada di berbagai daerah lain di Indonesia.
Mereka menyuarakan penolakan terhadap berbagai RUU yang tidak pro rakyat. Di antaranya  RUU KUHP, UU KPK, RUU P-KS dan lainnya.
Dikatakannya, aksi di Jakarta rencananya akan berlangsung hingga Senin (30/9) pekan depan.  
Atau sampai tuntutan mereka tercapai. "Disini kami tetap aksi untuk mendukung di hadapan dewan. Walaupun kami sudah ndak percaya dengan DPRD. Mereka wakil dari elite politik di Jakarta. Kami hanya ingin menyampaikan apa yang kami tuntut saja," katanya.
 
Wakapolda Mendarat di Malang
Wakapolda Jatim  Brigjen Pol Toni Harmanto siang mendarat di Lapangan Rampal menggunakan helikopter. Ia meninjau sekaligus meredam massa pengunjuk rasa.
Selain di Kota Malang, unjuk rasa dengan tuntutan yang sama berlangsung di Kediri, Pasuruan dan Surabaya. "Saya lihat secara umum, untuk wilayah Jawa Timur, memang lebih baik dibandingkan daerah lain. Seperti halnya di Kota Malang. Sejak pagi, komunikasi terus kita buka," terangnya kepada Malang Post.
Bentrok yang sempat terjadi dianggap sebagai reaksi spontan. Aksi massa mahasiswa menurutnya salah satu cara untuk mengungkapkan aspirasi. “Kami melakukan hal-hal yang bersifat persuasif dan tidak melakukan kontak fisik untuk mengamankan aksi massa. Mereka adalah mahasiswa yang merupakan adik-adik kita sendiri," tegas jenderal bintang satu itu. (ica/tea/van)  

Editor : bagus
Penulis : sisca

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...