Belajar Kultur Dan Budaya Malang Raya | Malang Post

Minggu, 15 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Jumat, 30 Agu 2019, dibaca : 568 , Udi, Imam

MALANG - Selama di SMK Nasional, siswa Kolej Vocational Seri Manjung Malaysia tidak hanya belajar akademik saja. Mereka juga menggunakan waktu yang ada untuk belajar banyak tentang kultur dan budaya. Baik di bidang seni, kuliner maupun adat istiadat yang ada di Malang Raya.  
Selama 20 hari di Malang, kesempatan mereka belajar budaya hanya Hari Sabtu dan Minggu. Termasuk objek wisata, sejarah maupun budaya modern yang ada di Malang. Kepala SMK Nasional Drs. Muhammad Taufik, M.Pd., mengatakan, pengenalan kultur dan budaya dinilai penting karena bagian dari pendidikan.
Dengan mengenal budaya Malang diharapkan hubungan antara SMK Nasional dengan sekolah di Malaysia semakin baik. "Termasuk hubungan antara negara dimana masa depan bangsa ada di tangan mereka kelak," ujarnya.
Hari Minggu lalu, guru dan para pelajar Malaysia ini diajak berwisata ke Bromo. Sebuah destinasi wisata kebanggan Jawa timur yang memukau dunia. Dan yang tak kalah menarik, mereka juga diikutkan karnaval kendaraan hias dan bergabung dengan tim utusan SMK Nasional. Kesempatan tersebut dijadikan momentum untuk mengenal seni dan budaya Malang saat merayakan HUT ke-74 Kemerdekaan RI.
Taufik menuturkan, kerja sama yang dibangun oleh SMK Nasional dan Kolej Vocational Seri Manjung dimulai dari kesepakatan bersama kedua belah pihak yang dituangkan dalam MoU. Kesepakatan tersebut dijalin pada Agustus 2018 lalu. "Mulai saat itu kami mulai berkomunikasi melalui email dan kontak telepon, untuk membicarakan kerja sama ini," ujarnya.
Ia mengungkapkan, manfaat kerja sama tersebut tidak lain untuk siswa-siswi sendiri. Guru SMK Nasional ingin memberikan yang terbaik bagi anak didiknya. Salah satunya membekali siswa dengan banyak kompetensi dan nilai-nilai yang bermanfaat saat berada di masyarakat. "Terutama saat mereka masuk dunia kerja maupun ke perguruan tinggi," katanya.
Di era revolusi industri 4.0, siswa SMK Nasional harus berada di barisan depan. Oleh karena itu dibutuhkan akselerasi knowledge berupa transfer wawasan teknologi dan sains. "Di zaman globalisasi ini anak-anak harus tahu wawasan dan referensi dunia internasional. Maka jawabannya adalah pertukaran pelajar ini," terangnya.
Melalui program pertukaran pelajar, kedua lembaga bisa sharing dan saling tukar ide. Sebab masing-masing lembaga memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga bisa saling melengkapi. "Minimal kami didik dengan budaya dan kultur yang hampir mirip dengan kita, seperti Malaysia. Berikutnya akan kita kembangkan ke Thailand dan Singapore," paparnya.
Ia menambahkan yang paling utama tujuan kerja sama tersebut adalah untuk membekali siswa dengan pendidikan karakter. Salah satunya melalui komunikasi dengan dunia internasional. "Untuk menunjang keterampilan bahasa Inggris kami juga ada guru bahasa Inggris dari portugal sebagai native speaker. Harapannya, anak-anak kami mampu menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa internasional," pungkasnya. (imm/udi)



Loading...