Bermula Buku Berakhir Telepon

Jumat, 05 Juni 2020

  Mengikuti :


Bermula Buku Berakhir Telepon

Sabtu, 04 Apr 2020, Dibaca : 4494 Kali

Buku setebal xiii + 123 halaman ini akan membawa pembaca mengarungi beragam hal sederhana dari kehidupan pribadi penulis.  Setyaningsih membuka kumpulan esainya dengan “Buku Buku (Wajib) Belajar,” sinisme bagi manusia usai wajib belajar, meninggalkan dunia ilmu pengetahuan, sinau tidak lagi dihiraukan. Manusia hanya akan sibuk pada urusannya masing-masing.

          Mungkin, hanya sebagian orang yang mengikuti perintah Rasulullah bahwa utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi, menuntut ilmu sejak buaian hingga liang lihat. Meskipun menuntut ilmu tidak melulu didapat dari membaca buku, namun yang terpenting di sini adalah membaca. Setyaningsih menuliskan wajib belajar Sembilan tahun atau dua belas tahun adalah jeda sebelum orang Indonesia sama sekali berhenti belajar, apalagi sejak awal tidak ada penguatan belajar adalah membaca.

          Setyaningsih lalu membawa pesan bagi kaumnya, para perempuan agar teringat romansa feminisme. Bahwa perempuan memiliki hak setara dengan laki-laki. Sedikit ia bawa pembaca untuk merawat ingatan tentang buku-buku berisi keterlibatan perempuan dalam pergerakan politik, ekonomi, pendidikan, emansipasi, pers, hingga peran sebagai istri pejabat. Narasinya ia sampaikan pada lima esai tentang ibu.

          Dalam ajaran agama apapun, ibu selalu memiliki kedudukan yang sakral. Ia tidak lantas berbicara ibu dari sudut pandang sebagai anak, sebab Setyaningsih sendiri jugalah seorang ibu. Memberikan representasi ibu sebagai teladan dari anak, ibu merupakan madrasah paling muasal dari seorang anak. Ibu juga sumber peradaban, sebagai lingkup semesta pembicaraan dari kumpulan esai Setyaningsih perihal perabadan, ibu sebagai muara peradaban. Saking mendalamnya, ia bahkan menuliskan perempuan tanpa memiliki anak dan menjadi seorang ibu, belum perempuan.

Setelah berbuku ibu, Setyaningsih menuliskan pengalaman tidak mengenakkan tentang kehilangan buku. Acap kali kehilangan buku menjadi hal yang menyakitkan, meskipun bisa dibeli kembali, tetapi kenangan serta kehangatan buku tidak bisa didapatkan kembali. Kehilangan buku semakin panjang dan selalu kalah dari ambisi mengejar kepemilikan komoditas hidup yang lebih legal untuk bertahan dalam histeria pergaulan sosial.

          Dalam kalimat yang ditulis Setyaningsih pada halaman 10 itu mengingatkan pada tulisan Bandung Mawardi pada bukunya berjudul berumah di Buku (Basabasi, 2018). Perbuatan menulis “catatan” juga memuat pamrih kecil agar pahala para penulis di masa lalu tak terputus.” Tujuan Setyaningsih membuat catatan kehilangan buku, agar ingatan tentang bukunya yang hilang tidak lenyap begitu saja. Meskipun, secara fisik bukunya tidak lagi nyata kenangan beserta segala hal tentang buku masih tersimpan dalam memori otak.

         

Telepon Genggam

          Berbicara telepon, ingatan pertama pada buku Joko Pinurbo berjudul “Telepon Genggam” (Grafika Mardi Yuana, 2003): Kabar dari seberang tak kunjung datang/ia pergi saja ke ranjang: tidur barangkali akan membuatnya sedikit tenang// Ia terbaring terlentang/ masih dengan kaos kaki dan jas yang dipakainya ke pesta/ dan telepon genggam tak pernah lepas dari cengkeram//Telepon genggam: surga kecil yang tak ingin ditinggalkan.

          Sejak Alexander Graham Bell menemukan telepon pertama kali, peradaban terkejut hingga berekspansi pada seluruh pelosok dunia. Lalu muncul Steve Jobs, bersama telepon genggam canggihnya Iphone, dunia kian bermaya-maya dalam nyata. Kemajuan telepon adalah kemajuan di saat orang orang takut merasa sepi dan sendiri, tulis Setyaningsih begitu saya mengamini. Manusia sulit terlepas dari cengkram barang kecil yang dapat membawa ke mana saja. Jika dahulu buku adalah jendela dunia, kini telepon genggam adalah pintu yang dapat membawa ke dunia manapun dengan sekali klik.

          30 esai yang ditulis Setyaningsih, akrab dipanggil Set oleh Bandung Mawardi dalam tulisan kata pengantar akan membawa pembaca dari buku hingga telepon genggam, Set kaya akan buku. Kutipan-kutipan kecil dari buku yang ia baca begitu mengesankan, beragam tema dari cerita anak hingga persoalan ekologi. Begitulah cara Set menghimpun tulisannya, jika bagi kebanyakan orang menulis masih cukup menjadi beban, bagi Setyaningsih menulis adalah tempat merawat kenangan.

          Meskipun kini, buku bukan lagi sumber rujukan utama. Pepatah bahwa “buku adalah jendela dunia” barangkali hanya menjadi mitos belaka. Sebab buku sudah berganti kecanggihan fitur telepon genggam yang menawarkan kecepatan dan segala serba instan.(*) 

Peresensi: Muhammad Afnani Alifian, Mahasiswa Universitas Islam Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Muhammad Afnani