MalangPost | Bersatu Lawan Covid-19

Minggu, 07 Juni 2020

  Mengikuti :


Bersatu Lawan Covid-19

Rabu, 01 Apr 2020, Dibaca : 549 Kali

HUT ke106 Kota Malang, Rabu (1/4) hari ini tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak ada perayaan. Semua rencana perayaan diubah jadi aksi melawan virus Corona. Itu karena Kota Malang dinyatakan zona merah  Covid-19.  Seluruhnya peduli, semua turun tangan.


Pemkot Malang tak sendirian. Semua elemen di Kota Pendidikan ini terlibat. Masing-masing melakukan  usaha sesuai kapasitasnya, bahkan lebih. Gotong royong warga tampak sejak kasus positif pertama mencuat.  Setiap hari aksi penyemprotan disinfektan, pembagian cairan disinfektan hingga berbagai upaya dilakukan. Tak sedikit warga yang berinisiatif secara swadaya.
Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji mengatakan kerjasama semua pihak sangat penting. Orang pertama di Pemkot Malang ini mengapresiasinya. Karena menurut dia, untuk mengakhiri rantai penyebaran virus Corona harus dilakukan secara bersama.
Salah satu aksi nyata yang dilakukan sejak awal yakni pembuatan bilik penyemprotan disinfektan oleh Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB). Namanya bilik Sikat Corona (SiCo).  


Hingga saat ini sudah ada sebanyak 15 unit yang dibuat dan didistribusikan ke tempat-tempat publik di Kota Malang.“Terakhir kami pasang di stasiun, terminal dan pasar,” jelas Sutiaji.
Tidak hanya itu, jalinan kerjasama juga dilakukan dengan akademisi. Di antaranya penyemprotan disinfektan menggunakan drone. Ini dikerjakan bersama dengan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).  


Bersama DPRD Kota Malang, tambahan anggaran pun atasi virus asal Wuhan, China itu dilakukan.  Secara bersama disepakati alokasi anggaran Rp 37,3 miliar yang disisihkan dari APBD 2020 Kota Malang untuk penanganan Covid-19.
“Pergeseran anggaran dihasilkan dari selisih pagu anggaran di PUPR (Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Pemukiman) dengan HPS (Harga Perkiraan Sendiri) disana bisa didapatkan tambahan anggaran,” jelasnya.


Anggaran itu dicairkan dalam pekan ini untuk peningkatan fasilitas kesehatan RSUD Kota Malang. Di antaranya melengkapi dan menambahkan alat pelindung diri (APD) hingga mencairkan dana bantuan sosial bagi warga terdampak.
Bantuan sosial untuk warga miskin, pekerja atau buruh harian, PKL, tukang ojek hingga penyandang disabilitas khususnya tuna netra yang sehari-hari bekerja memijat. “Sudah kami inventarisir mereka yang akan mendapatkan bantuan. Semua berdasarkan Diskopindag, Dinkes, dan Dinsos,” jelas Sutiaji.


Pelaku usaha pun bergandengan ikutperang melawan virus Corona. Melalui surat edaran, Pemkot Malang menetapkan aturan penutupan tempat hiburan, rekreasi, hingga wisata. Surat edaran juga meminta pelaku usaha pengelola swalayan dan pusat perbelanjaan diimbau tutup atau membatasi jam operasionalnya.
Setidaknya ada 10 perusahaan retail yang diminta membatasi jam operasionalnya. Kemudian 11 pusat perbelanjaan besar yang diimbau tutup. Semuanya terpantau mengikuti aturan pembatasan jam operasional.
 “Pembelian sembako juga kami batasi. Sudah dilakukan kita sosialisasi dengan pedagang-pedagang atau supplier sembako besar,” tegasnya.


Begitu juga dengan tokoh agama. Melalui Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) Kota Malang menyepakati beberapa hal. Yakni mengajak seluruh tokoh agama untuk tidak melakukan kegiatan agama yang mengundang banyak orang atau umatnya berkerumun sementara waktu.
“Kami minta pada seluruh pimpinan agama, tokoh agama untuk menjalankan imbauan sementara waktu ibadah apapun di rumah saja. Memang kita tidak bisa batasi, akan tetapi saya yakin semua sudah mau bekerjasama  dengan mekanismenya sendiri menjalankan imbauan ini,” papar mantan Wawali Kota Malang ini.


Tidak hanya itu kerjasama juga terjalin di antara jajaran samping yakni TNI seperti Kodim Kota Malang dan Polresta Malang Kota. Upaya menghentikan kerumunan massa hingga
memantau pergerakan warga luar maupun dalam kota dilakukan. Bahkan personel dan kendaraan Polri dan TNI digunakan dalam penyemprotan disinfektan.

 

Warga tidak diam. Tidak hanya menunggu dari Tim BPBD Kota Malang ataupun PMI Kota Malang menyemprotkan disinfektan.  Beberapa dari mereka bahkan membuat sistem pengamanan sendiri. Seperti yang dilakukan di Kampung Jodipan, Perumahan Bougenville Merjosari membuat sendiri alat disinfektan dan hand sanitizer.
Kepada masyarakat Kota Malang pun, gerakan Work From Home, Study Form Home dan Social Distancing terus dikumandangkan.  “Kami sudah minta bagi mereka yang bisa kerja di rumah diharapkan kerja saja di rumah. Dan terbukti sudah banyak yang melakukannya,” tandasnya. Selain itu warga pun diimbau tidak melakukan mudik sementara waktu ini sampai situasi benar-benar dinyatakan aman.


Meski begitu tidak lama lagi, Pemkot Malang akan melakukan rapid test. Kota Malang baru mendapatkan 420 bantuan alat rapid test dari Pemprov Jatim. Meski alat ini terbatas, akan tetapi akan digunakan secara maksimal bagi mereka yang dinyatakan ODP terlebih dahulu.
Alat ini masih akan diupayakan untuk ditambah. Salah satunya membeli sendiri menggunakan anggaran penanganan Covid-19 yang ada. “Insyallah nanti akan kita beli sendiri tambahannya. Tapi kita maksimalkan dulu 420 alat yang pertama ini dulu,” jelas Sutiaji.(*)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Redaksi