Malang Post - BUDDY SCHOOL, Membangun Pertemanan Antar Sekolah

Minggu, 29 Maret 2020

  Mengikuti :


BUDDY SCHOOL, Membangun Pertemanan Antar Sekolah

Senin, 17 Feb 2020

Sekolah merupakan lembaga yang mempunyai tugas menyiapkan generasi bangsa. Penyiapan generasi bangsa ini merupakan tugas besar bersama semua sekolah dan semua pihak. Oleh karena itu, sudah seyogyanya apabila sekolah bahu-membahu mengemban tugas mulia tersebut. Sekolah tidak boleh jalan sendiri-sendiri.Tidak dapat dipungkiri, tuntutan masyarakat dan pelabelan unggulan-nonunggulan selama ini membuat hubungan antarsekolah menjadi kompetitif. Setiap sekolah berlomba menjadi sekolah ‘unggul’. Oleh karena itu, setiap sekolah sibuk ‘sendiri-sendiri’ dengan program-programnya. Semua itu tentunya dilandasi niat untuk menghasilkan generasi terbaik untuk negeri ini dari sekolah masing-masing. Niat itu tentu akan lebih bermakna apabila diluaskan untuk semua sekolah agar semua anak bangsa menjadi generasi yang bermutu.

Sekolah harus bermitra atau berteman baik dengan sekolah lainnya. Kerjasama ini ada yang menyebut dengan buddy school,sister school, sekolah mitra¸jejaring, paguyuban,dan lain-lain. Apapun namanya, melalui iklim persaudaraan atau pertemanan, sesama sekolah harus berkooperasi dan berkolaborasi. Dengan pola relasi yang demikian, selain semua sekolah dapat menjadi sekolah unggulan dengan kekhasannya masing-masing, ada banyak manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan secara keseluruhan.Pertemanan antarsekolah harus benar-benar direalisasikan hingga pada aktivitas siswa.

 

Buddy School Meminimalkan Tawuran dan Perundungan

Sebuah kecenderungan yang dapat ditemukan di berbagai kota, sekolah semakin eksklusif. Trend full day school dan padatnya kurikulum sekolah membuat waktu anak-anak di sekolah semakin panjang. Mereka berinteraksi dalam lingkungan yang sama dari waktu ke waktu. Pertemanan mereka hanya erat dengan teman-teman satu sekolah. Sayangnya, hal tersebut dapat memperkuat rasa eksklusif yang terkadang menjadi sesuatu yang negatif. Kasus tawuran yang terjadi umumnya terjadi karena hal-hal sepele yang diperkuat oleh solidaritas tersebut. Kebanggan bagi seorang anak ketika mengenakan seragam sekolahnya dapat berimbas pada saling ejek bila bertemu dengan anak dengan seragam yang berbeda.

Solusi yang baik untuk mengurangi dan menghindari hal itu adalah dengan mendekatkan mereka satu sama lain. Anak-anak harus dikondisikan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, luwes, dan tidak kuper (kurang pergaulan) atau asing dengan teman-teman mereka, termasuk dari sekolah lain. Di beberapa daerah, dapat ditemukan banyak sekolah yang berada dalam lingkungan yang berdekatan, namun antarmereka seolah ada jarak yang jauh karena jarangnya kegiatan yang melibatkan mereka secara bersama.

Kegiatan yang melibatkan anak-anak dari sejumlah sekolah harus ditingkatkan. Selama ini, kegiatan yang melibatkan banyak sekolah umumnya perlombaan yang kadang malah menimbulkan kerenggangan antarmereka. Masing-masing sekolah dapat menginisiasi adanya kegiatan yang melibatkan siswa antarsekolah. Sekolah tidak harus menunggu pihak dinas terkait atau lembaga lain memfasilitasi mereka. Sekolah dapat memasukkan kegiatan tersebut dalam agenda ulang tahun sekolah, perayaan hari nasional, kelulusan, dan lain-lain. Mereka dapat merancang kegiatan kemah bersama, kerja bakti bersih-bersih tempat ibadah bersama, pertukaran delegasi siswa, atau kegiatan lainnya sehingga siswa dari berbagai sekolah dapat menjalin kedekatan.

Kedekatan antarmurid dari berbagai sekolah dapat menumbuhkan berbagai dampak positif. Sensitivitas akan keberagaman, kepekaaan antarsesama (humanisme) dapat dengan mudah ditumbuhkan pada mereka. Adanya jarak psikologis yang seringkali muncul karena merasa dari sekolah yang dianggap unggulan atau nonunggulan dapat dicairkan melalui kegiatan yang melibatkan murid antarsekolah. Dengan berteman dengan sesama mereka yang memiliki latar belakang yang berbeda tentu lebih mudah menumbuhkan kepedulian. Rasa saling percaya dengan sesama juga dapat dikuatkan. Pertemanan yang tak dibatasi sekolah, status sosial dan ekonomi, bahkan agama membuat mereka menyadari bahwa setiap orang bisa saling mengisi. Kekayaan jiwa ini tentu sangat penting bagi setiap pribadi agar dapat tumbuh menjadi insan yang cerdas dan mulya.

 

Buddy School Tingkatkan Kompetensi Guru dan Siswa

Pertemanan dan kemitraan mutlak harus dijalin antarguru. Organisasi bidang studi, seperti MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) yang selama ini sudah ada dapat diperluas lingkupnya. Kegiatan rutinnya setiap bulan dapat divariasi dengan kegiatan kunjungan ke sekolah secara bergantian. Pembelajaran berbasis lesson study yang selama ini sudah diperkenalkan secara luas sangat baik untuk meningkatkan hubungan baik antarguru. Mereka dapat saling mengundang dalam acara open clas agar tumbuh diskusi dan saling evaluasi di antara mereka.

Selain forum ilmiah, pertemanan antarguru dapat pula dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang juga melibatkan siswa, seperti kemah bersama, kerja bakti, jalan sehat, dan lain-lain. Asosiasi untuk pengembangan bakat minat murid dapat pula dibentuk. Forum antarpembina pramuka, pembina ekstrakurikuler, pembina kerohanian dapat dibuat agar satu guru dan guru lainnya saling terhubung.

 

Buddy School untuk Kemajuan Bangsa

Pertemanan antarsekolah dapat dilakukan dengan sekolah memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang melibatkan murid dan guru dari berbagai sekolah. Setiap sekolah harus menyadari bahwa keberhasilan pendidikan secara keseluruhan adalah tanggung jawab bersama. Stratifikasi karena sebuah sekolah dianggap unggulan, sementara sekolah lain dianggap sekolah kelas dua dikhawatirkan akan menghasilkan anggota masyarakat yang eksklusif dan terkotak-kotak. Jurang kecurigaan dalam masyarakat yang saat ini menganga bisa jadi karena adanya ekslusvitas masing-masing kelompok. Oleh karena itu, sekolah harus menjalin komunikasi yang baik dengan sekolah lain dan bukan sebaliknya saling merahasiakan program atau saling memata-matai demi mengejar predikat sebagai sekolah unggulan.

Sekolah yang merasa kompetensi gurunya kurang baik dapat melakukan program pencakokan guru di sekolah lain yang gurunya lebih kompeten. Pencakokan program juga dapat dilakukan di sekolah yang telah memiliki program pengembangan suatu bidang yang dianggap berhasil.  Sekolah milik pemerintah dapat berteman baik dengan sekolah swasta. Sekolah di kota dapat menjalin pertemanan dengan sekolah di pinggiran. Sekolah yang berciri khusus agama tertentu dapat menjalin kerjasama dengan sekolah umum, bahkan dengan sekolah lain yang berciri khusus agama lain. Pertemanan dapat pula dilakukan lintas kota, lintas provinsi, bahkan lintas negara. Dengan pertemanan sekolah tersebut semoga muara akhir pendidikan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur dapat diwujudkan. ***

Azizatuz Zahro

Pusat Gender dan Kesehatan, LP2M - Universitas Negeri Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Azizatuz Zahro

  Berita Lainnya





Loading...