Malang Post - Berburu Manisnya Kue Keranjang

Senin, 30 Maret 2020

  Mengikuti :


Berburu Manisnya Kue Keranjang

Kamis, 16 Jan 2020

MANIS: Salah satu toko di Pasar Besar Kota Malang ini menyediakan kue khas perayaan tahun baru Imlek.

MALANG - Perayaan tahun baru Imlek bagi etnis Tionghoa tak lengkap jika tidak menyajikan kue keranjang. Kue yang terbuat dari tepung ketan, gula aren, santan, dan sejumlah bahan lain ini disebut akan mendatangkan kemakmuran bagi keluarga yang menikmatinya pada momen tahun baru Imlek.
Di Kota Malang, ternyata tak banyak tempat atau toko yang menghadirkan atau menjual kue keranjang. Namun ada salah satu toko di bagian timur Pasar Besar Kota Malang yang menjual berbagai jenis kue keranjang, bagi mereka yang merayakan tahun baru Imlek.
Toko Susana namanya. Di luar momen jelang tahun Imlek, toko ini hanya menyediakan bahan-bahan kebutuhan pokok. Namun mendekati tahun baru Imlek, toko ini menghadirkan berbagai manisan, pernak-pernik, dan juga kue keranjang yang biasanya ramai dicari oleh masyarakat etnis Tionghoa.
"Kalau di sini menyediakan manisan atau kue keranjang itu ya pas momen Imlek saja. Kalau di luar itu kita hanya jual kebutuhan pokok saja," kata pemilik toko, Sony Ang pada Malang Post.
Tokonya sendiri ternyata tidak hanya menjual beragam manisan dan kue keranjang. Tapi juga berbagai pernak-pernik kebutuhan perayaan tahun baru Imlek. Seperti angpao, dupa, lilin, sampai dengan pernak-pernik hiasan khas etnis Tionghoa. Untuk manisan dan kue keranjang yang dijual dibanderol cukup terjangkau.
"Kalau manisan sama permen per kotaknya ada yang Rp 40 ribu, kalau kue keranjang harganya mulai dari Rp 12 ribu ukuran paling kecil," lanjut dia.
Menurutnya, untuk manisan kebanyakan didatangkan dari Malaysia. Sedang untuk kue keranjang ada yang didatangkan dari Tegal. Karena di Kota Malang sendiri sangat jarang ada yang membuat atau memproduksi kue keranjang. Jadi dominan kue keranjang memang dari luar daerah.
"Ada juga salah satu merek buatan orang Malang, tapi aslinya orang Medan. Saya tidak tahu juga tempat dia dimana, karena kuenya diantar ke toko kita," sebutnya.
Lebih lanjut disampaikannya bahwa tokonya sudah berdiri sejak 50 tahun lalu, dan selalu ambil bagian dalam momen perayaan tahun baru etnis Tionghoa ini. "Barangnya datang dua minggu lalu, tapi mulai meningkat pembelinya baru sekitar satu minggu lalu," ungkapnya.
Tahun ini, penjualan untuk kue maupun pernak-pernik Imlek disebutnya mengalami penurunan. Jika tahun lalu pembeli mulai ramai pada kurun waktu sebulan sebelum momen Imlek. Tahun ini, peningkatan penjualannya baru terlihat seminggu yang lalu, atau sekitar dua minggu sebelum perayaan tahun baru Imlek. "Mungkin turun itu banyak penjualnya (online), kalau kita tidak jual online. Atau mungkin ada faktor kondisi ekonomi juga," terangnya.
Jika berkaca pada tahun sebelumnya, perkiraan puncak penjualan kue atau pun pernak-pernik tahun baru Imlek adalah pada H-3. Karena pada tahun sebelumnya, H-3 tahun baru Imlek tokonya mampu menjual kue keranjang sampai dengan 50 biji dalam sehari.
"Ramai-ramainya H-3, kalau H-1 rata-rata mereka sudah sibuk sendiri. Di Malang ini lumayan bagus, tradisinya masih terus menurun. Jadi yang beli itu banyak keluarga muda juga, tidak cuma orang-orang tua," tandas dia.(asa/lim)

Editor : halim
Penulis : asa

  Berita Lainnya





Loading...