Bisnis Harus Jujur, Jangan Lupa Berbagi | Malang Post

Kamis, 14 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 01 Sep 2019, dibaca : 799 , Halim, Linda

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bagi Indra Soejoko. Bisnis karoseri yang dijalaninya sejak 1997, tiba-tiba harus berada di titik nol pada kisaran tahun 2011. Itu terjadi ketika semua karyawan, mulai ahli rangka, desain dan para tukang di Piala Mas dibajak perusahaan lain dengan iming-iming hadiah motor per orang. Roda perusahaan terhenti, tidak bisa berproduksi. Lumpuh total. Celakannya, order pekerjaan menumpuk untuk diselesaikan.      
‘’Istilahnya bedol deso. Semua karyawan diboyong. Sampai kita tidak bisa melakukan apa-apa. Saat itu saya menyadari kesalahan saya. Terlalu bergantung pada satu customer. Tapi saya juga disadarkan, bahwa hidup harus selalu menjadi orang baik,’’ ungkap Direktur Utama Karoseri PT Piala Mas Industri Indra Soejoko kepada Malang Post di ruang kerjanya, Kamis (29/8) lalu.
Ketika kondisi perusahaannya benar-benar limbung, Indra dan orang-orang kepercayaannya masih berusaha kerja keras. Tidak putus asa. Tiap hari mencari tukang untuk bisa mengerjakan orderan. Nyaris waktu siang–malam habis hanya untuk mencari tukang. Piala Mas benar-benar mengalami kesulitan. Saat itulah ia merasakan pertolongan dan keajaiban tangan Tuhan.
Piala Mas mendapat kesempatan untuk menggarap 40 bus perintis yang harus diselesaikan dalam tempo tiga bulan. Tidak bisa molor. Tak boleh diambil separuhnya, harus 40 bus. “Kapasitas produksi kami tidak bisa untuk menyelesaikan 40 bus dalam tiga bulan, normalnya sampai enam bulan. Kami minta jumlahnya dikurangi, tidak bisa. Harus satu paket 40 bus itu karena dalam satu tahun anggaran,” urainya.
Mitra Indra kemudian menyarankan dirinya untuk membuka lokasi pabrik baru. Mitra tersebut juga menjanjikan akan membantunya untuk mencarikan order. Namun mendirikan pabrik baru pun tidak mudah. Ia harus mencari lahan luas dalam waktu singkat. Belum lagi dana yang dibutuhkan juga tidaklah sedikit. Dalam kondisi tersebut, tiba-tiba Indra mendapat tawaran tanah di lokasi Piala Mas sekarang ini, di Jalan Bodean Krajan No 9 RT 05 RW 01 Desa Toyomarto Kecamatan Singosari. Adalah Marketing Manager Araya YV Teguh Widjajanto yang mendatanginya dan menawarkan area tanah milik Araya tersebut.  
‘’Benar-benar pas. Saat butuh tanah, ada yang menawari. Tapi saya sampaikan ke Pak Yoyok (panggilan akrab YV Teguh Widjajanto, Red), saya tidak punya dana untuk membayar tanah tersebut sekaligus, hingga dikasih kesempatan untuk mengangsur sampai delapan kali,” ujar Indra mengenang.
Setelah akad jual beli, tanah tersebut langsung dialihnamakan ke Indra. “Saya sampaikan, wah apa nggak takut? Wong saya belum bayar lunas sudah dikasih sertifikat. Tapi Araya percaya saya. Saat sertifikat jadi, langsung dijadikan agunan untuk kredit modal usaha,” kisah Indra.
Saat pabrik baru sudah benar-benar jadi, mitra yang menjanjikan akan membantu mencarikan order memasuki masa pensiun. Padahal Indra sudah menaruh harapan besar kepada yang bersangkutan. Di masa ‘galau’ itu, tangan Tuhan kembali membantunya. Indra dipertemukan dengan petinggi perusahaan multinasional yang kemudian menggandeng Piala Mas untuk mengerjakan bus sekolah di Bandung.  
Momen itulah yang kemudian membuat Piala Mas bangkit kembali dan akhirnya lebih dikenal kalangan pemerintah. Sebelumnya, klien Indra lebih banyak dari kalangan swasta.  Tahun 2014, Piala Mas bersama perusahaan karoseri lain mendapatkan order untuk menggarap bus Kementerian Perhubungan. Program itu merupakan proyek besar Presiden Jokowi yang ingin memproduksi 3.000 bus untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia. Tapi proyek itu akhirnya tidak sampai tuntas hingga 3.000 bus.  

Ada Tuhan dalam Kebangkitan Bisnis
Kesempatan dan orderan yang datang bertubi-tubi itulah diyakini Indra sebagai pertolongan Tuhan. Semua adalah balasan karena selama menjalankan bisnis, ia selalu berusaha jujur kepada klien. Selain itu, Indra rutin berbagi kepada fakir miskin dan orang-orang tidak mampu.   
Ia selalu menyempatkan datang dan berbagi di Panti Asuhan Elim di kawasan Rampal. Berbagi sebagai rutinitas wajib ini merupakan ajaran dari orang tuanya. Bahwa hidup haruslah seimbang. "Kalau saya ke sana pagi tidak sempat ketemu dengan anak-anak panti karena mereka sudah berangkat sekolah. Kalau sore ya ketemu, dan kalau tidak bisa ke sana, saya titipkan (bantuan) ke istri," ujar Indra.
Secara batin ada kesenangan tersendiri bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan. Di sisi lain, dengan berbuat baik itulah, Indra mengamini bahwa Tuhan akan membantu setiap kesusahan yang ada. Ketika ada permasalahan yang menghampiri, Tuhan akan mengirimkan petunjuk untuk menyelesaikannya.
‘’Saya merasakan pertolongan Tuhan dalam bisnis saya. Rasanya semua terjadi dalam waktu yang pas. Tiba-tiba mengalami hal yang tidak saya duga, tapi kemudian diberi jalan untuk bangkit membesarkan bisnis. Itu yang membuat saya semakin sadar akan Tuhan. Menjalankan bisnis harus diyakini dan dijalani. Menerima apa yang diperoleh dengan rasa syukur, tidak lupa berdoa dan berbagi kepada fakir miskin dan mereka yang tidak mampu,’’ urainya.(lin/lim/han)



Kamis, 14 Nov 2019

Suka Pengalaman Baru

Kamis, 14 Nov 2019

Antara Pendidik dan Penyanyi

Loading...