Malang Post - Berawal Jadi Kepala Desa Tunjungtirto

Rabu, 08 April 2020

  Mengikuti :


Berawal Jadi Kepala Desa Tunjungtirto

Senin, 04 Nov 2019

KONSISTENSI, selalu belajar, dan menjalin hubungan (networking). Tiga prinsip itulah yang selalu dipegang teguh oleh Ketua DPRD Kabupaten Malang, Drs H Didik Gatot Subroto SH, MH. Dia mengaku jika apa yang diraihnya saat ini bukan datang secara tiba-tiba. Tapi ada proses yang harus dilalui. Hal ini diungkapkan Didik kepada tim redaksi Malang Post, saat berkunjung ke rumahnya, Kamis (31/10) lalu.
Pria 50 tahun ini menceritakan, memulai karir dari bawah, yaitu menjadi Kepala Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang pada 1997 lalu. Saat itu usia Didik, baru 28 tahun. Masih sangat muda. Namun dia memiliki semangat untuk mengabdi, dan ingin membangun desanya.
Berbekal pengalaman organisasi, dan dukungan dari banyak kawan, Didik muda pun, mendaftar sebagai calon kepala desa. “Tiba-tiba saja terpanggil untuk mengikuti bursa Pilkades Tunjungtirto. Apalagi banyak orang yang memberikan dukungan. Sehingga saya mendaftar,’’ katanya.
Singkat cerita, pria kelahiran tahun 1969 ini berhasil mendapatkan suara terbanyak dan memenangkan Pilkades saat itu. Bisa dikatakan, tahun itu dia adalah kepala desa termuda, karena menjabat sebagai kepala desa di usia 28 tahun.
Setelah dilantik, alumni Jurusan Kesejahteraan Sosial, Fakultas  Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini pun langsung bekerja. Dia merealisasikan janjinya, yaitu mengabdi kepada masyarakat. Tapi sebelumnya, dia lebih dulu berbenah. Terutama dalam hal tata kelola pemerintahan. Tujuannya jelas,agar sistem tata kelola pemerintahan yang dipimpinnya bagus, serta seluruh program yang sudah direncanakkan berjalan.
Bapak dua anak ini tidak gengsi. Dia juga tidak sungkan, saat memimpin desa, meskipun saat itu usia para perangkat desa jauh di atasnya. “Karena untuk perbaikan sistem, tidak boleh lembek. Harus tegas. Sistem inilah yang kemudian menjadi acuan untuk organisasi pemerintahan, berjalan,’’ ujarnya.
“Jadi saat saya menjabat kali memang canggung. Apalagi secara latar belakang saya tidak memiliki riwayat duduk di bangku pemerintahan. Sehingga pertama melaksanakan tugas, Didik terlihat canggung. Tapi beruntung, Didik memiliki semangat tinggi untuk belajar. Sehingga dalam waktu tidak terlampau lama, dia memahami managemen pemerintahan desanya. Terbukti dia mengantarkan Desa Tunjungtirto sebagai desa perkotaan yang maju. “Dua tahun saya menjabat kepala desa, Alhamdulillah, Desa Tunjungtirto ini lebih maju.  Jalan yang dulunya hanya tanah kemudian diaspal. Saya juga membangun sistem pelayanan,’’ katanya.
Selain itu dia juga membangun kantor desa dengan model kelurahan. “Saya juga menerapkan aturan ketat untuk pelayanan. Karena ini model perkotaan, maka tidak ada warga yang datang hanya menggunakan sandal jepit,’’ ungkapnya.
Seiring dengan kepemimpinannya saat itu, dia juga sukses, dengan Pajak Bumi dan Bangunannya (PBB). Bahkan, dia menjabat, desanya pun lunas PBB. “Desa ini menjadi ujung tombak PBB. Tapi kenyataannya menjadi ujung tombok. Karena saat itu, jika ada wajib pajak yang tidak dapat melunasi maka desa  yang wajib melunasi,’’ ungkapnya.

   Baca juga : Unisma Serius Layani Mahasiswa Berkebutuhan Khusus


Dan hal ini juga ditentang oleh Didik. Menurut dia, PBB merupakan tanggung jawab daerah. “Kalaupun desa dilibatkan, dalam pemungutan PBB, itu sifatnya membantu. Tapi Alhamdulillah, dari metode yang kami lakukan, Desa Tunjungtirto, selalu lunas PBB,’’ungkap Didik.
Dan yang dilakukannya saat itu tak lain karena dia mau belajar. Dia tidak segan bertanya kepada orang lain.
“Belajar itu tidak semuannya harus ke sekolah, atau membaca buku. Tapi juga bisa dari teman, atau orang lain. Intinya jangan malu, belajar,’’ kata Didik.
Belajar itu pun tetap dilakukannya sampai dengan sekarang. Terlebih dengan posisinya saat ini sebagai Ketua DPRD Kabupaten Malang. Dimana menurut dia jabatannya, sejajar dengan kepala daerah. Untuk pembangunan Kabupaten Malang yang lebih baik dan maju,  maka dia harus memiliki kerangka berpikir yang sama dengan kepala daerah. “Agar match. Sehingga saat berbicara pembangunan, maka eksekutif maupun legislative, pun tidak berseberangan jalan, dan saling mendukung satu dengan yang lainnya.
“Kerangka berpikir itu siapa yang buat, adalah diri sendiri. Kerangka berpikir inilah yang harus disamakan,’’ ungkap mantan wakil Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Singosari.
Untuk mengetahui kerangka berpikir, dikatakan Didik harus sering ngobrol baik itu dengan kepala daerah ataupun kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menjadi pelaksana program pembangunan. “Saat ngobrol inilah, kemudian diselipi program-program. Alhamdulillah, semuanya berjalan,’’ ungkapnya.
Dia sendiri menyadari, tidak semua anggota DPRD Kabupaten Malang memiliki kemampuan yang sama. Bahkan, banyak juga anggota DPRD yang takut kepada media. Dia pun tidak mau tinggal diam untuk itu. “Menjadi wakil rakyat ini harus berani bersuara. Jangan diam,’’ ungkap Didik.
Dia juga mengatakan, jika sejak awal berkarir, sampai dengan saat ini tetap konsisten. Karena menurut dia, sesuatu jika dilakukan secara konsisten hasilnya pasti baik. (ira/udi)

Editor : udi
Penulis : ira

  Berita Lainnya





Loading...